SANG SETAN, Bagian 9



Hari itu minggu pagi, 
Baru lepas pukul sembilan ketika Abdillah urung meninggalkan rumah karena berpapasan dengan seorang kawan yang tetiba muncul di halaman. Kawan yang merupakan kakak satu tingkat disekolah siang mereka, yang mana dia ini adalah anak salah seorang tetua desa yang cukup berada.

Sebelum ini, keduanya hanya akrab sekedarnya saja, sebatas saling sapa.

 
"NUEL ?? Tumben main tempatku?" Sapa Abdillah dengan ekspresi terkejut ditandai oleh garis-garis kerutan yang seketika muncul didahinya.

"Iya, ada yang ingin aku sampaikan. Tapi sebelumnya kuucapkan selamat dulu ya, hehe...".
Lelaki yang oleh Abdillah disapa Nuel tersebut segera menawarkan untuk berjabatan yang meski agak ragu segera disambut oleh Abdillah. Lalu dengan tangan masih bersalaman dan gayanya yang tengil-cengengesan Nuel menarik Abdillah dan membawanya duduk dibawah rimbun pohon mangga disamping rumah.
 
"Ada apa? Serius aku penasaran dengan apa yang membawamu tiba-tiba kerumahku, ini persis kalau kata orang jawa; 'njanur gunung' namanya".
"Hehehe.... Semalam aku ngapel ke rumah Ar-rahma," 
 
"Hmm... iya, lalu?" 
Abdullah cukup kaget juga sebenarnya tetiba harus mendengar ucapan itu, bertemu seseorang yang biasanya tak akrab dan tahu-tahu mereka harus berbicara tentang Ar-rahma. Namun ia berusaha bersikap sewajarnya; menyembunyikan keheranannya tersebut.
 
"Dan brengseknya dia hanya membicarakan dirimu,".
"Ar-rahma ngomongin aku....? Memangnya kalian bicara apa?"
Abdillah tertegun sekilas,
"Kamu yakin dia menyebutku?? ".
 
"Ya, tidak secara jelas memang, tapi aku yakin itu tentangmu. Dia memuji-muji dirimu, memamerkan karya-karyamu... Lukisan-lukisan dirinya... Hahaha... taikk!".
"Ng... enggak kok, aku justru kurang faham omonganmu, Nuel," 
Abdillah gelagapan, berlagak pilon dia mencoba bertahan, sebab ia belum yakin; Nuel memang sudah tahu atau hanya sedang mencari tahu.

"Haish! Kamu gak usah bohong, disini yang bisa ngelukis kan hanya kamu,"
"Bisa saja itu karya temannya yang di kota". Sanggah Abdillah.
 
"Halah, kau ini... Rupanya pintar ngeles juga ya, hahaha bangsyat... Kalian pacaran kan?!" Ucap Nuel dengan mata mendelik tajam.
"Dasar wiro sableng! Kau yang ngapel ke dia, kok tanya begitu ke aku... Selain lebaran, satu kalipun aku malah belum pernah main kerumahnya".

Nuel tertawa lebar. Dengan tidak mengatakan secara terang benderang, ia mungkin memang sedang menyelidik, seperti dugaan Abdillah. Hanya saja, sikapnya yang terus melemparkan kalimat-kalimat yang seperti sekedar tuduhan tersebut, justru membuat Abdillah malah ikut saja berusaha berkelit dengan bahasa diplomasi yang berbelit. Si bocah juga tak ingin jujur, takut salah karena dia memang tak benar-benar tahu pembicaraan macam apa yang semalam terjadi antara Nuel dengan Ar-rahma. Dan diwarnai oleh tingkah Nuel yang kocak cengengesan, debat tengil itupun terus berlanjut hingga hampir siang tanpa menghasilkan pemenang.

***

Ruangan tersebut tak terlalu terang tapi tidak juga terkesan gelap. 
Ini adalah malam ketiga sejak minggu pagi yang lalu ketika Abdillah bertemu Nuel dan mereka terlibat dalam pembicaraan konyol yang intens.

