SANG SETAN, Bagian 4


"Tuhan, hari-hari-Mu masih seperti biasa, sepi dan terus berganti. Pergantian yang sekaligus menyadarkan aku pada hilangnya satu hal yang telah sedemikian karib dengan diri;

Mimpi penuh warna yang mengagumkan itu. 
Yang telah beratus malam kami lewati bersama tanpa saling mengenal, sekarang meninggalkanku tanpa tanda pengetahuan apapun sebagaimana ia datang. Tepat, ketika malam-malam awal dari masa-masa yang penuh kegilaan ini dimulai.
Sama halnya dengan kenapa ia datang dan sedalam apa maknanya yang tak pernah kumengerti... 
Akupun tak tahu kenapa ia pergi.
 
Namun pergantian hari-Mu jualah pada akhirnya yang memberiku jawaban. 
Jawaban yang lebih hebat, lebih indah namun lebih pekat menggetarkan. 
 
Aku percaya, hanya yang turun dari bintang cemerlang dilangit timur-lah yang kuasa menggantikan mimpi warna luarbiasa yang telah beratus kali mendatangiku itu, dan dia ini... memang teramat sangat menakjubkan; 
Bidadari".

***

Beberapa malam setelah hari itu, Abdillah berdiri diluar masjid Cahaya untuk kesekian kalinya. Mengintip keriuhan didalam lewat jendela kaca. Tapi pandangan liarnya bukan tertuju pada bocah-bocah yang ribut berseliweran, bukan pada pak Guru NUR FAUZAN yang bewawasan, bukan pula pada sosok Al-imam yang cerdas melibas setiap pertanyaan yang diberikan.

Melainkan pada seorang saja.

Seorang gadis paling bersinar yang duduk diantara gadis-gadis lainnya, pemilik gerak diri yang khas dengan senyum yang memutuskan nafas. Teramat maut, dalam balutan gaun ungu muda serta kerudung bermotif bunga. 

Sebuah kekaguman selangit...
 
Demikianlah Ar-Rahma binti Nasir bagi Abdillah, 
dan bocah itu sungguh tak pernah ingin beranjak dari balik jendela kaca kecuali adzan isya' telah memanggil bergema.
Sebuah 'kejahatan' masa muda yang kemudian menjadi kebiasaan; 
mencuri-curi pandang wajah Ar-rahma yang mempesona. Sehingganya, nyaris seluruh Juli yang basah, ikut merayap menjadi saksi - mengiringi Abdillah yang merangkak dengan kekagumannya yang laknat.
 
Kegilaannya tak terperi,
Di malam-malam kemudian, tanpa sedikitpun kemalasan ia selalu aktif mengikuti sekolah agama; lebih antusias jauh melampaui semangatnya dahulu sebelum fikirannya tersandera oleh keinginan-keinginan tentang Ar-rahma, bahkan walau Ibnu sidik _karibnya yang paling setia_ tak datang, Abdullah tetap mantap berjalan sendirian menyusuri gelapnya jalan besar di tengah desa.
 
Akan tetapi didalam masjid Cahaya, Abdillah bukan lagi bocah dua atau tiga tahun lalu yang penuh keyakinan mengikuti dan menyimak berbagai pelajaran agama yang diberikan. Ia yang meski disekolah siang merupakan salah satu siswa cukup cemerlang dan tak jarang menjadi juara kelas, sekarang dalam berbagai sesi pelajaran agama di masjid Cahaya malah menjadi siswa paling dungu yang tak pernah ingin memahami materi dan selalu tak mengerti dengan berbagai pengajaran yang diberikan oleh pak guru Nur fauzan. 


Abdillah kini tinggallah seorang remaja yang datang di masjid Cahaya bukan sepenuhnya ingin mengaji, tetapi hanya untuk mengagumi. Karena memang, setiap nafas yang sekarang ia hela hanya menghembuskan cerita tentang seorang manusia baru yang tiba-tiba saja menjadi sangat penting dalam hidupnya; 
Ar-rahma binti Nasir, jelita yang mengeruhkan otaknya ibarat pasir.

Dan inilah fakta... seringkali cinta membuat seseorang menjadi bodoh-durhaka hingga rela mengorbankan diri sepenuhnya.

***

"Setan, apa mungkin dia adalah penjelmaan dari mimpi warnaku selama ini?"
Abdillah terbaring lemah, membisikkan sebaris tanya kepada setan yang telah menjadi lebar menyelimuti dirinya pada suatu malam.

