SANG SETAN, Bagian 7

Mirip tiga tahun sebelumnya, keadaan di kamar Abdillah masih sama, berantakan dan penuh dengan sarang laba-laba. Sementara lembar-lembar kertas lusuh juga masih teracak di atas meja dengan sebagian yang lain berserakan dilantainya.

Namun begitu, pada dinding kamar yang sekarang sudah lebih halus ada satu hal yang lumayan akan menarik perhatian bagi yang baru memasuki  kamar tersebut. Yakni sejumlah poster berukuran besar karya Abdillah sendiri yang kesemuanya bertemakan tentang perang jihad melawan Rusia di Chechnya atau keangkuhan Zionis dan Amerika atas dunia muslim,

"Death for America, death for Israel. Allah is great!".

Hari ini Abdillah masih setia bergelut dengan catatan-catatan harian yang seperti dokumen-dokumen kuno itu, ketika Ibnu Sidik; karibnya yang terpercaya tiba-tiba muncul dipintu kamar.

"Masuklah teman,"
Sapanya lirih seperti merajuk, yang hanya dibalas oleh sang kawan dengan senyum simpul sembari membaringkan dirinya ke tempat tidur bersisian dengan Abdillah.

"Kemana saja engkau dua hari ini? Kenapa waktu itu gak datang saat buka bersama di mesjid?"
Abdillah begitu sibuk, dengan cepat merapikan dokumen-dokumen rahasianya, disaat Ibnu sidik mulai celingukan dan mengintip kecil.

"Kemarin itu aku sedang ada keperluan. Ceritakanlah seseru apa? Oiy, katanya kau ada cerita dengannya...".
Ibnu Sidik melirik cengar-cengir, namun cepat-cepat ia membuang wajahnya ke langit kamar yang penuh dengan sarang laba-laba _ saat Abdullah menoleh dengan pandangan menyelidik.

"Luarbiasa, aku akan menyesal seumur hidup jika sampai gak datang. Hey.. apa kau sudah mendengarnya juga?" 

"Begitukah?? Apa Ar-rahma juga datang?"
Ibnu sidik tak menjawab, malah balik bertanya sambil kembali cengar-cengir.
 
"Itulah teman. Putri Biru itu memandangku aneh. Beberapa kali malah. Aku belum pernah merasakan tatapannya yang seteduh itu sebelumnya".
"Dia tersenyum padamu?"
Ibnu sidik merubah posisi tidurnya, mengamati dengan seksama ia seperti sedang meneliti karibnya.
 
"Ya! setiap kali aku memandangnya. Senyumnya nyaris memutuskan nafasku. Ia bahkan menyediakan dirinya untuk dipoto bersamaku oleh pak guru. Dan tidak hanya itu, kami juga sempat juga nyanyi berdua; Hit me baby one more time....".
 
"Benarkah?!"
Ibnu Sidik bangkit dari rebah bersama senyum tipis yang tiba-tiba menghias bibirnya, mendapati reaksi Abdillah yang hanya nyengir mengerling.
"Kalau begitu dia pasti menyukaimu. Aku yakin. Dia kan sudah putus dengan Al-imam".
 
Ucapan Ibnu Sidik begitu semangat - penuh keoptimisan ia menepuk pundak Abdillah yang hanya menoleh sesaat dengan tatapan datar sebelum kembali lagi pada tumpukan kertas lusuh di meja kamar. Entah mengapa, kalimat-kalimat Ibnu sidik barusan yang sedemikian polos, ditelinga Abdillah malah terdengar serasa hampa tak bermakna.

"Mana mungkin Ibnu Sidik..."
Ada sahutan berat setelah hening beberapa detik. 
"Aku bukan siapa-siapa. Sedangkan Ar-rahma begitu tinggi, setinggi setiap keinginanku terhadapnya, mana mungkin perasaan macam itu merasukinya...".

"Baiklah, kalau menurutmu begitu kita lihat saja bagaimana ini akan berlanjut,"
Ibnu Sidik tak meneruskan ucapannya, ia kembali berbaring lepas dan segera menyadari bahwa saat ini sungguh tak penting lagi untuk berpendapat.

***
 

"Ngng...mmmm...oohhh...."
Ar-rahma menggumam sambil memejam mata. Tubuh nan padat indah itu terus menggeliat resah, menggigil oleh peluk cium Abdillah yang panas membakar dalam gejolak hasrat menggebu penuh nafsu membiru.

Sejauh ini, kerudung bunga-bunga yang tadi ia kenakan telah tanggal! Memperlihatkan seluruh wajah oval jelita dengan rambut hitam tergerai sepenuhnya.
Abdillah mungkin telah gila _ dibawah ketidakberdayaan sang dara yang tak pernah menepis setiap sentuhan cinta dirinya. 
Ia kecup bibir merah nan basah itu, melumatnya penuh gairah dengan mengorbankan beberapa tarikan nafas demi dengusan yang terengah. 

