SANG SETAN, Bagian 3

Tahun pertama dari setangkup masa yang telah digariskan mungkin masih jauh dari ujung. Masa yang dihitung dari hari, ketika Abdillah menatap asing sosok Ar-rahma binti Nasir di padang gembala di selatan desa pada awal Februari yang lalu. 

Hingga beberapa bulan kemudian seluruh waktu sadar si bocah habis hanya untuk menyendiri, memandang rawa-rawa di Selatan, menatap bintang dan berfantasi hanya demi menemukan satu jawaban dari sebuah pertanyaan yang setiap detik menyergapnya. 
Sebuah tanya gelisah yang baginya lebih payah ketimbang fakta-fakta sejarah yang sering diceramahkan oleh guru-guru sejarahnya yang hingga hari ini telah berganti tiga kali. Sebuah kegelisahan yang lebih sulit dipahami daripada rumitnya deskripsi dari terma-terma biologi atau rumus-rumus ihwal Aljabar yang mengerikan. 

Sebuah kegelisahan yang seringkali hanya bisa dijawab oleh satu hal saja; 
Kebuntuan dikepala.

Namun...
Pilihan Ar-rahma untuk mengejar pendidikan di ibukota provinsi yang kemudian mencipta jarak diantara mereka, secara perlahan mampu membuat Abdillah mulai bisa mengendalikan diri terhadap keresahan tak terjelaskan yang datang - setiap kali ia teringat gadis itu.
Walau belum mendapat jawaban apapun, sedikit demi sedikit Abdillah mulai kembali pada kegembiraannya yang semula, keceriaan dan kepribadian sebelumnya.
Menggembala, membantu Bapak menggarap ladang, bermain lumpur disawah bersama kakek, sekolah siang dan sekolah agama serta melakukan segala yang pernah ia nikmati dahulu.
Yakni kepada kehidupannya yang sejati.

Sayangnya, keadaan demikian tidaklah bertahan apalagi berlangsung lebih lama lagi, sebab sepertinya inilah takdir hidup Abdillah; menepati masa-masa luarbiasa yang telah tertulis di atas lembar-lembar kitab kehidupan. 
Begitulah, 
Hingga akhirnya ia sampai pada suatu hari diawal bulan Juni, ketika Ar-rahma binti Nasir pulang kembali ke Desa Kecil dalam liburan panjang sekolahnya.

***
 

"Sedang memikirkan sesuatu?"
Tanya Ibnu Sidik seraya ia tersenyum kecil, melangkah mendekati Abdillah yang duduk disamping rumahnya pada suatu siang yang terik. Di atas mereka, rindang dedauan dari sebatang pohon mangga besar yang memayungi dari terik matahari, bergoyang diselip angin.
 
"Begitulah hidup Ibnu Sidik; berfikir!... Ohya, sungguh hari yang panas ya teman..."
Sapa Abdillah tak bersemangat.
"Berfikir tentang apa?". Kejar Ibnu Sidik
"Tentang sesuatu yang aneh..."
"Maksudmu aneh tentang apa?".
Ibnu Sidik mengambil tempat duduk disamping Abdillah.
"Ya tentang sesuatu yang aneh.... lupakanlah, kita bicara yang lain saja..."
 
"Baiklah, sejak tiga malam kemarin kemana saja engkau?..."
Nada suara Ibnu Sidik begitu jernih. Penuh semangat ia melanjutkan.....
"Kamu tak pernah datang kesekolah agama... Ada yang baru loh"
"Baru...?"
Abdillah tersenyum tipis, memandang Ibnu Sidik sekilas dengan sinar mata datar, lalu berpindah ke jalanan didepan mereka.
"Ya, seorang gadis..." Ibnu sidik membalas dengan ekspresi penuh arti....

"Cantikkah...?" Tanya Abdillah mengejar dengan nada tak acuh, masih disertai ekspresi wajah yang bodoh tak peduli. Tangan kanannya kini mulai menorehkan coretan-coretan abstrak ditanah. Seperti biasa, sambil ia coba menepis tatapan Ibnu sidik yang tengil memancing.
"Tak terkatakan".
"Wow... Siapa dia?" Abdillah tengadah...
"Binti Nasir,".

