SANG SETAN, Bagian 5

 
 
"Semalam dia pulang bersamaku,"
Kata Abdillah esok harinya kepada Ibnu Sidik saat perjalanan pulang dari sekolah siang mereka. 
Wajahnya berseri-seri, secerah cahaya surya yang menyalakan langit di atas Desa Kecil.
 
"Dia.. siapa?"
Sahut Ibnu Sidik dengan sorot mata seperti menduga-duga. Sembari terus berjalan, ia merapatkan dirinya pada Abdillah, menatap lekat wajah karibnya itu.
 
"Katakanlah Abdillah... Sudah lama aku tidak melihatmu segembira ini.."
 
Abdillah tersenyum tipis, merangkul Ibnu sidik hingga kepala mereka kini nyaris berdempetan.
 
"Dia..., Ar-rahma".
Jawabnya singkat namun dengan senyum lebar dan intonasi yang kuat, membuat Ibnu sidik seketika mendelik.
 
"Aku tak pernah menyangka, ternyata dia sudi berdekatan denganku,". Abdillah melanjutkan, tapi kali ini bicaranya malah seperti bergumam.

"Ini sungguh berita baik teman. Artinya mulai sekarang kamu tidak lagi bermasalah dengannya,"
 
"Ibnu Sidik, sebenarnya aku tak pernah bermasalah dengan dia. Selama ini aku hanya sangat mengaguminya saja. Ku bahkan sudah sangat bahagia sekalipun cuma sebatas mendengar dengus nafasnya... berdekatan seperti semalam...".

"Hei, kamu pasti mencintai dia," Ibnu sidik melirik sang karib, ia berkata sembari nyengir yang sialnya malah seperti sebuah todongan bagi Abdillah.

"Kata Al-imam begitu. Tapi orang bilang cinta teramat indah menyenangkan. Yang kurasakan kini sebaliknya, situasi yang kacau, sangat merepotkan!".

"Kata orang seperti itulah yang dinamakan cinta... Kagum..., ingat terus... bingung, bahagia,"
 
"Ah, entahlah kawan, aku pun tak terlalu faham soalan itu.."
Abdillah membuang wajah dari karibnya.

"Kalau begitu, mulai hari ini perjuangkanlah dia. Aku mendukungmu,"
"Terimakasih Teman,"
"Eh, tapi beberapa hari terakhir aku mendengar berita yang kurang baik tentang dia"
"Kurang baik tentang apa Ibnu sidik?"
"Benar, anak-anak bilang akhir-akhir ini Al-imam sering mendekati dia, dibeberapa kesempatan mereka katanya malah hanya berduaan saja,"

Mendengar itu, Abdillah seketika tertunduk lemah diikuti oleh surut rona mukanya yang kini berubah muram.

"Iya, Al-imam memang sangat mencintai dia, aku tahu. Tapi apa kamu yakin Ar-rahma juga demikian terhadapnya? Menurutmu, sampai berapa persen kemungkinan dia akan beruntung?"
 
"Secara pribadi aku tak seberapa yakin Abdillah, namun aku juga pernah mendengar Al-imam akan melakukan apapun untuk mendapatkannya... Kita tak pernah tahu apa yang dia perbuat, apalagi baru seminggu yang lalu dia pulang dari jawa".

Abdillah menoleh sekilas diringi tatapan aneh. Dikupingnya, kalimat itu terdengar seperti sedang menyiratkan sebuah maksud. Tetapi entah apa, dan dia tak tertarik untuk mengejar lebih jauh, 
hanya kembali membisu.

***

 
"Bagaimana tuan?"
Tanya setan beberapa hari kemudian, seiring wujudnya yang belum sepenuhnya sempurna, membisik lembut ia kini telah duduk disamping Abdillah yang baru saja selesai menunaikan subuhnya. 
"Apanya?"
"Tentang kesepakatannya, kkkkkkh..."
"Oh itu, ya aku baru saja mendoakan rasmu. Kufikir ini tak terlalu buruk, andai setan menjadi baik, pasti tidak akan ada lagi manusia yang berhati jahat, tega berbuat kejam dan menyakiti".

"Terimakasih tuan, tapi anda juga harus sadar, baik atau jahat sumbernya ada didalam diri manusia sendiri. Beberapa dari kami hanyalah motivator saja".
"Begitukah??"
Abdillah menerawang ke balik suram disekelilingnya, sambil seolah sedang merenungi perkataan setan.

"Oiya setan, aku masih penasaran. Benarkah kau ini setan…? Kenapa banyak hal yang engkau bisikkan padaku tak seburuk penampilan fisikmu?" Sambungnya setelah beberapa saat berlalu.

