SANG SETAN, Bagian 11

 
Sore itu langit terlihat cerah.
Indah birunya seperti tak pernah menyerah menebarkan kilau harapan bagi setiap makhluk di Desa Kecil. 
Diselatan, hamparan padang tampak telah lengang karena sebagian besar penggembalanya telah pulang. Tinggal Abdillah dan Ibnu Sidik saja yang masih bertahan seperti tak peduli bahwa alam sedang menuju petang. Kedua remaja itu malah melangkah kesebatang pohon besar yang terus bergoyang dihembus semilir angin dan berbaringan dibawahnya... Sementara dari kejauhan, suara koak burung gagak terdengar bersahutan, seperti sedang mendendangkan tembang tentang pemakaman.
 
Beberapa hari telah berlalu, namun perasaan hancur serta kepedihan paling pahit masih menggelayut dalam jiwa Abdillah sejak peristiwa malam durjana dengan Ar-rahma. 
 
"Ternyata perasaan Ar-rahma kepadaku memang tak seperti yang kita pahami, Ibnu Sidik".
Abdillah menggeliat gelisah, ia berguling membenamkan wajah ke rerumputan disekeliling kepala. Dan seperti geram, si bocah mulai mengunyah beberapa ujung rerumputan yang secara tak sengaja masuk kemulutnya.

"Hampir seminggu sejak kepulangannya dia menghindariku... Malam itu setelah pelajaran agama, kuberanikan diri menyapa dan mengikutinya. Tapi dia ternyata bukan Ar-rahma yang kukenal dahulu... Sikap dan kata-katanya menunjukkan rasa jijik dan kebencian sangat dalam. Aku sadar, dia mungkin jijik dan benci dengan diriku yang tak bisa seperti yang dia mau. Tapi kalau memang begitu, lalu apa artinya hari-hari baik yang baru kemarin kami jalani? Menurutmu kenapa hati manusia bisa berubah sedemikian mudah, teman?".


"Jangan menyerah".
Kata Ibnu Sidik seperti menghiba. 
"Ini belum berakhir. Menurutku malah belum benar-benar dimulai". Katanya melanjutkan.

"Kukira ini usai, Ibnu Sidik, setelah Ar-rahma memvonis aku layaknya kecoak, siput menjijikkan bahkan ibarat monster mengerikan yang menyebarkan virus maut sangat berbahaya di malam itu".

"Kita tak pernah tahu apa yang merasuki Ar-rahma hingga dia mampu berbuat demikian. Bisa saja yang terjadi ini bukan benar-benar keinginan hatinya tapi dia hanya termakan omongan para penghasut. Yang kutahu, dilingkaran kita memang tak banyak yang menyukai kedekatanmu dengannya".
 
Ibnu Sidik bangkit dari rebah, duduk dan menoleh ia menatap tajam kepada Abdillah dengan sinar mata penuh hirau.
 
"Dan saat ini, mungkin dia sedang sumpek juga karna memang sedang banyak yang mengejarnya... Ada tuan Thaha yang ahli agama dan bos okE yang gagah dan kaya".
 
"Itu aku tahu. Atau lebih tepatnya... karna sekarang ada bertumpuk pilihan yang jauh lebih baik dariku dan itu sungguh membingungkan otaknya, iya kan?!". Abdillah membalas Ibnu Sidik dengan pandangan dan nada bicara yang sinis.

"Percayalah Abdillah, kamu tidak akan benar-benar mengerti hati Ar-rahma sampai dia berkata tidak....".
 
"Iya teruskan, Lalu apa...?"
 
"Katakan perasaanmu secara langsung kepadanya. Dengan begitu maka tidak akan ada lagi yang perlu disesali".
 
"Apalagi yang mungkin kuharapkan? Itu akan sama halnya dengan mempercepat kematianku".
Abdillah mendesah panjang, diikuti geliatan badan yang kini telentang, menatap kosong pada rimbun dedaunan di atasnya.
 