Rendah sekali suara yang keluar, bahkan Ibnu sidik mengucapkannya seperti nyaris tanpa tekanan. Akan tetapi, ternyata hal itu cukuplah menyita sepenuhnya perhatian Abdillah .
"Ar-rahma....?"
Bibir keringnya bergetar, memperdengarkan sebuah desis kecil. Ada desir-desir halus dalam hati Abdillah sewaktu bibirnya mengucap sebaris nama itu. Laksana angin tipis yang menghembus damai tiap sela - rongga dadanya yang keruh.

"Dia datang?..."
Situasi berbalik. Kini Abdillah yang tampak lebih antusias, terlihat dari sorot matanya yang berbinar tajam ke wajah Ibnu Sidik. Sedang tangan kanannya seketika berhenti mencoret. Mengejar sebuah kepastian dibalik gerak bibir pecah sang karib.

"Begitulah... Sekolah agama kita terasa jadi semakin hidup..."
"Dan iya, dia sangat cantik". 
Sambung Ibnu Sidik yang segera disergah oleh Abdillah...
"Ibnu sidik, apakah baru semalam dia cantik dalam pandanganmu...?"
"Ah... Aku.., Aku tak tahu"
"Aku hanya bertanya dan kamu kenapa tiba-tiba menjadi gugup kawan... Maksudku... kalau dia cantik dalam pandanganku, itu sudah sejak berbulan-bulan yang lalu...".

"Ohya Abdillah, dulu kamu pernah berkata bahwa kau punya masalah dengan dia... Mungkin ini saat yang tepat untuk menyelesaikannya, sebelum dia pergi lagi..."
"Kamu salah mengerti teman. Lagian, kalaupun ada masalah tentu tak seserius yang engkau kira..."
Abdillah menunduk dan mengecap ludah sendiri. Ia menyahut sambil membuang wajah ketanah; kepada sisa-sisa coretan abstraknya, seolah tak mampu lagi membalas tatapan kawan bicara.
 
***
 
'Bukan masalah serius?'
Dalam hati Abdillah mengomentari sendiri ucapannya barusan. Berkali-kali hingga terdengar rancu atau malah konyol. 
Sesuatu yang dalam waktu singkat mampu merubahnya, sesuatu... yang bahkan dalam hitungan detik bisa membuat dirinya belingsatan, termenung berjam-jam, gelisah tanpa tahu sebab, makan tak nikmat, susah tidur hingga sederet perilaku aneh yang tak menentu lainnya.....
Dia katakan 'bukan masalah serius'?
 
***
 
Selepas mahgrib, Abdillah berbaring telentang di atas dipan tua dalam kamarnya yang berantakan. Pandangannya menatap lurus menerawang seperti hendak menembus atap rumah yang penuh sarang laba-laba. Sementara sebuah lampu minyak kecil, setumpuk kertas lusuh serta sebuah pena dan tinta terletak saling berdekatan di atas meja kecil disamping tempat tidur yang sederhana tersebut. Tak seberapa jauh disudut kamarnya yang temaram, dari sebuah radio-tape tua... Group musik Queens terdengar lirih membawakan Love of My Life andalan mereka yang mendayu-dayu.

Disaat seperti ini, Abdillah tak tahu mesti berbuat apa. Bayangan Ibnu sidik yang menyampaikan kabar siang tadi, suasana di masjid Cahaya dan paras Ar-rahma bint Nasir yang bias, silih berganti menyergapnya.

Terutama yang terakhir ini....

Seraut wajah yang meski tak begitu detail, lebih sering melekat dalam ruang bayang dibenaknya. Menjelma lewat tatapan mata proyektor - bergerak didinding dan langit-langit kamar, berbaur berkelindan dengan ruwetnya sarang laba-laba disana. Mirip seperti kilas balik sebuah film.

Ar-rahma.....
Beberapa waktu yang lalu, sosok itu telah nyaris tawar dikepala Abdillah. Kegelisahan tak terjawab, kosong, kebuntuan dalam otak, sampai sebaris lagi keadaan-keadaan aneh yang tak pernah ia kenal sebelumnya sudah mulai takhluk dan mampu ia kendalikan. 

Tapi malam ini, berawal dari pertemuannya dengan Ibnu Sidik siang tadi _keadaan-keadaan menjengkelkan itu, sekarang hadir kembali dalam bingkai lain yang lebih mempesona; Kegundahan nan dahsyat!
 