“Ckkkh! Kebanyakan agamawan adalah pembohong, Tuan. Mereka suka mendistorsi kebenaran, memanipulasi pemikiran merdeka dan penilaian mayoritas manusia sehingga membuat kesimpulan yang salah tentang ras kami. Bangsa setan juga memiliki sisi hati yang baik. Demikianlah kenyataannya. Dan kami sangat mungkin bertindak sesuai nilai-nilai itu”.

“Tapi apakah kalian pernah berbuat baik? Maksudku sebelum-sebelum ini…”.

“Ckkkkkkkkkkkkkh…..!!!”

Setan memekik panjang mendengar polosnya pertanyaan Abdillah. Sekilas, tergambar senyum tipis dibibirnya sembari ia memantapkan posisi duduk tepat kearah sang bocah.

“Baiklah tuan, ijinkan aku menceritakan dua buah kisah yang begitu melegenda tentang kebaikan leluhur kami. Kisah yang teramat tua, hampir setua peradaban umat manusia, ckkkk….”.

“Dahulu kala, ribuan tahun yang lalu ada seorang lelaki tua yang mengaku telah mendapatkan perintah dari Tuhan untuk meninggalkan isteri kedua-nya yang baru saja melahirkan bayi yang  merupakan anaknya sendiri - disebuah gurun tandus tanpa perbekalan yang layak. Leluhur kami; Azaziel yang mengetahui bahwa tindakan itu sebenarnya didasari oleh desakan isteri pertama yang terbakar cemburu dan meyakini bahwa ‘perintah’ yang dimaksud itu hanyalah bisikan yang berasal dari dalam diri pribadi si lelaki tua, menganggap ini adalah upaya untuk lepas dari tanggung jawab sekaligus sebuah upaya pembunuhan. Baginda Azaziel berusaha melarang, mencoba menyadarkan nurani lelaki tersebut agar membatalkan keputusannya, tapi lelaki itu tak bergeming. Setiap bisikan baik dari baginda tidak pernah dihiraukan, ia terus saja pergi menjauh bersama untanya, meninggalkan bayi dan isterinya yang panik dan takut luarbiasa diteror oleh kematian berwujud lapar dan dahaga mencekik”.

“Hei… aku sepertinya familiar dengan kisah itu,”

“Ckkkkhhh…, memang benar, ini adalah kisah yang kalian yakini dan rayakan setiap tahun, yang meskipun selalu saja kalian ceritakan secara berbeda, yakni dengan leluhur kami sebagai antagonisnya. Sayangnya kejadian ini sekaligus malah menjadi bukti tentang adanya kebaikan didalam hati bangsa kami”.

“Hmm, coba lanjutkan seperti apa kisah yang kedua,”.

“Beberapa tahun kemudian, si lelaki tua mendapati bahwa isteri dan anaknya yang ia buang ternyata belum mati. Dalam kerentaannya ia mendatangi lalu merekapun kembali hidup bersama. Anak itu telah tumbuh remaja dan menjadi anak yang taat atas didikan ibunya. Hingga pada suatu waktu, melalui sebuah mimpi yang ia tafsirkan sendiri, si lelaki tua kembali merasa mendapat perintah dari Tuhan untuk menyembelih anak remaja tersebut; sebuah perintah untuk membunuh anak yang selama ini tumbuh dewasa tanpa pernah ia nafkahi. Si anak yang patuh hanya pasrah ketika sang ayah menyeretnya ke atas bukit tanpa mempertanyakan betapa absurd tindakan bapaknya. Sekali lagi, baginda Azaziel yang mengetahui hal ini mencoba menghalangi. Berusaha mengetuk nurani dan membangunkan nalar kewarasan lelaki tua itu dengan mengatakan bahwa membunuh manusia lain yang tidak berdosa adalah perbuatan tercela; terlebih lagi menyembelih anak kandung sendiri. Atas dasar apa kita boleh membunuh orang lain yang tidak mengancam keselamatan siapapun? Ckkkhhh! Ayah macam apa yang tidak membela anaknya? Yang bahkan tidak pernah mempertanyakan kebenaran perintah dari sebuah mimpi yang teramat mengerikan? Azaziel terus membisik sepanjang perjalanan ke bukit, membujuk si lelaki tua agar membatalkan niatnya. Namun si lelaki tua malah marah, dengan geram ia melempari Azaziel dengan bebatuan, padahal baginda hanya ingin mencegahnya dari berbuat jahat”. 

“Lalu dimana masalahnya, bukankah semua berakhir bahagia? Dan silelaki tua setahuku ia hanya meyakini bahwa ia sedang menjalankan perintah dari tuhan”.