"Tidak sekarang. Kita akan mencari kesempatan yang baik. Ingatlah kawan, kita terlahir sebagai laki-laki. Hidup sebagai laki-laki. Dan matipun, kalau harus _ maka matilah sebagai laki-laki pula,".

Abdillah terhenyak.
Kalimat-kalimat Ibnu Sidik begitu tajam menyeruak kalbunya. Itu terdengar seperti perkataan seorang yang telah kenyang dengan pengalaman cinta dan hidup. Padahal yang dia tahu, meskipun usianya memang lebih tua, Ibnu Sidik sejauh ini belum pernah sekalipun jatuh cinta apalagi terlibat dalam permasalahan hati dengan seorang wanita. Belakangan, dia memang sesekali menyampaikan kekaguman pada kecantikan seorang perempuan, tetapi itu seringnya pada gadis yang berbeda-beda dan ia tak pernah berbicara tentang cinta.
 
Tertegun cukup lama, bocah Abdillah coba merenungi ucapan sang kawan barusan. Hingga dia menjadi kagum dan semakin mengerti bahwa ternyata setiap hati sungguh tak dapat diremehkan karena ia memiliki keunikannya tersendiri; selalu berbeda dan tak terduga.
 
"Kamu tahu kenapa aku mau status hubunganmu dengan Ar-rahma menjadi jelas?"
"Baiklah... Aku akan menceritakan sebuah rahasia". Ibnu Sidik meneruskan bicara setelah hanya mendapat tatapan jalang dari Abdillah sebagai respond atas pertanyaannya.
 
"Tanpa engkau, aku beberapa kali bertemu Soleha. Tak jarang kami membicarakanmu. Entah aku atau dia yang lebih dulu. Dan dari pembicaraan-pembicaraan itu aku mendapatkan sebuah keyakinan; bahwa kemarin, sebenarnya ada saat-saat yang apabila kamu katakan cinta kepadanya, Soleha tak akan mampu menolakmu. Maksudku, kalau memang harus selesai, selesaikan urusannmu dengan Ar-rahma dan berpalinglah padanya. Semoga sekarang belum terlambat".
 
Abdillah bangkit dari rebah. Dalam duduk terpatung ia menatap hampa kepada sang karib.

"Ibnu Sidik, aku bukan tak memahami itu. Dari kelembutan sikapnya, juga dari sinar matanya setiap memandangku saat kami berbicara.... Akupun telah merasakan sejak jauh sebelum hubunganku dengan Ar-rahma menjadi intens seperti sekarang. Tapi dia itu sahabat yang teramat baik. Soleha tidak boleh dikorbankan hanya untuk pelarian dan keinginan yang tipis ini. Dia pantas mendapatkan seseorang yang mencintainya tanpa syarat; yang memang hanya menginginkannya atas alasan dirinya sendiri".
 
***
 

"Dia melukaiku sedemikian parah dan aku tetap tak bisa membencinya sedikitpun. Bagaimana aku bisa menggilainya hingga macam ini, setan?? Aku sesungguhnya rindu mencintai dia seperti orang-orang.... Seperti Al-imam, tuan Thaha, Bos okE atau yang lainnya. Yang ketika berpisah dengan Ar-rahma mereka baik-baik saja dan dengan mudah dapat segera melanjutkan hidup... Tapi kenapa padaku hal itu tak berlaku...".
 
"Karena Ar-rahma pun sebenarnya tak semudah itu melepaskan anda. Ego-nya memang tinggi dan dia tampak tegar. Tapi aku tahu dia juga tersakiti dengan keadaan ini. Dan mengenai hati, memang demikianlah hati manusia, tuan... Ckkkhhh....! Nisbi, mudah berubah dan tak pernah yakin. Makanya, jangan terlalu berharap dari itu". 
 
