Trak !
Abdillah begitu kesal, membanting kuas lukis ke-meja dan meremas-remas kertas gambar itu sampai lumat lalu mencampakkannya kelantai, berbaur dengan gumpalan-gumpalan kertas lain yang sudah lebih dulu berserakan.
Sedang disampingnya, setan hanya tersenyum-senyum simpul.
"Okh kenapa susah sekali, gak ada yang mirip dia,".
"Ckkkh... coba lagi tuan, ini belum yang ke-sepuluh. Tuan pasti bisa, aku yakin. Ada bakat itu ditanganmu".
"Tapi setan, ini konyol sekali, biasanya aku hanya menggambar dua gunung dan matahari terbit. Sekarang kau suruh aku melukis wajah Ar-rahma,".
Abdillah menghempaskan tubuhnya ke pembaringan. Sementara setan tampak beringsut mendekat ke si bocah.
"Tuan, aku mulai memahami hati terluarnya, Ar-rahma menyukai ini. Dia juga hobby menggambar walaupun hasil gambarnya lumayan jelek. Dan dalam hal ini aku berani menjamin, apa yang anda lakukan hari ini akan memiliki pengaruh besar; menjadi penentu bagaimana dimasa depan dia akan menilai dan memperlakukanmu,".
"Benarkah? Kenapa baru bilang sekarang??.... "
Abdillah tegak kembali, melotot ke setan.
"Ar-rahma menyukai lukisan, dimana itu tadi?"
"Dihatinya yang terluar. Sudah, sudah, ayo kerja lagi. Aku akan membantumu".
Habis berkata seperti itu, setan tiba-tiba menguap, menjelma asap tipis yang menyelimuti Abdillah. Hal mana membuat si bocah seketika kembali cerah; penuh semangat ia segera menyiapkan kuas dan kertas gambar terbaru dengan potret Ar-rahma yang berpose manis tanpa jilbab; menampilkan rambut panjangnya yang hitam tergerai, sebuah photo hasil jarahannya dari seorang kerabat sang gadis.
Lalu tak jauh disisi meja yang lain 'malam digerbang masjid', photo karya pak guru Al-fauzan yang menampilkan kejelitaan Ar-rahma dalam balutan gaun dan jilbab biru, seperti turut melengkapi.
"Tak seberapa mirip,"
Kata Abdillah lirih sekitar setengah jam kemudian sambil membanding-bandingkan hasil polesannya dengan photo asli Ar-rahma.
"Tak apa tuan, justru disitulah terletak art-nya".
"Yah lumayan, ei apanya?"
"Art-nya, nilai seni. Ini lukisan bukan photo! Harus berbeda. Cobalah anda perhatikan gambar itu, bukankah pesan yang ingin disampaikannya sedemikian kuat..?"
"Pesan apa?"
Abdillah memandang setan sebentar, lalu kembali lagi mengamati hasil gambarnya.
"Anda sangat mencintai dia".
Jawaban setan terdengar minor, memaksa Abdillah tersenyum kecil dibalik ketertundukan.
"Akh setan, ternyata kamu sok tahu juga ya... hahaha... Tapi masa cuma seperti ini, tidak ada variasi...??".
"Kkkkkkhhh!.. Tenang tuan... Aku punya syair hebat, tuliskanlah!"
***
wanita,
tercipta dari tulang rusuk pria.
bukan dari kepala yang untuk dipanggul,
bukan dari kaki yang untuk diinjak-injak.
tetapi dari kedua sisinya...
yakni yang dekat dengan tangan untuk dilindungi,,
dan dekat dengan jantung untuk dikasihi.
~kahlil gibran
***
Selepas isya', Abdillah telah bersedia ditepi jalan besar ditengah desa yang bercabang mengarah langsung ke Masjid cahaya dengan ditemani oleh setan dan perasaan hati yang berdebar. Tujuannya hanya satu, mencegat Ar-rahma untuk memberikan karya hasil kolaborasinya barusan dengan setan.
Sayangnya, pujaan hati tak kunjung dijumpai. Hanya Laila; saudari Ar-rahma yang kemudian lewat bersua.
"Mana Ar-rahma!?"
Abdullah menghadang gadis kecil tersebut. Matanya nanar dan nada bicaranya terdengar tak cukup ramah. Malah mirip seorang yang hendak memalak.
Laila mengernyit diikuti cengar-cengir.
"Gak ada. Dia ngga ke mesjid,"
Laila menjawab dengan reaksi dibuat lebih seram seraya coba berkelit menghindari Abdillah. Tapi Abdillah lebih cepat, telah menangkap pergelangan tangannya.
"Hey tunggu, kalau begitu titip ini... untuk Ar-rahma, dan sekalian sampaikan salamku pada dia, salam ehem ya, awas jangan lupa kamu,".