“Itu hanya sebuah mimpi yang ia tafsirkan sendiri! Kenapa tuan yakin semua berakhir bahagia? Bagimana jika ternyata anak muda itu benar-benar disembelih? Tetapi tuan cobalah anda jujur pada hatimu, apakah yang dilakukan leluhur kami; melarang seorang ayah membunuh isteri dan anaknya sendiri yang tak bersalah itu sebuah keburukan? Bukankah Tuhan yang kita yakini adalah Dia yang Maha baik dan penuh welas asih?, Mungkinkah tindakan sekeji itu berasal dari Dzat Yang Maha Baik lagi penuh welas asih?”
 
“Bagaimana jika Tuhan memang sedang mencobai dia?”.
“Kalau itu memang sebuah ujian keta’atan, artinya lelaki tua itu benar-benar telah gagal, Ckkhh!”. 

“Baiklah…, lalu seperti apa akhir yang sebenarnya?”. Tanya Abdillah setelah terdiam cukup lama...

“Tak penting seperti apa akhirnya. Hanya agar kalian tahu, bukannya kesakitan dan marah yang bangsa setan rasakan, setiap tahun ketika kalian (mengira sedang) melempari kami dengan batu-batu, sesungguhnya kami malah sedih, kami sangat prihatin dengan kekonyolan kalian yang dengan khusyu’ mengencingi akal budi dan nurani kalian sendiri…. seperti lelaki tua itu. Setiap tahun, ckkkkkkhhh!!!”.

***

Setelah malam yang luarbiasa tersebut, kegilaan Abdillah tak terkendalikan lagi. Dibenaknya, sosok Ar-rahma tampil begitu sempurna, bercahaya setiap saat mengalahkan silaunya sinar mentari ditengah hari yang terik. Sehingganya kini, memikirkan Ar-rahma seperti telah menjadi semacam sebuah ritual khusus dalam hidupnya.
 
Berhari-hari kemudian, semua yang dialami si bocah menjadi kian parah oleh kebahagiaan-kebahagiaan maya. Sebuah fatamorgana pedih! sewaktu separuh dari malam-malamnya habis untuk menyendiri demi menyemai harapan tentang pertemuan-pertemuan tak terduga dan untuk mencuri-curi pandang paras Ar-rahma nan jelita saat malam sewaktu sekolah agama di masjid Cahaya.
 
 
Kegelisahannya memuncak, bersama malam serta sunyi yang kini telah menjadi teman kebiasaan sejati....,
Dan ujung gunung kesepian yang getir itu-pun nyata tercipta saat Abdillah ambruk tak berdaya dikala jiwanya terasa hilang! Terbang bersama kepergian Ar-rahma di akhir bulan.

***

"Dia pergi lagi setan. Dikala paru-paruku benar-benar membutuhkan udara yang ia hembuskan... Brengsek benar rasanya..! Sekarang aku sungguh ingin mengutuki sekolahnya yang keren di ibukota provinsi itu,"

"Jangan turutkan sedihmu tuan, belajarlah melawan. Sebab ini masih akan lama. Dia akan kembali, datang dan pergi seperti yang telah terjadi... Kkkkhhh...."
Setan menepuk bahu Abdillah, dikala bocah itu sedang duduk sendirian didepan rumahnya pada pertengahan sebuah malam dalam selimut kekesalan. 
Abdillah bergeming, masih tak terbiasa dengan perhatian dari setan yang semacam ini.

"Tapi setan... aku semakin bingung. Sebab bertambah hari yang kurasakan semakin aneh. Aku terus teringat dia... merindukannya. Awalnya ini memang membuatku tentram, tapi diujungnya yang terjadi sungguh gila.. Pedih, kacau! Hidupku kini benar-benar berantakan setan. Terkadang, bahkan untuk bernafas saja terasa sulit".

"Ckkk.. Semua masih wajar tuan, anda hanya harus belajar menetralisir dan menanganinya. Apalagi ini cinta pertamamu, banyak hal tak terduga yang akan terjadi".

Abdillah tak menyahut, ia hanya kembali tertunduk lesu. Menyisir rambut kusam dikepala dengan jemari. Sesekali ia melirik setan, yang ternyata juga sedang meliriknya.

"Setan, bolehkan aku bertanya sesuatu?..."
Abdillah menghembus kuat diujung suaranya yang mulai terdengar minor.

"Katakanlah..."
"Semua ini... andai nanti mampu kuungkapkan, mungkinkah dia akan terima aku?"