***
 
Dalam bimbang serta kegundahan hati, si bocah Abdillah akhirnya lebih memilih untuk duduk sendiri dijembatan dekat rumahnya yang lengang dengan disirami remang sinar Bulan tak penuh dan ditemani oleh kukuk burung hantu yang terdengar sesekali.
Ketika itu ia masih tetap ragu... 
Sebagian hatinya ingin memaksa kaki-kaki untuk segera pergi ke masjid Cahaya bertemu Ar-rahma. Tetapi sebagiannya lagi, malah seperti berusaha menahan agar kaki-kaki itu tetap ditempatnya sekarang.

Dan masih dalam keadaan demikian ketika belum cukup lama ia menyendiri, secara tak terduga dari balik kegelapan tiba-tiba muncullah suatu wujud yang aneh, ganjil...

 
Sebuah objek kelam yang muncul diiringi hawa dingin aroma purbawi _ mewujud dalam bentuk sesuatu yang entah apa itu, dan berjalan perlahan mengendap mendekati dirinya. Abdillah yang terkesima hanya mampu menatap jalang bersamaan dengan raganya yang kini telah beku terpaku. Sampai sosok itu semakin dekat dan bertambah jelas,

Abdillah seketika lumpuh!


Inginnya berteriak dan berlari sekuatnya, namun lidah telah kaku dan kedua kaki bagai tak berotot lagi. Dan tinggalah, ia hanya terduduk pasrah dengan memandang gentar. Sekedar ini yang sekarang mampu ia perbuat. Bahkan hingga sewaktu sosok tersebut telah berdiri tegak dihadapan. Sekitar satu setengah meter jaraknya.

"Ckkkkhhhh.....kkkkhhhk...."
Meski samar, redup sinar bulan separuh tetap tak dapat menyembunyikan betapa buruk gambaran si pendatang itu. Dari desis lirih laksana ular melata hingga kengerian sempurna dibalik seringai dingin dalam senyum tipis yang dipamerkan.

Kepalanya nyaris segitiga, ditumbuhi seperti empat tanduk kokoh yang tak sama panjang. Ada dua mata nanar; sipit berkilat tajam berwarna perak kebiruan, nyaris sewarna dengan warna kulit tubuhnya yang lembek seperti kulit binatang. Tubuhnya yang ditumbuhi rambut lebat dibagian pundak dan siku tangan; saat itu diperlengkapi dengan sebuah tombak pendek bermata tiga dengan ujung-ujung yang memiliki panjang berbeda sebagaimana tanduk dikepalanya.
Sedang kedua kakinya yang terus saja berjingkat-jingkat tak henti, mirip sekali dengan kaki-kaki belakang sapi!

"Apa kau ini...? Kaukah siluet itu??"
Bibir Abdillah melongo. 
memperdengarkan sebaris suara bergetar yang terucap begitu saja....
"Ckkkkkhh... Aku adalah Bahtar, SETAN yang agung..... Tuan jangan takut, Kkkkhh....!"
Jawab sosok itu dengan nada bicara yang santun namun berat dan serak bergemuruh.
 
"Setan.... Kenapa mendatangiku?!... Pergilah!"
Abdillah menghardik keras bersamaan butir keringat yang mulai membasah....
"Kkkkhhh..... Tidak mungkin aku pergi, Tuan. Sebab aku adalah sisi buruk sekaligus yang termulia dari diri Anda. Sudah tiba masanya, dengan sebuah kesepakatan, aku akan mengawal dan membantu tuan menghadapi takdir untuk waktu yang lama".

Abdillah semakin bergetar, tolol membeku mendengar kalimah-kalimah itu.
"Untuk apa? Kesepakatan apa?!"
"Membuka dan menguatkan hati tuan dengan imbalan surga bagi seluruh ras kami... Ckkkkhhhh!!!...."
"Tidak!... Enyahlah kamu setan!".
"Ckkkk.... Keberadaanku adalah alasan dari eksistensi Anda. Kelak tuan akan sadari itu. Sekarang pergilah ke mesjid, disana akan ada jawaban dari semua kerisauan tuan selama ini...kkkkhhhh....".
Sosok itu berbisik..... begitu lembut, sebelum kemudian ia memudar dan memecah diri kedalam sunyi yang mengelilingi. 
Mungkin bersemayam disana....
 