Abdillah masih diselimuti oleh aura ketegangan, meski seiring waktu kegugupan itu telah semakin mencair oleh sikap lembut dan hangat dari Ar-rahma yang secara berkala tanpa ragu melemparkan senyum-senyum manisnya kepada sang bocah. Dimulai tadi ketika Ar-rahma menyambut dengan senyuman madu tepat didepan pintu hingga membawanya masuk kebagian tengah rumah besar keluarga Nasir tersebut.

Keduanya duduk berhadapan disepasang tempat duduk yang terletak disudut ruangan, cukup dekat. Hanya dipisahkan oleh setumpuk buku dan sebuah lilin yang menyala cerah di atas meja.
 

Tak jauh dari mereka adalah ruang tv keluarga Nasir yang saat itu dipenuhi oleh jejeran karib keluarga Ar-rahma. Tuan Nasir, pakde, bude, embah, dan keponakan-keponakan sang dara yang lengkap disana. Mereka semua memang fokus pada tayangan televisi, namun Abdillah merasa itu semua seperti sedang mempelototi dirinya. Mengingatkannya pada sebuah scene dalam lagu Ningrat milik Jamrud. Berkisah tentang seorang pria biasa yang ketika ber-anjang sana kerumah sang pacar, namun disitu ia dikerubuti oleh seluruh keluarga besar sang kekasih. Ada emak, bapak, embah, bude, pakde, lengkap sampai keponakan-keponakan, kecuali keris.
Beruntungnya, disini tidak ada anggota keluarga yang doyan ceramah dan bertanya soal silsilah atau golongan darah seperti dalam Ningrat-nya jamrud itu. Seluruh keluarga Ar-rahma kalem saja malah terkesan tak peduli dengan keberadaan kedua muda-mudi.
 
"Tole, lha kowe kuwi siapa ?! Kok wani-wani arep macari anakku. Lhah piye toh! Wis badane kurus, pakaianmu ora karuan...., malah uripmu ra gablek pisan.... dasar wong edyan!!".

"Tenang saja, mereka engga nggigit kok,"
Satu suara pelan yang terdengar tiba-tiba segera membuyarkan lamunan Abdillah yang mengerikan. Sebuah suara yang segera mengikat pandangan mata kembali tertaut pada Ar-rahma yang masih berlagak sibuk dengan berbagai tugas belajarnya. Pandangan mata beruang kelaparan yang seperti siap memangsa habis, seluruh diri sang gadis.

Ar-rahma yang sebenarnya menyadari kelakuan Abdillah tersebut, masih saja hanya bersikap biasa dengan sinar mata teduhnya - seolah cuek ia tak sedikitpun menyiratkan rasa keberatan.

"Ini pertama kalinya aku masuk rumahmu selain saat lebaran".
"Iya, lalu kenapa?"
"Aku guguplah... Kau tahu, butuh tiga hari aku mengumpulkan keberanian hanya untuk malam ini, dan lihatlah.... situasinya malah seperti sekarang, kita dikerumuni banyak orang".
A-r-rahma mengulum senyum mendengar keluguan Abdillah. Ia melirik sekilas lalu kembali sibuk menorehkan tinta pada lembar pelajarannya.
"Disini enak, tenang gak ada yang ganggu. Kalau didepan kita pasti akan kedatangan tamu,". Sahutnya, masih dengan ekspresi yang seolah tak peduli.

"Ehmm... begitu ya... Ohya, kamu sibuk sekali dari tadi, ngerjain apa?"
"Math,"
"Keren. Kudengar kamu sangat jago soal itu, Ar-rahma..."
"Tak sejago kamu yang kabarnya sering rangking satu".
"Hah... itu hanya isyu".
Gantian kini Abdillah yang tersipu. Diotaknya pujian itu begitu menawan walau tak terlalu benar, sebab ia tak sering rangking satu dan samasekali tak jago matematika. Celingukan ia edarkan pandangan keseluruh ruangan sebelum mata nakal tersebut kembali lagi tertambat pada anggunnya sosok Ar-rahma yang malam itu begitu jelita dalam balutan kebaya serta jilbab berwarna ungu muda.