Malam begitu tenang dengan angin lembut yang berhembus menyelimuti Desa Kecil. Tengah malam takkan lama lagi dan ini telah berlalu seminggu sejak Ar-rahma pergi ke ibukota provinsi. Dalam pelukan lelah, Abdillah yang semula duduk tertunduk ditepi pembaringan dalam kamarnya yang gelap _ bangkit lalu berjalan gontai keluar menuju keperempatan jalan dekat rumahnya. Meninggalkan ruang bersejarah yang kini telah bersih, tanpa tumpukan kertas-kertas, tanpa pena, cat warna atau kuas-kuas gambar. Hanya tinggal sebuah lampu minyak tak menyala yang meringkuk disudut meja.

Dilangit, bentangan cakrawala yang bertabur bintang terlihat indah dan agung. Hamparan kerlip gemerlapnya sungguh melukiskan kebahagian dalam dunia yang terkesan sedang baik-baik saja. Kontras sekali dengan keadaan yang kini sedang Abdillah alami.


"Ckkhhh..!!! Tuan..... Bagaimana jika Ibnu Sidik benar?,"
Setan yang malam itu tampil dalam wujudnya yang tak biasa; besar berjubah dan mengesankan sosok mistikal paling menyeramkan, tiba-tiba berucap lirih, sembari ia berjalan seperti melayang di atas Bumi nol gravitasi mengekori langkah-langkah goyah si bocah Abdillah...
 
"Tentang apa, teman?".
 
"Buat apa melepaskan air hanya untuk terus berharap mampu menggenggam angin?"
 
Abdillah tiba-tiba tengadah. Berhenti sesaat ia menatap tajam kepada setan...
 
"Pandanglah Soleha... Mungkin dengan begitu kita bisa mempecundangi takdir... Ckkkhhh....!"

Kata setan meneruskan ucapannya, hal mana membuat si bocah seketika menelan ludah.


"Itu tak dimungkinkan. Aku tidak pernah meyakini hatiku dengan Soleha. Memaksakan situasi tersebut, suatu saat nanti pasti akan membuat kami tersakiti. Akh! Kamu berfikir begitu apakah karena engkau telah menyerah setan?!".

"Kkkkkkhhhhh......!" Setan hanya menjawab dengan gelengan kepala dan pekikan panjang...
 
"Kalau kau menyerah, maka pergilah! Aku merelakan pertalian kita. Dan aku... Mungkin akan terus melanjutkan perjalanan, tanpa engkau".

"Cckkkhhh..... Tidak mungkin aku pergi, tuan. Aku adalah sisi buruk sekaligus yang termulia dari diri Anda. Aku adalah yang bersemayam dalam hatimu, dalam sel dan sendi-sendi, dalam darah yang mengalir itu... juga dalam partikel nafas yang engkau hembuskan. Sebab aku adalah pemikiran-pemikiranmu.... Hayalan dan ide-ide terliar! Apakah anda lupa....?? Aku-pun belum menyerah terhadap Ar-rahma, karena aku sesungguhnya juga meyakini takdir bahwa dia akan menjadi salah satu yang terpenting dalam hidupmu hingga bertahun-tahun dari sekarang. Bukankah kepentinganmu adalah kepentinganku juga?".

"Kalau begitu ikutilah aku dan berikan aku saran. Kini cintaku telah kandas, apa yang harus kulakukan? Keperihan ini bukan hanya merenggut hati... tapi juga harga diriku, setan... karena dia adalah cinta pertamaku,". Abdillah menghempaskan dirinya ke jembatan.
 
"Jangan terlalu risau, tuan. Bahkan Kahlil Gibran yang agung, bukan hanya sekali dia mengalami patah hati. Ckkkh…! Menurutku laki-laki boleh saja mengagungkan cinta pertama. Tetapi kuyakinkan padamu, bagi seorang wanita, yang paling bernilai adalah cinta terakhir. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan dia ingat disaat Ar-rahma menarik nafas terakhirnya nanti. Dan hari ini saranku masih sama, kita akan berhenti sejenak. Membuat jeda dengannya. Biarkan saja sang waktu dan mantera-manteraku yang sekarang bekerja... Ini akan kuperkuat lagi".
 