"Apakah anda berfikir begitu?"
Setan membalas dalam lirih bisikan batin. 
"Kufikir begitu, sebab sejak pertama aku menyadari perasaan ini, mimpi warna itu tak pernah lagi datang. Dia hilang bersama hadirnya Ar-rahma dalam hidupku".
"Tuan, Ar-rahma bukanlah sebuah penjelmaan, dia manusia sepenuhnya. Menurutku, mimpi warnamu yang hilang itu hanya sebuah pertanda."
"Pertanda apa?"
"Ckkkkkh..... Takdir panjang yang kelam telah digelar. Biasanya begitu, hilangnya sesuatu yang luarbiasa, menandai datangnya yang lebih besar lagi".
"Hmm... Kau bicara takdir lagi. Aku jadi ingat, kemarin katamu aku sedang menghadapi takdir. Kenapa harus berhadapan? Tak bisakah kami berdamai saja..? Apakah itu sedemikian buruk?"
"Benar. Dan itu bukan hanya anda. Tapi aku juga,... kita memang sedang menghadapi garis nasib yang sulit".

"Sungguhkah??"

"Ckkhhhh..... Ada kuasa lain yang ingin memanfaatkan takdir Tuhan untuk merebut hak dan merusak sepenuhnya kebahagiaan kita dimasa depan. Aku ingin tuan menyiapkan diri mulai dari sekarang, seperti ku. Semoga kita akan mampu mengalahkan takdir buruk itu, atau kalau tidak bisa, kita akan berjuang bersama untuk menyatu dengannya, Amor fati!".

***

Agustus 1997 yang datang mewujud dalam malam-malam agung tak pernah terlewatkan oleh Abdillah tanpa menjadi manusia bodoh yang hanya duduk dengan segenap ketololan mengikuti pelajaran agama, dan meski kebodohan itu seringkali mempermalukan, baginya ini sepadan. Sebab, tetap saja ia begitu bahagia dalam kedunguannya tersebut.
Mencuri pandang dan menikmati tingkah Ar-rahma ketika ia menjawab pertanyaan atau berargumen dalam sesi bahsul masail al-din bersama pak guru Nur Fauzan, dalam jarak yang sedemikian dekat mencipta kenikmatan yang mewah bagi Abdillah.

Ar-rahma sendiri, sebenarnya bukan tak menyadari hal ini, ia sesungguhnya tahu bahwa kini ada seorang yang selalu mencuri pandang; memperhatikan segala geriknya hampir disetiap menit. Iseng, beberapa kali ia membalas tatapan durjana itu yang selalu membuat si bocah Abdillah segera kelabakan mengalihkan pandangan entah kemana saja. Namun seringnya, gadis itu sepertinya lebih suka dengan santai hanya menanggapi seolah dengan tingkah polos berbalut sikap dewasa yang mulai tumbuh, mengesankan respond biasa nan anggun.

Dan hal semacam ini berlangsung sampai di fase sepuluh terakhir bulan Agustus, mengantarkan bocah Abdillah pada sebuah malam fenomenal yang penuh cahaya gilang gemilang. Mungkin ini sebuah titik balik dari segala kegilaannya yang kotor selama ini. Moment yang bisa jadi merupakan hadiah kecil untuk segenap penghambaan Abdillah yang dengan penuh kesabaran mengagumi Ar-Rahma dari balik kegelapan; 
Sebuah malam ketika tanpa terduga gadis itu menyediakan dirinya berjalan pulang bersama Abdillah beberapa saat setelah pelajaran agama usai.

Abdillah bergetar, 
Ada gemuruh membahana yang laksana serapah kutukan menyambarnya menjadi patung es! 
Dalam beberapa detik ia hanya bisa tercengang dalam keterkejutan; melongo tak percaya karena tiba-tiba gadis yang selama ini hanya mampu ia kagumi dari kejauhan telah berdiri disampingnya, mengulum senyum seperti menantang.

Penuh ragu, sekilas ditatapnya wajah Ar-rahma yang malam itu tampak lebih jelita dimatanya...

"Engkau bersamaku..? Bagaimana dengan saudarimu?"
Abdillah berucap berat, memecah hening yang hampir meraja, bersama sorot mata apinya yang menyapu halaman masjid dan berhenti tertuju kepada LAILA; saudari Ar-rahma yang masih disana, sibuk riuh dengan siswa-siswi lain yang juga sedang bersiap untuk pulang.

"Biar Laila bareng mereka saja,"
Kata Ar-rahma menyahut pendek dalam nada bicara yang seperti tak peduli, sembari ia melirik Abdillah yang masih bingung kelabakan.