Ar-rahma mendesis tertahan _sekali lagi_ mirip sebuah erangan. Ada liukan gelisah bagai meronta ketika bibir kering Abdillah telah sampai dilehernya. Menyapu buas tiap lekuk dari bagian yang jenjang tersebut. 
Kedua tangan Ar-rahma menggapai lemah kemana saja, berusaha mencari pegangan didinding dimana Abdillah menyandarkan tubuhnya, namun ia tak menemukan apapun selain hanya selalu berakhir pada rambut kusut dikepala si bocah yang kini telah rakus membenam didada sang dara.

Putri Nasir menjambak kesetanan tanpa sadar karna sebuah luapan membuncah dari dalam dirinya yang mengelegak tiba-tiba. 
Tapi Abdillah tak peduli, 
Ia tetap melumat habis - menggigit lembut sepasang buah apel yang ranum tersebut; symbol pesona nan padat membusung dibalik gaun tipis si gadis.

Situasi drastis tak terkendali, kian jauh kegilaan Abdillah tatkala Ar-rahma diakhirnya merespond dengan agresifitas yang lebih tinggi.

Akan tetapi sebelum yang lebih ekstrim terjadi, segera ada gelinjangan memberontak.... Geram !

"Arrghh..."
Abdillah mendengus berat _ mengucurkan segelas air dingin dari atas meja kekepalanya yang mendidih.

Ini mungkin yang kelima atau entah yang keberapa sejak Ramadhan yang ke duapuluh satu itu.
Abdillah tak pernah ingat. Namun ia telah bertekad untuk mengalahkan setiap segala fantasi liar yang membuat kepalanya selalu sesak oleh salah satu hayalan paling kotor dalam setumpuk daftar keinginannya terhadap Ar-rahma bint Nasir yang laksana segumpal racun dalam otak.
 
Bahkan, untuk mewujudkan tekadnya ini Abdillah sampai mengucap sebuah sumpah demi penjagaan dan usaha menyelamatkan diri dari segala yang mungkin terjadi dimasa depan.

"Tuhan, Engkau tahu betapa keruhnya keinginan-keinginan dalam perasaan suci yang kumiliki. Andai suatu nanti dia sudi menghargai perasaanku, aku berjanji aku akan mencium bumi saat tengah malam di dua tempat dimana aku terbiasa memikirkannya, dan aku tidak akan mengotori Ar-rahma sekalipun aku mendapatkan kesempatan itu. Jika aku tak mampu mengendalikan diriku, maka cabutlah nyawa ini".

***
 

"Tuan, anda terlihat sangat bahagia...kkkkkhhhh....."

Awan sore terlukis merah dilangit barat. Bersama dengan suaranya yang serak bergetar, setan muncul dikejauhan  _ berjalan gontai ia seolah tanpa semangat dan tampak begitu lelah. Sosoknya yang laksana bayang-bayang suram terlihat kacau; kusam bergoyang seperti limbung. Sebagai tumpuan, tangannya memegang kuat tombak bermata tiga yang semenjak dahulu selalu ia bawa-bawa. 
Ini adalah penampilannya yang pertama kali sejak ia berpamitan kepada si bocah Abdillah pada tiga tahun yang lalu.

"Setan, darimana saja engkau ??!... Oh, aku nyaris melupakanmu..."
Abdillah berseru kaget, dengan wajah yang gembira bercampur cemas ia berlari menyongsong kedatangan setan, namun ketika dekat... raut mukanya segera berubah pucat, terlebih setelah mengetahui tubuh setan yang ternyata penuh luka, roboh dihadapannya.

"Setan, kamu kacau sekali. Apa yang terjadi padamu?"
Abdillah memekik dan langsung menghambur memeluk tubuh setan.

"Tuan... kalau Anda masih menginginkan aku selamat, berdo'alah kepada Tuhan dengan hati yang tulus sekarang juga. Mintalah agar Dia sudi menyembuhkanku... kkkkhh...".

Suara setan sesak dan terputus, sekali lagi ia menarik nafas berat sebelum sosoknya kini benar-benar terkulai dipangkuan Abdillah. Tampak sangat tersiksa, keadaan setan membuat Abdillah menjadi iba.

"Setan, aku akan berdo'a untukmu, kumohon sembuhlah..."
Abdillah menggigit bibir. Sebuah perasaan takut kehilangan tiba-tiba menyergap benaknya bersama dengan datangnya bayang-bayang kegetiran. Ia pun memejamkan mata dan mulai merapalkan do'a-do'a dalam hati untuk kesembuhan setan.