***
 

Desa Kecil telah dipeluk oleh sunyi dan kegelapan yang telah menjadi sahabatnya sejak dahulu. Ditempat ini, malam adalah yang sebenar-benarnya malam. Belum ada tiang-tiang lampu yang berjajar disepanjang jalan utama dengan cahaya menerangi. Tidak ada deru mesin-mesin pabrik serta kendaraan mewah yang meraung dan melintas tanpa putus. 
Kecuali sekedar lampu-lampu minyak redup, kerik jangkrik, lolongan anjing serta jerit burung-burung malam yang menyeramkan, di Desa Kecil belum satupun yang mencirikan suatu kehidupan kota nan makmur.

Masih ditepian malam, ketika Abdillah berjalan linglung menjauhi rumahnya bersama satu kebimbangan besar membebani disetiap langkah kaki.

***

Hanya butuh sekitar limabelas menit Abdillah menyusuri sepanjang jalan besar untuk sampai pada tujuannya. Sekarang bocah itu telah berdiri mematung tepat ditengah-tengah jalan masuk utama masjid Cahaya.
Dengan sinaran yang bersumber dari sebuah lampu Petromah, tempat tersebut masih terang namun agak lengang.
Ini wajar, sebab sekolah agama telah usai beberapa menit yang lalu. Tampak dari jauh, hanya tinggal beberapa remaja pria yang duduk bertukar kata didekat jendela.

Abdillah urung melangkah masuk, ia berbalik dan merebahkan diri pada sebuah dipan gorong-gorong dihalaman masjid. Kedua matanya sebentar terpejam dan sebentar kemudian membelalak lagi. Menatap tajam kepada bintang-bintang yang berhambur dilangit timur. Desah nafasnya berat, sering terdengar jelas menghembus panjang. Entah seperti apa.....

"Melamun?"
Satu sapaan terdengar parau, seiring mendekatnya sebentuk bayangan seseorang kearah Abdillah. Masih rebah ia menoleh ke asal suara tersebut. Selanjutnya, remang malam tak mampu lagi menyembunyikan siapa pendatang itu darinya
Seorang teman yang berusia sekitar empat tahun lebih tua dan sudah sangat ia kenal.

"Ya begitulah... Assalamualaikum Imam,"
Abdillah bangkit dengan malas, memberi salam dan menjabat tangan AL-IMAM; pemuda yang cukup disegani dilingkup masjid Cahaya yang meski bagi Abdillah _dari segi kepribadian_ pemuda ini bukanlah sosok yang istimewa, akan tetapi ilmu agamanya yang memadai, memaksa Abdillah untuk jangan sampai membuat Al-Imam merasa tidak dihargai.


Detik berganti.
Al-Imam kini telah mengisi tempat kosong disamping  Abdillah. Memandang seperti menyelidik. 
"Tiga malam tak kelihatan, kemana saja engkau?" Ucap Al-Imam membuka percakapan, ada seringai tipis dibibirnya yang kering menghitam.
"Kondisi tak memungkinkan," Jawab Abdillah sekenanya.
"Kenapa gak ikut belajar? Ada yang baru... hehee...".
"Baru? Maaf aku telat, apa yang baru?".
Abdillah berlagak tolol, menanggapi ekspresi Al-Imam yang cukup bersemangat.
"Cantik.... Seseorang yang engkau sangat menyukainya....".
Mendengar itu, Abdillah hanya melirik sejenak mimik wajah lawan bicara, lalu berpaling seketika saat Imam membalas dengan tatapan mata yang jalang. 
 
"Kau tak ingin tahu siapa?"
Tanya Al-Imam sambil tersenyum penuh arti.

"Binti Nasir... Dia datang".
Lanjutnya setengah berbisik setelah tidak mendapatkan respon dari  Abdillah

"Imam, kau ber-api sekali membicarakannya, apa itu berarti kau juga menyukai dia?"
"Tidak,"
Jawab Al-Imam cepat, namun ia segera meneruskan...
 "Maksudku, tidak hanya suka. Melainkan lebih dari itu, aku sangat mencintai dia".
 