Demikianlah akhirnya, malam itu si bocah Abdillah benar-benar mendapatkan kesempatannya. Dan meski hanya dengan sisa-sisa energi dikedua kaki, ia berusaha teguh menguatkan diri berjalan ber-iring pulang bersama sang pujaan hati menyusuri jalanan berpasir didepan masjid yang remang-sunyi.
Dalam pada itu, seperti halnya Abdillah yang beku, Binti Nasir-pun begitu. Akan tetapi pemikiran apa yang ada dalam benak si gadis serta motivasi apa yang membuatnya rela berdekatan dan pulang bersama Abdillah kala itu; tak sedikitpun Abdillah mampu memahami. Yang ia tahu dan tak mungkin teringkari, bahwasanya malam itu baginya adalah suatu keajaiban besar; sebuah anugerah yang tak terlukiskan.

Sebab, seorang yang selama ini ia puja dengan rasa kagum setinggi langit, sekarang telah sedemikian dekat dengan raganya. Senyum.... suara nafas... kilau bibir yang basah serta seraut wajah dengan kejelitaan memukau, saat itu sungguh menjebak Abdillah dalam deru bahagia yang memabukkan.

Hampir lima menit dan kini sunyi ternyata memang telah menguasai.
Sepasang remaja itu masih membisu. Yang terdengar jelas hanya serak langkah kaki dan suara tarikan nafas Abdillah yang berat bergemuruh.
Dalam menit-menit ini, Abdillah yang telah terbelenggu ketololan seperti baru menyadari bahwa tubuhnya kini telah basah oleh keringat dingin yang muncul karena reaksi yang aneh. Ia tiba-tiba menjadi tak sanggup berbuat apa-apa sekalipun cuma untuk sekilas memandangi lagi betapa jelitanya Ar-rahma dimalam itu.

"Kapan kamu kembali?"
Susah payah Abdillah mengorganisir lagi bibir, lidah serta pita suara di tenggorokan yang selama beberapa menit tadi seperti mengalami malfungsi.
"Kemana?"
Ar-rahma balik bertanya, masih dengan gerak tubuh tak acuh.
"Ke-sekolahmu yang sangat bermutu itu,"
Kata Abdillah sekenanya.
"Entahlah. Kayaknya lusa. Kenapa?"
"Enggak. Aku hanya ingin bertanya saja,"
Ar-rahma mengulum senyum dari balik remang mendapati jawaban yang terdengar garing tersebut.

Dan setelah itu, sekali lagi bisu membeku......
Mereka kembali terdiam kelu, larut dalam perasaannya masing-masing yang tak terbaca, dan beriring hening keduanya kini telah sampai di perempatan jalan menuju masjid Cahaya. 
Abdillah terengah setelah menyadari  bahwa disinilah mereka harus berpisah karena memang berbeda arah tujuan. 
 
Di Jalan besar yang terbentang membelah Desa Kecil ini, untuk pulang; Abdillah harus berjalan agak jauh ke Barat, sementara Ar-rahma; rumahnya hanya sekitar dua ratus meter dari perempatan tersebut ke arah Timur.
 

"Baiklah, sampai ketemu...." Suara Ar-rahma kembali memecah sunyi.
"Kamu berani?" Abdillah tertegun memandang Ar-rahma yang mulai bergerak menjauh.
"Tak apa, aku berani," Jawab gadis itu singkat tanpa menoleh.

Lalu demikianlah... Dalam satu scene yang kaku berbalut suram malam, mereka akhirnya berpisah jalan dalam arah yang berlawanan.

***

Malam dingin menyatu dengan gerak angin yang tak menentu, memayungi Abdillah yang melangkah tersaruk menyusuri Jalan besar di tengah desa yang berdebu. Sering ia menoleh gelisah, berharap sosok Ar-rahma masih dibelakang sana memanggil dan meminta untuk mengantarkannya. Tetapi gelap jauh lebih hebat, telah menyembunyikan tubuh sang dewi dibaliknya sejak tadi.

Maka segera, tinggallah segumpal sesal yang menjadi beban sepanjang jalan; berdenyut - merayap dalam otak bagai tumor ganas.

"Ah, tololnya aku ini... Kenapa tak datang sedikit saja kekuatan agar aku mampu lebih lama didekat dia ya Alloh... Teganya aku membiarkan dia pulang sendiri digelap begini...".

Abdillah begitu kesal, terus menggerutu menjambaki rambut kusamnya sendiri. Sedang disekelilingnya, tawa setan membahana. Dan ia mengiring jalan laksana terbang.