"Hey, ceritakanlah sedikit saja tentang kesibukanmu dikota....".
Kata Abdillah kemudian setelah hening hampir semenit. Dan Ar-rahma menanggapi dengan ramah belaka; membawa keduanya kini kian larut dalam pembicaraan yang akrab meski tanpa makna. Ngalor-ngidul, dari barat ke timur, hingga waktu malam terus beranjak tak terhadang, mengingatkan Abdillah untuk segera hengkang dari hadapan sang dewi yang lebih satu jam ini telah menimbun dirinya dengan bergunung-gunung kenikmatan surgawi. 
 
Percik bahagia yang bertubi-tubi seperti derasnya hujan dikala monsoon.

***

Tengah malam baru berlalu satu jam yang lalu. 
Abdillah memasuki remangnya kamar yang hanya diterangi sebuah lampu dimar kecil disudut meja, dan segera menghempaskan badan ke pembaringan. Penat keringat menyergap diri setelah beberapa saat yang lalu bersama setan ia berjalan menyusuri gerahnya udara malam serta gelap sunyi di Desa Kecil guna menepati sebuah janji yang pernah ia ucapkan beberapa musim kemarin.
Mencium Bumi di dua tempat dimana ia sering memikirkan Ar-rahma;
yakni dihalaman Masjid Cahaya dan diperempatan jalan didekat rumahnya.

Abdillah merasa, musim ini adalah saat yang tepat.

Waktu berputar. 
Jam kecil di meja kamar Abdillah telah menunjuk nyaris pukul setengah dua dinihari. Setan yang telah mewujud dikamar itu berjalan berjingkat-jingkat mengelilingi Abdillah yang kini sedang bersiap dengan tahajudnya. Sebuah kebiasaan yang lumayan rutin ia lakukan sejak bertahun yang lalu. Ia merasa, dalam puncak kesunyian seperti pada waktu-waktu ini, dirinya benar-benar mampu menikmati setiap yang dikatakan sebagai ketenangan jiwa, dalamnya rasa syukur, kedekatan dengan Tuhan dan betapa syahdunya memikirkan Ar-rahma yang mungkin sedang terlelap diranjangnya.


"Aku tak peduli apakah berguna yang kulakukan tadi. Tapi setan, aku ingin engkau bersaksi kepada Langit bahwa aku telah menepati janji,".
"Ya tuan, aku bersaksi anda adalah seorang menepati janji. Dan kuucapkan selamat, malam ini anda juga telah maju selangkah lagi, dengan ber-anjangsana kerumah Ar-rahma".

"Iya aku bahagia. Meski hanya disuruh menemani dia belajar...".
 
"Ckkkhhh...! Menurutku itu malah istimewa tuan. Dia tidak menemuimu di ruang tamu dengan obrolan yang kaku. Dia membawamu ke-dalam, ke-meja belajarnya, kulihat tadi Ar-rahma begitu rileks, itu sebuah tanda bahwa dia nyaman dengan anda".
 
"Dia itu asyik dengan urusannya sendiri,"
 
"Itu karena dia juga tak tahu apa lagi yang mesti dilakukan. Aku yakin anda juga melihat dia salah tingkah. Namun yang terpenting, rasakanlah setiap senyumannya, itu sungguh menggambarkan perasaan tulus dan kenyamanan".
 
"Iya, semoga benar yang kamu katakan, setan". 
"Kkkhhh....! Tapi kenapa tak bercerita bahwa anda akan menemuinya... Tadi itu sepanjang jalan aku mengikutimu hanya menduga-duga; tuan mau kemana...?".
 