Abdillah terhenyak mendengar ungkapan liar tersebut.
"Kamu mencintai Ar-rahma?"
"Benar ! Pagi... siang, sore... malam... Kapanpun! Aku selalu memikirkan dia".
"Cinta? Seperti itukah yang dinamakan cinta??"
Abdillah sejenak membatin, melirik Al-Imam yang ternyata masih memperhatikannya....
"Kamu tahu kenapa aku bicara jujur begini,  Abdillah?"
"Karena kamu tahu semua orang juga menyukai dia".
"Hei, nyatanya kamu tak kelewat tumpul. Tapi tepatnya lagi seperti ini; karena aku dan semua lelaki di desa ini mencintai dia, itu termasuk kau, dan bukan hanya sekedar suka".
"Kamu bisa yakin begitu?"
Abdillah mencoba menyanggah, membuat Al-Imam mengangkat wajah dan malah tertawa setengah terkekeh.
"Ini sudah menjadi rahasia bersama, dan kita semua mengakuinya bukan..."
Ucapnya berdiplomasi.

"Emkhh... Entahlah, barangkali kamu bisa saja tak keliru. Ohya Imam, apa Ibnu Sidik masih didalam?"
"Ya, dia didalam. Masuklah, jangan melamun sendiri. Sementara aku akan pulang dulu, isi perutku sudah memanggil". Jawab Al-Imam sambil beranjak dari duduknya.

"Imam, tunggu!"
"Ada apa?" 
Al-Imam urung melangkah, ia kibaskan sorban dan lekat menatap  Abdillah
"Kalau begitu apa bedanya suka dengan cinta?"
Al-Imam tersenyum lebar,
Memantapkan posisi berdirinya tepat dihadapan.
"Ternyata kamu masih memikirkan itu... Bagus mau jujur.  Sebenarnya untuk dua hal ini, setiap orang bisa punya pemahamannya sendiri. Hanya saja menurut hakikatku, suka dan cinta memang berbeda. Bisa jadi dalam kadarnya. Cinta bisa dikatakan beberapa tingkat lebih tinggi daripada suka. Meski aku sendiri juga kurang yakin seperti apa. Dan sebagaimana penafsiranku yang mungkin akan berbeda dengan orang-orang, engkaupun pasti akan mendapatkan pengertianmu sendiri tentang itu. Barangkali disaat nanti, fikirkan saja dari sekarang".

Al-Imam kembali tersenyum dan berbalik.
Kali ini ia benar-benar bergegas menjauh. Sosok yang dibalut jubah besar tersebut _yang jauh lebih besar ketimbang ukuran asli tubuhnya_ tak lama kemudian segera lenyap ditelan gelap.

Sedang dibangku jembatan masjid, Abdillah masih diam terpatung dalam beribu kecamuk keadaan diotaknya.
"Cintakah yang kualami ini...? Ah... Pasti bukan, cinta mana mungkin sedemikian buruk.. Orang bilang cinta itu indah dan menyenangkan, sedang yang aku rasakan sekarang hanya perasaan yang menyusahkan..... ini pasti bukan cinta..."

Abdillah memaksa menenangkan diri biarpun fikirannya masih tetap gamang mengambang. Antara suka, cinta dan Ar-rahma binti Nasir....

***

"Kau tadi memandangnya lagi, apa yang kamu rasakan?"
Abdillah bertanya lirih tanpa menoleh kepada Ibnu Sidik saat mereka tengah melangkah menyusuri jalan besar di tengah desa dalam perjalanan pulang.
"Ar-rahma...?"
"Iya. Siapa lagi,"
"Bukan hanya aku, semua juga memandang dia,"
"Ibnu Sidik, aku hanya bertanya apa yang kau rasakan saat memandangnya, apakah cinta, suka..... atau ada perasaan yang lain?"
Ibnu Sidik tertegun sejenak....
"Entahlah, aku sungguh tidak paham dengan hal demikian itu. Yang kulakukan hanya memandangnya dan aku menjadi senang. Sebatas itu. Kenapa bertanya begitu?"
"Tepatlah, maksudku juga sepertimu. Suka..... cinta.... senang, rasanya kita dan setiap orang takkan bisa memisahkan perasaan-perasaan ini dari Ar-rahma. Hanya kadarnya saja yang mungkin berbeda. Kagumku padanya jauh lebih hebat dari yang engkau dan orang lain rasakan".

"Abdillah, kamu bermasalah dengannya tapi baru saja kau berkata, kau juga mengagumi dia... Mana yang benar?"

"Keduanya benar kawan,"
Abdillah menjawab masygul.
"Kalau kau ijinkan aku bersaran sedikit saja,"
"Apa itu? Katakanlah...."
"Sebaiknya segera kamu selesaikan masalahmu dengannya, lalu mulailah dengan yang lebih menggembirakan. Maksudku... Tak ada untungnya bermasalah dengan jelita itu".