***


"Dia ingin lebih mengenalmu. Seharusnya anda bisa lebih baik lagi tadi itu, Ckkkhhh....!!"
Perempatan dekat rumah Abdillah telah sedemikian sunyi. Diiringi suara tercekat, setan menampilkan dirinya dari kegelapan lalu berjalan mengendap berjingkat-jingkat dan duduk disamping sang bocah. 
Tatapannya begitu lembut dan peduli, menawarkan sekilas senyum yang hangat bersahabat.

"Entahlah....., aku merasa sikapnya teramat ketus dibalik ekspresi kebaikan yang sepertinya coba ia tunjukkan. Ini membuatku ragu, hingga saat didekat dia... Aku menjadi begitu".  
Abdillah tersenyum kecut dihantam sesalan akibat kejadian barusan. Disaat bersamaan, perasaan risih dan ngeri terhadap setan kembali menguasai, memberanikan diri ia duduk menjauh dan membuat jarak diantara mereka.
 
"Tadi itu sebenarnya aku ingin mengantarnya... aku hanya masih menunggu dia meminta... Tapi sudahlah... nyatanya dia gadis pemberani".

"Kkkkkhhhh......, begitulah wanita. Mereka memang makhluk yang membingungkan. Mungkin lain kali anda tak perlu menunggu atau meminta, cukup lakukan saja. Namun tak mengapa, aku akan mengatur kesempatan yang lain, nanti tuan akan tampil lebih baik lagi didepannya".
 
"Bagaimana caranya? Memangnya kamu bisa?!"
Tanya Abdullah penuh harap. Matanya menyipit memperhatikan mimik wajah setan yang keriput, dan lagi-lagi ia membuang pandangan saat setan balas menatapnya.

"Dengan membisiki dirinya. Meniupkan sedikit hasrat dihatinya kepada tuan,"
"Kenapa harus sedikit?"
"Ckkkh! Sebab dengan begitu tidak akan ada hukum alam semesta yang dilanggar sehingganya segala yang terjadi akan berjalan secara wajar, alami apa adanya. Namun semuanya ini tidaklah mudah, tuan harus bersabar. Saat ini ada banyak fihak yang juga berkepentingan dengan hatinya. Begitu banyak yang ingin menguasai pemikiran Ar-rahma yang sedang berproses menuju dewasa. Dia sekarang sedang dalam situasi yang labil dan krusial; mudah dimanipulasi. Sang pemenang akan menentukan karakter mana yang akan dominan saat kelak dia dewasa".

"Wah setan, ternyata kamu banyak tahu ya... Terdengar master," 
"Benar tuan, aku memang cukup ahli dengan hal begini. Yang terpenting, karena ini merupakan bagian dari pertalian kita, maka aku telah berkomitmen untuk terus membantu mewujudkan tujuan kebahagiaan Tuan. Anda hanya harus percaya dan mendo'akan aku, itu saja. Kkkkhhhhh.....!!".

Mata setan berkaca-kaca, namun Abdillah malah menyiratkan ekspresi sebaliknya. 
Mendelik tajam.
"Tidak mungkin. Pertalian ini bukan untuk saling mempercayai. Itu sama saja merubah akidahku".
"Tuan, aku hanya ingin anda memahami eksistensiku. Bukan menyembahku! Ckkkhh!!! Ingatlah, aku-pun hamba Allah yang juga diciptakan melalui cinta kasih kuasaNya..."

"Ckkh! Aku telah putuskan untuk bersama anda demi waktu yang panjang, terus membantu mewujudkan tujuan terbaikmu dan berusaha menjadi teman yang andal saat engkau menghadapi takdir yang tidak bersahabat ini,,, Tuan...., bersepakatlah denganku..."
 
"Tentang apa?!"
Abdillah yang lama membisu, sekali lagi merubah ekspresi dirinya.
 
"Kkkhh... Sejujurnya kami juga ingin bahagia. Berharap bisa kembali mendapatkan kesempatan seperti halnya manusia...... Dikasihi dan sekali lagi menikmati keabadian di langit. Inilah tujuan paling mendasar dari pertalian kita".
"Lalu....?"
Setan tidak segera menjawab, sesaat dipandangnya Abdillah dengan sinar mata nan redup. Kemudian dengan gerak santun, ia merendahkan ujung tombaknya.

"Berdo'alah kepada Tuhan agar Ia berkenan mencabut laknat, memberi ras kami kesempatan untuk memilih kebaikan serta layak kembali ke surga dan abadi didalamnya".

Kini Abdillah benar-benar diam terbungkam; tak tahu mesti mengucap apa dalam beberapa lama...