"Ckkkkkkhhh......!"
Setan meringkik panjang, malah terdengar seperti terkekeh, hal mana semakin memperjelas garis-garis lunak dikulit wajahnya..
"Tuan... ini semua bukan tentang apakah dia akan kau miliki atau tidak. Jangan jadikan itu sebagai klimaks. Kerisauan anda sekarang hanyalah bagian kecil dari episode panjang yang mesti dijalani. Entah dia akan mematahkanmu atau andaipun nanti dia menerimamu, itu tetap bukan akhir dari takdirmu dengannya. Percayalah, ini masih akan lama dan sulit. Kuatkan saja diri anda".

"Uhh setan, kenapa kata-katamu selalu membingungkanku! Terdengar suram. Bicaralah yang lain saja".
"Tentang apa?"
Abdillah terdiam sejenak, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Tentang klan-mu mungkin, ceritakanlah kenapa pemikiran kalian bisa berbeda..."
 
***
 
 
"Malam, bangunkan aku esok hari sebelum engkau pergi. Tolong bebaskan aku dari kekaguman terlarang ini, yang tak pernah bisa kunikmati - namun juga tak pernah ingin aku melepaskannya. Biarpun yang dapat aku lakukan hanya bersujud dan mengagumi sampai waktu yang ditakdirkan untukku berlabuh telah datang.
Hancur dalam gilasan roda-roda waktu, aku tak pernah tahu... 
anugerah atau bencana yang kudekap ini. Berapa lama lagi aku akan mampu menerima tajamnya senyum dan cibiran dari sang Dewi?
 
Semampunya, kupaksa lidahku terbahak meski nestapa ini menggunung, demi mentertawakan ketololanku sendiri yang nyatanya lebih aku percaya.
Malam, aku memang bodoh ! Saat gilaku tak terlukiskan dan ketika aku tak pernah tahu dimana batas pemisah antara bahagia dan duka ini dibentangkan .
Sebab segalanya terasa bias; Hampa! dikala aku mengaguminya tanpa mampu mengucap sepatahpun kata".

***
 
Abdillah meletakkan pena dan menggulung kembali lembar-lembar catatan harian tersebut setelah menyadari kahadiran setan dikamarnya.

"Tuan, klanku memanggil. Aku harus pergi sekarang,"
Setan berkata dibarengi gradasi sosoknya yang perlahan membentuk. Berdiri di depan pintu kamar, auranya makin mensuramkan keadaan yang telah remang tersebut. 
Abdillah menoleh, membalas sesaat sorot mata setan yang berkilat aneh.
 
 "Lamakah..?"
 
"Entahlah tuan, panggilan ini sungguh tak terduga. Mungkin semalam, satu musim... atau beberapa masa. Dan ohya, aku telah membisiki Ar-rahma, meniupkan mantera yang semoga akan terus menghidupi sedikit hasrat dalam jiwanya kepadamu. Berdo'alah ini akan mencipta sebuah ruang dihatinya yang bisa kau tempati sampai akhir kisahmu dengannya benar-benar datang,".

Abdillah tak menanggapi. Ia cuma mengangguk lemah - melepas kepergian setan yang sering menoleh. Seperti merasa berat menapaki garis perpisahan diantara mereka.

***
 

Musim demi musim yang bergulir membentuk sebuah masa nan panjang. 
 
Layaknya hembusan angin yang mengiringi pergantian hari, Ar-rahma bint Nasir terus saja datang dan menghilang dikehidupan Abdillah. Figur pemukau yang selalu hadir lalu pergi sebagaimana yang seharusnya terjadi. Dalam benak si bocah, sosok sang dara yang tak pernah tersingkir,, kemudian seperti terpahami bahwa ia _dalam garis ini_ memang sedang berperan dalam menggenapi takdir yang sering dikabarkan setan.

Dan tiada sedikitpun yang surut dari perasaan Abdillah terhadap-nya. Mulai pagi ke malam hingga siang berganti lagi, citra diri gadis itu senantiasa mewujud sebagai harapan maha tinggi _ mengalahkan kecintaannya kepada kawan, saudara yang mengasihi dan bahkan kepada diri sendiri. Laksana energi; harapan yang sesak dengan keinginan-keinginan tersebut, menjelma menjadi ruh yang menggerakkan raga, memberi cahaya dalam perjalanan, nafas hidup, semangat, bahagia, dan sekaligus sebentuk kepedihan tak terkata; 
ketika Abdillah yang bodoh _ pada akhirnya menyadari juga akan adanya suatu ikatan yang terjalin khusus antara Ar-rahma bint Nasir dengan Al-imam yang populer.

Sebuah kenyataan pahit tak terelakkan,
Al-Imam jauh lebih tangguh dari yang ia duga selama ini.

****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8