Si bocah Abdillah mengulum senyum dan menelan ludah dibalik gelap malam. Ia diam, namun dalam hatinya ketika itu ada semacam rasa bimbang juga bingung terhadap Ibnu Sidik. Bimbang bagaimana harus menjelaskan, dan bingung kenapa sebagai lelaki yang beberapa tahun lebih dewasa darinya, Ibnu Sidik ternyata juga belum sepenuhnya memahami yang terjadi, seperti dirinya beberapa saat yang lalu.
Ia menghela nafas, berusaha menikmati suara serakan yang tercipta dari setiap gerak langkah-langkah kaki mereka.
"Kenapa diam? Apa aku terlalu mencampuri urusanmu?"
"Tidak Ibnu Sidik. Aku malah sedang berfikir tentang saranmu barusan..."

***

Malam ini, setan mendatangai Abdillah lagi. 
Kini didalam kamarnya yang pengap remang-temaram.
 
"Ckkhh.... Bagaimana perasaan tuan sekarang?"
Lirih Ia membisik lembut dengan gerak tubuh nan santun.
Meski begitu Abdillah malah terlihat ketakutan, merinding ia beringsut, membuat jarak antara dirinya dengan setan yang kini telah duduk ditepi pembaringan.
"Perasaan apa?!" Tanya Abdillah setelah beberapa saat.
"Setelah anda tahu jawaban dari semuanya,"
"Tidak ada jawaban apapun...!".
Abdillah  melengos, merapatkan diri dalam selimut disudut ranjang.
"Tuan, yang telah engkau tahu, itulah jawabannya! Ckkkhhhh.......!"
Setan seperti terkekeh.....
"Terimalah dan tak perlu ingkar. Tuan memang telah jatuh cinta. Untuk itu maka bersiaplah menerima hadiah terbesarnya; kepedihan. Aku telah membaca berbagai tulisan para penyair dari banyak generasi, kata mereka... bagian ini tak terpisahkan...Kkkkkhhh.....!"


Abdillah tak merespon, hanya tatapan matanya saja yang berkilat tajam kearah setan. Namun ia jadi mengkeret sendiri, saat setan berpaling; balas menatap dan tersenyum tipis penuh persahabatan....
"Tidak adakah selain yang itu..?"
"Ada. Namanya bahagia... Tapi semampu yang kulihat, ini takkan banyak kau temui dalam garis takdirmu dengan Ar-rahma..."
Setan menjawab penuh kegalauan. Hal mana membuat Abdillah hanya bergeming kecil, masih dengan tatapan memancar jalang yang kali ini tertuju pada bagian belakang setan yang nampak jelas, lembek berbulu seperti kulit binatang.
 
Hingga beberapa saat lamanya.....

"Hey, benarkah kau ini setan?"
"Kkkkhh... Tuan... Kenapa masih tidak percaya?"
"Bukan begitu. Maksudku wujudmu jauh lebih buruk dari yang pernah diceritakan para agamawan...."
"Agamawan??"
Setan tiba-tiba menyeringai, sinis.
"Para agamawan mengatakan begitu karena memang hanya sebatas itulah yang mereka pahami. Tuan jangan seperti itu. Ada banyak hal yang tak cukup hanya dilihat dengan dua mata.  Apa artinya fisik? Tuhan-pun tidak pernah menjamin bahwa dari bentuk yang indah, selalu ada kebaikan didalamnya.. Kkkh!".
"Ya, memang.."
"Sesungguhnya didepan mata manusia, ras-ku bisa seperti apapun, sebab semua ini hanya tentang persepsi yang kalian yakini. Dan wujudku... Bisa lebih buruk melebihi ini, atau lebih indah dan bercahaya dari malaikat".
"Malaikat?"
"Ya! Malaikat. Anda meyakininya bukan?!"
"Tentu. Itu bagian dari imanku".
"Tapi tuan, pernahkan anda melihatnya? Bagaimana bisa sangat yakin bahwa malaikat itu berkilau dan rupawan; lembut penuh welas asih, sedang anda belum pernah bertemu? Kkkhh!"
"Itu sangat mendasar sekali. Kecemburuanmu pada malaikat tidak memberimu hak untuk mengusik keyakinanku tentang itu".
 