"Kkkkkhhk... Kami percaya Tuhan maha pengasih, Ia juga akan mengasihi ras kami andai kami sungguh-sungguh baik, dan entah bagaimana caranya; takdir akan berubah hingga pada akhirnya kami diberi kesempatan yang sama sebagaimana manusia untuk memilih surga atau neraka".

"Setan, jika ini memang sepenting yang engkau katakan, lalu kenapa harus aku? Kenapa tidak melalui para ustadz, pendeta atau rabbi-rabbi itu, bukankah mereka lebih dekat dengan Tuhan?"
 
"Ckkh! Ada alasan-alasan yang tuan harus paham. Pertama, Tuhan hanya menerima do'a dari malaikat dan dari manusia yang berhati baik. Sedangkan meminta bantuan kepada malaikat bagi kami adalah tabu. Kemudian yang kedua adalah, karena tuan unik; ibadahmu bagus tetapi kalbumu tidak terpenuhi oleh kebencian tak berdasar kepada ras kami seperti para agamawan itu. Lihatlah mereka, siang malam hanya sibuk mengutuk dan melaknati rasku. Mereka fikir kami tidak punya pekerjaan lain selain menyesatkan manusia? Mereka kira hidup bangsa setan sama sekali tak bertujuan??!... Kkkkkkh!".


"Hmmm..., sungguhkah aku seperti itu?? Kau lupa, bahwa aku sering melaknati kalian juga, dalam ibadahku".

“Aku mengerti, tetapi kami faham, yang anda ucapkan hanya sebatas lisan, sebuah ritual saja. Kami sungguh tahu, hatimu tak pernah sekelam itu dipenuhi benci, ckkkkhhh!”

“Ya, memang kau benar, setan. Aku tak terlalu mengenal kalian, tak ada alasan bagiku untuk sebenci itu,”.
 
"Dan percayalah padaku, hidup anda menanggung sebuah beban keinginan yang besar. Mungkin sekarang belum begitu terasa, namun seiring hari anda akan menyadarinya juga. Jika tidak bersiap dari sekarang, kelak engkau akan sangat menderita. Cukup sederhana, Anda membantuku dan aku akan mengusahakan yang paling anda inginkan. Ckkhhh...! Renungkanlah tujuan mulia dari kesepakatan yang kami tawarkan Tuan, karna semua memang hanya tentang masa depan yang lebih adil bagi semua ras. Masih ada banyak waktu untuk memutuskan".

"Setan, menurutmu kenapa aku harus menerima kesepakatan ini?"
Tanya Abdillah dengan tatapan beku setelah berpuluh-puluh detik berlalu...

"Ckkkhhhh!... Mudah saja. Jika aku membantumu, itu hanya untuk kepentingan diri pribadimu. Tetapi bantuan anda bagi ras kami adalah demi maksud yang agung dan luhur, bukan hanya untuk bangsa setan semata melainkan untuk kehidupan yang lebih baik di alam semesta. Pikirkanlah! Selama ini manusia percaya bahwa segala hal buruk yang terjadi dimuka bumi, itu karena kami. Bayangkan.... Andai sebuah dunia yang lebih ideal terbentang di depan sana. Andai keturunanmu dan generasi-generasi manusia sesudah anda mampu menjalani kehidupan yang damai, sentosa tanpa rasa takut akan permusuhan dan kebencian menggila seperti hari ini. Bayangkan, andai setiap konflik menjadi terkendali, dan pekik dendam serta isak kepedihan sulit ditemukan... Yakni saat manusia telah memperoleh kesadaran bahwa segala kebusukan itu bukan semata dari kami, melainkan juga dari diri mereka sendiri.. Sebuah zaman emas; ketika ras kalian benar-benar mampu meneguk cawan anggur kebijaksanaan yang selama ini kalian sebut pencerahan... ".

Setan mengerjap-ngerjapkan matanya yang telah sebening kaca. Lalu tanpa disadari oleh Abdillah yang masih tertegun, ia meninggalkan tempat itu melalui desir nan halus.
Seperti debu tertiup angin...
Seperti warna yang luntur...

***

Dalam dekapan waktu yang terus melaju tak terhadang,

Sudah lebih sejam sejak kepergian setan, Abdullah masih terbaring sendiri di jembatan dekat rumahnya. Sementara itu dari tempatnya bersemayam, lengang telah turun menyelimuti seluruh Desa Kecil, memayungi si bocah yang tak lelah menatap kagum pada kerlip indah bintang dilangit.

Sebuah kebiasaan lama yang aneh;
Melihat Malam.
 

*****


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8