"Suatu tujuan yang dibicarakan diawal biasanya tak terwujud. Bagiku ini sangat penting; sebab aku kesana untuk meyakinkan niat dan membuktikan ucapan Nuel. Katanya Ar-rahma berbicara tentang aku pada dia dalam nada yang positif. Aku ragu Ar-rahma  telah sejauh itu; tanpa malu berbicara sisi baikku kepada cowok lain, atau... tadinya aku merasa ini hanya sekedar caranya untuk mementahkan Nuel,".

"Dan terbukti bahwa dia memang sebaik itu, terlepas apapun motivasinya, kkkkkhhh.....".

"Iya aku bersyukur dan berterimakasih dia sebaik itu. Hanya saja... tahukah kamu bahwa kesenangan saat ini terlalu memabukkanku, setan. Aku jadi teramat takut dengan datangnya yang paling buruk. Katamu yang terburuk selalu akan datang dalam garis ini".

"Ckhh!! Benar tuan, tapi ingatlah saja saat-saat yang baik dengannya, sebab seringkali; yang kita fikirkan… itulah yang terjadi. Tak penting kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum berlaku. Kewajiban kita hanya terus berusaha, karna itulah inti dari hidup. Yang terjadi pasti akan terjadi, biarkan saja terjadi. Aku meyakini dia akan mengasihimu. Diantara keangkuhan serta ego dirinya yang besar, pada akhirnya tetap kebaikan hatinya-lah yang akan menang".


Abdillah beringsut dan kembali duduk tertunduk. Hingga lebih semenit ia terdiam dengan tatapan matanya yang tajam menghujam seperti hendak menembus kekedalaman bumi. Sebelum kemudian perlahan ia menoleh ke setan,
 
"Baiklah teman, terimakasih engkau selalu peduli. Dan aku akan berusaha meyakini setiap kebaikan lisan yang kamu ucapkan. Tapi sekarang aku punya sebuah permohonan yang ku ingin engkau wujudkan".
"katakan saja tuan, apa itu?"
"Lain kali, setiap aku sedang dengan keperluanku yang ini, aku ingin kamu tidak disini. Pergilah kemana saja; barangkali kamu juga butuh beristirahat atau kalau perlu datangilah para agamawan itu, bisiki hati mereka agar berhenti membenci. Maksudku, disaat aku ingin sendiri begini, itu artinya aku memang sedang tidak menginginkan siapapun".

"Ckkkkhhhh!!!! Baiklah tuan, itu dikabulkan...".
Setan menepuk bahu Abdillah seiring sosoknya yang seketika pecah, hancur berhambur dan menghilang kesemua arah.
 
***

"Ar-rahma..., seperti kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi... malam ini betapa sangat bahagianya aku, kamu tahu kenapa?"

Abdullah bertanya pada si jelita, lirih; pada malam berikutnya saat mereka pulang bersama setelah pelajaran agama di masjid cahaya. 

 
"Kenapa bahagia? Memangnya aku tahu...?"
Ar-rahma melirik Abdillah sekilas. Dengan membuat cara bicaranya yang seperti ketus, ia seolah coba memancing pembicaraan lebih jauh.
"Ya seperti disaat ini, menjalani malam bersamamu..."
"Kenapa mesti bahagia?" Tanya Ar-rahma
"Entahlah, kupikir kamu tahu sebabnya..."

Ar-rahma terdiam dalam ketertundukan dibalik kibaran jilbab yang beberapa kali menyembunyikan wajahnya, membuat mereka terbenam dalam keremangan yang mewarnai langkah-langkah.

"Apa mungkin karena saat-saat seperti ini...? menjalani malam bersamaku..."
Katanya kemudian sambil mengulum senyum - menyembunyikannya dari si bocah Abdillah
 
Garing! Abdillah membatin,

"Siang hari jadi lebih terang dari biasanya... sedang malamnya jauh lebih gelap dari yang aku inginkan,"
"Seperti itukah bahagiamu? Aku sungguh tak melihat bagian nikmatnya..." Sergah Ar-rahma...
"Kamu merasa begitu?"
"Menurutku begitu..."