"Kkkkkkkhhhhhh!!!.... Ini bukan tentang kecemburuan tuan. Tapi aku bicara tentang keadilan! Aku tidak pernah mempermasalahkan hak-hak istimewa yang diperoleh malaikat. Aku hanya ingin bertanya dimana hak kami untuk juga mendapatkan yang terbaik sebagai sesama hamba Tuhan..?"
 
"Hak itu telah lepas bersama kesombongan dan ketidaktaatan kalian," Sergah Abdillah ...
 
"Tidak tuan! Selama ribuan tahun, para agamawan telah menuduh ras kami sebagai para penyesat tak taat yang menyembah kesombongan. Itu sungguh keliru. Mengertikah anda, bahwa moyang kami sesungguhnya adalah kreasi terbaik Ilahi dari generasi pertama yang telah hidup dan beribadah kepadaNya jauh sebelum para malaikat. Azaziel adalah salah satu makhluk yang paling mengenal Tuhan dan paling taat kepadaNya. Dia-lah yang paling paham bahwa antara Pencipta dan ciptaan itu tak mungkin diperbandingkan. Fikirkanlah kemungkinan lain, bagaimana jika sebenarnya beliau menolak bersujud kepada Adam bukan karena kesombongan, tetapi berdasar ilmunya dia telah tahu bahwa manusia (Adam) hanyalah makhluk baru yang nantinya akan membuat banyak kerusakan dan mengingkari Tuhan? Sebab, bahkan para malaikat-pun sebenarnya memahami hal ini; manusia yang akan Allah ciptakan untuk menjadi khalifah di Bumi, adalah makhluk yang akan membuat kerusakan dan mudah menumpahkan darah?!  Bacalah Al-Baqarah 30..! Atau bagaimana jika kita berbicara tentang skenario yang lebih jauh lagi, leluhur kami berbuat demikian karena ia hanya ingin mengorbankan dirinya demi memenuhi takdir yang telah digariskan Tuhan agar manusia punya alasan dan kesempatan hidup untuk kemudian menjadi raja dunia serta akhirnya layak menikmati surga? Tahukah anda bagaimana sanggahan Adam terhadap Musa yang menyalahkannya atas nasib buruk ras manusia?
'Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Apakah engkau mencela diriku atas suatu hal yang telah ditulis Allah sebelum Dia menciptakan aku atau yang telah ditakdirkan Allah terhadap diriku sebelum Dia menciptakan aku?'"

Baca artikel detikhikmah, "Kisah Nabi Musa Salahkan Nabi Adam yang Buat Manusia Tinggal di Bumi" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-7225611/kisah-nabi-musa-salahkan-nabi-adam-yang-buat-manusia-tinggal-di-bumi.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
'Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Apakah engkau mencela diriku atas suatu hal yang telah ditulis Allah sebelum Dia menciptakan aku atau yang telah ditakdirkan Allah terhadap diriku sebelum Dia menciptakan aku?'"

Baca artikel detikhikmah, "Kisah Nabi Musa Salahkan Nabi Adam yang Buat Manusia Tinggal di Bumi" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-7225611/kisah-nabi-musa-salahkan-nabi-adam-yang-buat-manusia-tinggal-di-bumi.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detidetik/
'Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. 
Apakah engkau mencela diriku atas suatu hal yang telah ditulis Allah sebelum Dia menciptakan aku atau yang telah ditakdirkan Allah terhadap diriku sebelum 
Dia menciptakan aku?'"
Bagaimana andai semua plot aneh ini hanya sebuah wujud dari pengakuan serta kecintaan tertinggi Azaziel pada kehendak dan takdir Ilahi??"

Abdillah mulai menutup kedua telinganya dengan dua tangan, namun suara setan tetap saja menyeruak dari mana saja.... Berdengung menguasai kesadaran.

"Ckkh... Sementara kami keturunannya... Tuan lihatlah.... tentu saja kami memiliki pemikiran yang merdeka. Rasku menguasai segala keburukan, dan disaat yang sama kami juga mengerti tentang kebaikan. Bukankah itu artinya kami mungkin saja berbuat benar.."
 