Bocah Abdillah mendongak perlahan.... Dan ia menatap tajam ke setan dengan bola-bola matanya yang berkilat penuh pengharapan.
 
"Baiklah setan, jika engkau masih meyakini pertalian kita ini maka tolong jaga ingatannya tentangku. Terus mimpikan dia tentang hari-hari berarti yang pernah kami jalani sampai dia menemukan kembali kebaikan hatinya. Sementara aku akan mengikuti kemauan Emak. Belajar di tempat baru, manusia-manusia baru juga kesibukan baru yang semoga mampu menumpulkan pengaruh gila Ar-rahma atas hidupku ini. Aku memang letih dan butuh jeda dari memikirkan dia. Ya, kurasa bahkan cinta-pun juga butuh istirahat...".
 
"Cckkhhh..! Aku bahagia... Persis seperti inilah yang sering dikatakan para waskita, bahwa selalu ada kekuatan yang luar biasa dibalik kepedihan serta keputusasaan. Dan tentu saja tuan, demi kesepakatan yang sarat dengan kepentingan baik ini, aku akan terus menemanimu menapaki babak baru dalam memperjuangkan dia. Tetapi hal pertama yang paling penting untuk dilakukan sekarang adalah; Anda harus memaafkannya meskipun Ar-rahma tidak meminta. Karena itu untuk kepentinganmu... Untuk kedamaian hatimu sendiri. Sesungguhnya setiap maaf selalu meringankan beban dan melapangkan fikiran".
 
 
Setan menyusut perlahan....
Kemudian dengan gerak nan santun ia melangkah mendekati Abdillah dan duduk disampingnya. Meremas lembut pundak bocah itu lalu merangkulnya dalam dekapan erat yang hangat penuh persahabatan. 

“Dan mulai sekarang, mari belajar mengendalikan rasa sedih serta bahagia dalam fikiran kita. Sebab jika kita terus saja berfikiran buruk maka kita akan selalu merasa sedih dan menderita. Tetapi andai kita mampu lebih fokus kepada hal yang positif, pasti kita akan merasa tentram dan bahagia. Lalu semuanya akan baik-baik saja… Ckkkkhh…!”

Untuk kesekian kalinya, Abdillah menatap setan dengan bola-bola matanya yang semakin berkaca. Mencoba menelisik lebih jauh kebalik garis-garis halus pada wajah kerut berkeriput yang kini tak lagi membuatnya takut tersebut.

 
Malam ini ia tiba-tiba merasa mendapatkan sebuah kesadaran yang mendalam tentang betapa penting dan berartinya keberadaan setan dalam garis takdir hidupnya bersama Ar-rahma bint Nasir. Dari seluruh petuah bijak serta perhatiannya ia ingat kembali; yang selalu menjadi penyelamat disaat-saat krisis sekaligus menghadirkan rasa nyaman juga kemampuan untuk bangkit dari setiap keterpurukan. Si bocah kini mengakui, bahwa dibalik kedukaan mendalam yang sekarang tengah ia rasakan, memiliki setan disisinya ternyata mampu menjadi penguat dalam menanggung beban berat akibat segala keinginannya terhadap Ar-rahma, dan itu menciptakan sebuah kelegaan dalam dada serta memberikan hikmah yang agung bagi pemahamannya. 

Lalu seketika batinnya segera merapalkan do'a-do'a yang sedemikian tulus demi kebahagiaan dan terwujudnya segala impian setan tentang keadilan sebagaimana yang selama ini ia tafsirkan. Do'a-doa mulia untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka dimasa depan. 

آمينَ يَا مُجِيبَ السَّائِلِينَ
MJ, 22 Maret 2024
***
 Sang Setan, Bagian 12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8