"Pagi, siang... sore... petang, tengah malam... dini hari, aku selalu teringat tentang engkau... Kapanpun! dan itu sungguh membuatku bahagia, meski dalam pekerjaan yang tak menyenangkan, meski dalam kesengsaraan saat terjaga dimalam hari".
Abdillah menyeloteh, terdengar mirip bagai orang meracau...

"Kalau begitu kamu ngga pernah rehat dong, Alangkah sibuknya...."
Ar-rahma menukas, menahan tawanya sendiri...
"Tidur...., tapi hanya sebentar... sesekali".
"Masa?!"
"Sungguh. Terutama dalam bekerja, karena engkau semangatku menggila. Sampai ngga sadar, telapak tangan jadi pecah semua..."
Ia hadapkan telapak tangannya pada sang dara yang hanya menoleh ogah-ogahan.

"Ehmm... kalau itu sama,"
"Maksudmu?"
"Telapak tanganku juga kasar kok",
"Ah, mana mungkin kamu bekerja sampai seberat itu Ar-rahma..."
"Kalau ga percaya nih lihat sendiri... Rasailah,"
Ar-rahma menyodorkan tangan kanannya pada Abdillah, membuat si bocah mendadak menjadi canggung dan bingung sendiri.

"Peganglah..,"
Kata Ar-rahma lagi, setengah memaksa.
 
Abdillah memberanikan diri. Dengan perasaan gentar dan bergetar ia raih telapak tangan sang dara jelita dan digenggammya erat bagian yang telah bertahun-tahun menjadi salah satu simbol kerinduan itu.
Singkat sekali. Mungkin cuma tiga atau lima detik.
Namun detik-detik tersebut cukuplah membuat bahagia Abdillah meluap membahana, berimbas pada menggigilnya tubuh kurus bocah tersebut yang jadi sedingin es.

"Lembut... seperti tangan bidadari," Kata Abdillah kemudian...
"Bohong. Memangnya kapan kamu pegang tangan bidadari...?"
"Baru saja,"

Sebuah jawaban polos terucap begitu saja membuat Ar-rahma binti Nasir tersipu dan kembali mengulum senyum. Tapi kali ini ia tak sempat menyembunyikannya dari Abdillah. 
Walau sekilas, bocah bodoh itu masih beruntung menikmati manisnya seiring jalan, bersama sunyi yang mengiring masa demi masa, membuai dua remaja hanyut kedalam perasaan masing-masing yang tak terbaca.

Hingga tanpa sadar akhirnya mereka tiba diujung perjalanan - Abdillah terengah menyadari raganya kini telah berada dihadapan tembok besar rumah keluarga Nasir yang gagah bagai benteng.
 

"Sampai ketemu,"
Kata Ar-rahma menyudahi kebersamaan tersebut. Lalu dengan diliputi sedikit keraguan ia melangkah memasuki halaman rumahnya - meninggalkan Abdillah yang masih terpaku dalam beberapa saat.

Menit bergeser pelan sekali, seperti takut menjadi saksi dari perpisahan yang tanpa pesta dan upacara tersebut. Di Desa Kecil, malam itu sunyi menjadi payung selimut saat udara dingin mengiringi langkah kaki sibocah Abdillah yang berjalan pulang seperti terbang; melayang bersama angin syurga yang berwujud Ar-rahma disisinya. Ada senyum membahana, dibawah sinaran berjuta cahaya bintang kebahagiaan di langit.

***

Malam belum larut, mungkin baru sepuluh menit Abdillah duduk sendiri di jembatan dekat rumahnya setelah kebersamaan dengan Ar-rahma barusan. Diwaktu ini kekosongan jiwa tiba-tiba merayap - menyergap kesadarannya. Disaat demikian, ia sebenarnya ingin sekali segera membagi ceritanya tadi - saat bergetar menggenggam tangan Ar-rahma kepada karib-karib setianya. Tapi Soleha, Ibnu Sidik dan setan; sekarang entah dimana.