"Dalam dunianya, malaikat tidak mungkin berbuat salah. Mereka mulia disisi Tuhan...." Ucap Abdillah mencoba menyangkal
 
"Apakah itu pantas dibanggakan..... Ckkkhhh...???" 
Sekali lagi, setan menyeringai sinis...
"Malaikat tidak bisa berbuat salah karena dalam diri mereka memang tidak ditanamkan kesadaran tentang itu. Suatu hal yang biasa dan wajar tuan. Ceritanya tentu akan berbeda andai mereka juga diberikan sifat-sifat yang sama seperti kita. Ingatlah Harut dan Marut....! Sedangkan kami.....? Rasku diberikan pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk. Tapi pernahkan Anda mendengar ada pilihan yang kami dapat selain neraka serta kesempatan tercipta untuk menjadi jahat dan dilaknat?!"

Abdillah terdiam, sampai semenit....
"Pengetahuanku tentang itu belum cukup. Tanyakanlah sendiri ke Tuhan.."
"Ckkkkhhhh...Ooo Azaziel...!!!"
Setan meraung panjang, seperti sedang meratap...
"Kami ditakdirkan tercipta, tumbuh menjadi jahat lalu dikutuki - dimusuhi, sampai akhirnya masuk neraka dan kami menikmati semua itu dengan gembira. Begitukah ?!? Sungguh alur cerita yang aneh..."
 
"Sudah kukatakan, pengetahuanku belum cukup. Yang aku yakini firman Tuhan terang dan lurus. Seterang sumpah Iblis untuk menyesatkan seluruh manusia..."

"Ckkkkkhh!... Firman Ilahi memiliki makna sejati yang teramat dalam tuan, bukan sesederhana seperti yang tersurat dari penafsiran akal dangkal para agamawan itu, dan tetap saja ! Tak ada untungnya bagi kami; sekalipun seluruh manusia tersesat. Neraka tidak akan menjadi dingin bagi kami meskipun setiap manusia berada disana. Malah, fakta umat manusia saat ini telah membuktikan kebenaran yang Baginda Iblis yakini; bahwa kebanyakan manusia hanyalah makhluk mudharat yang cenderung ingkar dan berbuat rusak. Dibelahan bumi manapun, apapun basis keyakinannya, tuan bisa lihat berbagai bencana terjadi dalam peradaban mereka hanya karena sifat rentan terhadap ego serta kepentingan sepihak. Kebanyakan mereka tidak perlu alasan yang masuk akal kalau hanya ingin saling menghancurkan... Dalam setiap beberapa dekade masa damai… Manusia mengira bahwa itu benar-benar masa damai. Padahal bukan! Itu hanyalah masa persiapan untuk memasuki era konflik yang lebih mematikan lagi diantara kalian. Maaf tuan, aku bukan ingin membimbangkanmu, inginku tuan bisa lebih terbuka, bebaskan fikiran Anda dari segala dogma yang ditanamkan oleh para agamawan yang suka berkata tentang suatu kepastian yang sebenarnya tidak mereka pahami. Mereka berkata suatu kebaikan ini pasti begini dan yang jahat itu pasti begitu, padahal mereka hanya memiliki pengetahuan yang sangat sedikit. Tuhan telah berfirman, seorang manusia yang mampu memaksimalkan daya akal-fikirnya meski hidup didunia paling bawah, kalian bisa lebih mulia melebihi malaikat yang hidup didunia teratas.".


"Dan satu lagi, jangan melihat sesuatu hanya dari wujud fisiknya saja. Aku berani sumpah, Malaikat-malaikat yang menguasai neraka, mereka itu jauh lebih menyeramkan daripada ras kami. Anda akan pingsan andai mereka hadir dihadapanmu saat ini dalam wujud sebenarnya".

Abdillah makin tertunduk,
Kata-kata setan yang bagai ceramah, begitu dalam mengusik fikirannya...

"Ooo,,, kamu sungguh sama membosankannya seperti para agamawan itu... Pergilah!!"
Ia berkata kemudian sambil merapatkan selimut dan terus menutup erat kedua telinga.
"Jangan lagi kotori otakku. Pergilah kau setan!"
 
"Ckkhhhh...! Baiklah tuan aku akan pergi dan aku akan datang disaat nanti ketika engkau merindukanku.... Kkkhh.... Saat ini, nikmatilah semua yang terjadi... Ckkkkhhhhh...."
Setan kembali terkekeh panjang sebelum kemudian tubuhnya hancur lebur dan sirna dari pandangan; Buyar-menyebar menjadi oksigen yang dihirup oleh Abdillah....

***
Sang Setan, Bagian 4

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8