***

... . .  . dengan energi paripurna, setan Bahtar merontokkan rantai yang melilit tubuhnya, sesaat ia sempoyongan. Kemudian dengan seluruh kemampuan yang tersisa ia melawan gempuran dari para penyerang. Dan pertarungan tak seimbang itu akhirnya disudahi setelah satu pukulan gabungan dari setan-setan hitam berhasil mementalkan tubuh setan Bahtar dengan telak, melewati pintu gerbang terluar dari kerajaan Iblis; gerbang ke-300.
 
***

"Subhanallah... okh ini seperti nyata saja..."
Abdillah mengerjap-ngerjapkan mata, bersandar ke dinding sembari memegangi kepalanya yang pusing tujuh keliling akibat mimpi aneh barusan. Ia melirik sekilas jam kecil di atas meja kamar, pukul setengah tiga dinihari lalu berpindah memandang kebagian bawah pembaringan, dimana ia dapati setan telah duduk termanggu disana.

"Tuan, anda baru saja melihat yang sebenarnya. Memang itulah yang telah terjadi diduniaku. Gerakan kami terbongkar dan baginda Iblis tidak dapat menerima niat baik itu. Banyak pemuka dari berbagai klan telah dibekukan. Aku sekarang... tiada tempat lagi selain disisi anda.. Kkkkhhhh....".

"setan.... bagaimana aku bisa yakin ini bukan tipudayamu?"
"Ckkkkh! Demi surga, Illahmu juga illahku,... Anda lihatlah, bahkan demi pengakuan ini aku telah kehilangan segalanya. Klan, kedudukan dan dimusuhi oleh seluruh ras yang dulu kami saling terikat..."

Abdillah bungkam, menutup telinga dan kepalanya dengan selimut. Tapi suara-suara setan masih saja terdengar - membisik dari balik remang.

"Tuan, aku tidak akan lagi meninggalkanmu. Dan dengan segenap kemampuan aku akan membantu segala yang anda usahakan, Kkkkkhhh.... kuharap engkau juga begitu terhadapku".

"Semoga saja setan, tapi mimpi itu tadi... Itu seperti dalam film-film, betapa fantastis!. Buktikan kalau kamu memang sehebat itu..."

"Tuan, lupakah anda bagaimana jika seekor hiu yang ganas dilaut, dilemparkan ke daratan? Kkkhhh...!".
"Mungkin dia hanya akan berteriak ... tolong,"
"Ckkkh!, begitupun aku. Ini adalah dunia manusia. Ada hukum-hukum tersendiri yang berlaku disini dan aku terikat olehnya. Namun andai tuan sudi bersabar, suatu nanti akan kutunjukkan padamu satu jalan menuju kesadaran diri; sebuah kemurnian paling bermakna yang ketika engkau telah mampu merasakannya, engkau akan menjadi manusia paling hebat didunia..."

Abdillah yang masih diselimuti kekosongan dikepala hanya sanggup mengecap liur dilidah saat _dengan senyum tipis nan misterius_ dan melalui desir yang halus kata-kata setan kembali menghujam tajam dikedalaman otaknya bersama sorot sinar mata yang penuh keyakinan. Hal mana membuat si bocah segera beringsut menggigil di sudut pembaringan.

***

Seiring masa, kekaguman dan rasa hormat Abdillah yang sedemikian tinggi kepada Ar-rahma bint Nasir, pada akhirnya malah menjelma menjadi semacam monster rasa takut dibalik kecintaan yang begitu dalam. Dan karena tak satupun yang mampu memahami dilema ini selain hanya setan yang sejauh ini belum mampu ia percaya sepenuhnya, maka Abdillah lebih suka menguburnya sendiri.

Namun sesungguhnya sejak hari itu tumbuh pula didasar hatinya yang lain; suatu pengharapan besar, yang bergejolak laksana kawah merapi dan selalu memaksanya untuk tetap mempertahankan kekaguman yang pahit tersebut.

Terlebih, pertemuan demi pertemuan yang kemudian terus terjadi sungguh menyemaikan dua sisi nyawa kehidupannya; yakni keberanian untuk berharap dibalik ketakutan untuk berhadapan dengan kenyataan.

Iya, Abdullah sesungguhnya sangat mengerti bahwa ia sebenarnya memang tak pantas untuk Ar-rahma, namun kebutaan akibat cinta yang menggila nyatanya telah membuatnya abai untuk menyadari betapa rendahnya derajat diri.

Hingga tanpa ia pahami, terjalin sudah keakraban yang hangat itu, teruntai bersama bergulirnya hari-hari baik dalam rangkaian kata yang kini mulai sarat dengan hakikat, seiring perputaran sang waktu dan musim yang tak terhadang...

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8