"Hey..., kenapa sendirian? Masih memikirkan aku ya...?"
Tiba-tiba satu suara lembut datang dari ujung jalan bersama dengan tampilnya sesosok tubuh ramping yang melangkah mendekat. Abdillah terkesima. Itu adalah suara yang telah bertahun-tahun ini begitu akrab ditelinganya. Dan ia masih melongo tak percaya hingga benar-benar mengenali siapa yang sekarang telah berdiri didepannya;

Seseorang yang sangat ia rindukan.


"Ar-rahma....??"
"Ya, ini aku. Kenapa...? Kamu seperti takut sekali,"
Ucap sang dara sembari tersenyum tipis. Berdiri menantang ia kini telah begitu dekat dengan Abdillah yang tampak tergopoh menyambut kedatangannya. Dan meski remang, Abdillah tetap bisa jelas menikmati ekspresi pesona keanggunan gadis itu, terutama pada seraut wajah cantik berbalut jilbab; satu kemewahan yang selalu mampu membuat si bodoh lembab berkeringat.

"Ah tidak, Aku hanya terkejut.... Malam-malam begini, tak kusangka kamu berani sekali".
"Keberanian ini muncul karna kerinduanku pada engkau,". Sahut Ar-rahma sembari mengerling manja.
"Maksudmu... kamu juga pernah merindukan aku?"
Abdillah memandang penuh keseriusan... Dalam beberapa detik, tatapan matanya tak lepas dari wajah gadis itu.
 
"Ehem... seperti malam ini,"
Ar-rahma mengangguk kecil tanpa lupa diiringi senyum khas, melirik Abdillah yang segera membalas...

Untuk sesaat keduanya saling pandang, tersenyum... diam menunduk... saling memandang lagi dan tersenyum lagi. Seperti itu.

"Ah, ceritakanlah,... dalam hidupmu sekarang apa yang paling kamu inginkan ?"
Tanya Ar-rahma kemudian - mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba beku membisu.
 
"Tidak ada,"
Singkat jawaban Abdillah, matanya menyala ke wajah Ar-rahma yang seperti ingin ditelannya.
 
"Masa', aku tak percaya.."
"Sumpah! tidak ada lagi,"
 "Kenapa?"
"Karena aku sudah bersama engkau".

Ar-rahma tersipu dibalik remang malam. Jawaban singkat itu terdengar begitu memabukkan bagi telinganya.
 
"Dalam hidupku hanya engkaulah yang paling aku inginkan, paling aku butuhkan. Rasa cintaku padamu ini mungkin hanya Tuhan yang bisa mengalahkan".
"Kalau begitu buktikanlah..."
Bersama henti kalimatnya tersebut Ar-rahma segera menghadapkan wajahnya kepada Abdillah dan memejamkan mata. Begitu dekat, hingga sejuk nafasnya lembut menerpa. Dan ia melakukan itu seperti menyengaja; mengesankan rona wajah menggoda - menantang sebuah sentuhan.

Abdullah mendesis laksana desir angin dikala serentetan gelombang gairah luarbiasa seketika menggelegak dari dalam dirinya. Perasaan membuncah bergunung-gunung, memaksa fikiran bawah sadar untuk melakukan 'sesuatu' yang melanggar.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah yang semestinya tak harus terjadi, sebab Abdillah kini tak mampu lagi menguasai diri. Ia rengkuh tubuh Ar-rahma dalam dekap begitu erat, meremas kuat rambut hitam yang tergerai panjang dibalik jilbab bersama gerak beringas dari bibir dan hidungnya yang kering.

Mengecup buas kening sang dara.
Lalu merambat kebagian lain, melumat bibir merah yang basah merekah... Hidung, pipi, mata, telinga... juga leher yang jenjang, tak luput semuanya!
 

Ar-rahma menggelinjang hebat tatkala bibir kurangajar Abdillah kini telah sampai dibagian dadanya dan menggusur bagai buldozer. Sang dara seperti meronta, yang malah memancing hasrat si bocah kian agresif, makin berani ia membelai nakal bagian yang liat padat berisi tersebut, membakar birahi liar tak terkendali.

Sampai kemudian benar-benar terdengar sebuah lenguhan panjang...
"Kkkkhhhhh...! Tuan, ini aku..., setan".
"Okh!"


Seketika sunyi ketika angin seperti terhenti.

Sebab si Putri Nasir yang jelita kini telah sirna dari hadapan, digantikan oleh sebentuk sosok yang sedemikian buruk-nya.
Abdillah mengelap bibir, menunduk dan meludah berkali-kali...

"Brengsek, kau ulangi sekali lagi, putuslah pertalian kita!"
"Tuan, maaf.... aku bukan ingin menyakiti, hanya mencoba menguji seberapa jauh kontrol emosi dan pengendalian diri anda andai nanti situasi itu benar-benar terjadi... Ckkkhhh! Kufikir, andai anda mampu melewati dari yang tadi itu, maka anda-pun pasti akan bertahan jika nanti hal paling buruk diberlakukan...".

"Dan sekarang engkau ingin mengatakan bahwa aku lemah dan gagal... Begitukan?"

Mendengar kalimat datar yang bernada tragis tersebut, setan tak segera menyahut. Ia malah duduk lebih dekat. Lembut menepuk bahu si bocah...

"Bukan tuan... Ckkkhhh... aku hanya ingin mengatakan; bahwa aku senang melihat diri anda yang lebih tangguh, pandai menguasai diri dan mampu menetralisir setiap keadaan".

Setan diam sesaat...

"Didepan sana, meski tak mampu memahami detailnya, tapi aku melihat takdirmu dengan Ar-rahma masih sangat panjang, ada setumpuk moment yang buram. Melewati benci dan rindu... Juga tahun-tahun kebahagiaan serta kepedihan yang silihberganti, dan tak satupun yang tahu bagaimana akhirnya nanti. Tuan harus lebih kuat,.... Ckkkkkh!"

"Jadi... engkaupun tak tahu akhirnya nanti?" Abdillah tengadah...
"Yah termasuk aku. Semampu kulihat hanyalah garis hitam-putih yang berkelok sangat panjang. Kita sungguh tak tahu kemana garis takdir ini akan membawa dan ada apa diujung sana".
Setan mendesah berat, mengalihkan pandangan jauh kebalik remang.

"Teman, engkau mungkin benar,"
Suara Abdillah terdengar bergetar, berat terucap setelah lebih dua menit kemudian...

"Aku terlalu lemah menghadapi semua ini, apa jadinya jika yang tadi itu benar-benar Ar-rahma..., Aku akan terkutuk karna melanggar janji dan dia pasti akan muntah meludahi aku,".

"Kkkkhh! Cukup tuan. Berhati-hatilah dengan fikiranmu. Sebab apa yang kita fikirkan, seringkali itulah yang terjadi. Jangan pula merendahkan diri anda dengan prasangka-prasangka. Sesekali Ar-rahma pasti akan membenci, ini wajar dalam sebuah hubungan. Namun aku berani memastikan dia-pun akan menderita jika sampai berbuat sekeji itu terhadapmu".

"Insyaallah, aku masih yakin menepati sumpahku untuk tidak mengotori dia, juga berdo'a demi kebaikan hatinya seperti yang kamu katakan setan. Tapi engkau, berjanjilah jangan pernah menjadi Ar-rahma lagi,".
 
"Ckkkkkkhhhhh.....! Ya aku berjanji tuan... dan aku berbangga sekali padamu, sebab seorang lelaki sejati memang tidak akan pernah merusak kehormatan wanitanya".
Setan menyeringai, bersamaan dengan kepalanya yang menggeleng kecil ia melengking parau sembari memamerkan sebaris senyum tipis yang paling manis.
 
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8