Abdillah merogoh saku baju, menyerahkan sebentuk bungkusan dari kertas kepada Laila...
"Apa ini?.... Uang?" Tanyanya sembari kembali cengar cengir...
"Sudah, berikan saja"
Abdillah sepertinya tak ingin berlama-lama. Lepas jawaban pendek itu, ia segera bergegas pergi meninggalkan Laila yang masih bengong tak mengerti.
***
"Pasti Ar-rahma sedang 'halangan', iya kan?! Buktinya dia ngga pernah ke mesjid".
Abdillah berucap kepada Laila, dua malam berikutnya saat mereka melenggang berjalan pulang bersama dari masjid Cahaya,
"Enggak. siapa bilang?!"
Jawab si gadis dengan tatapan mata melirik tajam pada mimik muka Abdillah yang lugu.
"Lalu..? Apa dia takut ketemu Al-imam?" Kata Abdillah ngawur dan menebak-nebak.
"Gak tahu. Dia bilang masih malas. Mungkin besok,"
"Oh ya, bagaimana dengan titipanku, sudah kamu berikan ?"
"Iya, aku gak tahu apa isinya, tapi Ar-rahma selalu tersenyum kalau aku bertanya soal itu. Dia kelihatannya senang".
"Serius??" Abdillah refleks berhenti, menarik tangan Laila yang malah seperti risih
"Iya, serius. Memangnya apa yang kamu berikan?"
"Sudahlah, nanti juga kamu tahu. Lalu salamku... ?"
"Ya, dia salam kembali".
Abdillah melongo. Jawaban Laila yang dibarengi kedipan mata
nakal barusan seketika membuat nafasnya terhenti seketika. Si bocah tentu saja
bahagia, sebab di Desa Kecil di jaman yang penuh kesederhanaan ini, ada semacam
konsensus tak tertulis yang telah lama saling dipahami, bahwa ketika seorang
gadis menerima dan membalas salam dari seorang lelaki yang secara umum telah
diketahui menyukainya, maka dapat diyakini bahwa gadis itu-pun juga menyukai
atau minimal memiliki gambaran perasaan yang sama dengan si lelaki.
Terdiam dengan wajah tertunduk hingga sampai diperempatan jalan
besar yang telah terbiasa memisahkan mereka, Abdillah kemudian ngeloyor pergi
tanpa sepatahpun kata permisi. Sementara Laila tertinggal sendirian dalam
reaksi datar. Lalu ada sekilas senyum tipis tersungging dibibir remaja muda
tersebut, diantara ekspresi polos wajahnya yang sekali lagi seperti belum
sepenuhnya mengerti.
***
"Yess !!!"
Si bocah Abdillah melompat kegirangan ke tengah pembaringan sembari tangannya meninju bahu setan yang telah lebih dulu sampai dikamar itu.
"Keren! Karyamu luarbiasa teman, dia menyukainya,"
"Ckkh! itu karyamu tuan,"
"Sulit dipercaya jika itu karyaku. Aku malah lebih yakin semua ini adalah buah dari tipudayamu, setan, hahaha...". Kata Abdillah sambil tertawa lebar sejenak sebelum melakukan sebuah sikap lilin yang alakadarnya.
"Kkkkkhh... kkkkh!... kkkh!..."
"Tapi tuan, barusan anda memanggilku apa?.... Teman??"
Setan merespond setelah melepaskan suara seperti terkekeh panjang.
"Iya... Teman. Mulai sekarang kita adalah teman".
Abdillah berguling dan duduk ditepi ranjang. Kemudian dengan disertai senyum membuncah penuh persahabatan ia mengulurkan jabat tangan yang segera disambut oleh setan dengan tatapan matanya yang berkaca penuh sukacita.
"Teman..... Ckkkkkh! terdengar sangat manis tuan".
Hingga beberapa saat lamanya kedua makhluk berbeda wujud tersebut berjabatan tangan begitu erat, sementara pandangan mereka juga saling berpadu, seolah sedang berusaha sepenuhnya memberikan pancaran sinar mata untuk saling percaya.
"Baiklah, sekarang ayo kita buat lagi yang lebih mirip dia,".
Kata Abdillah kemudian seraya sigap penuh semangat ia menyiapkan kertas gambar, kuas dan cat lukisnya. Tak ketinggalan, photo-photo Ar-rahma yang indah dipandang, telah lebih dulu terpajang.
"Tapi tuan," Setan tiba-tiba menyela namun tak meneruskan kata-katanya, membuat Abdillah menoleh dan memperhatikan dengan seksama.
"Ada apa?"
"Agamawan bilang ini dosa besar, ckkkkh.... Ada ancaman hukuman sangat mengerikan untuk yang melakukannya,"
"Menggambar??"
"Ya".
"Oh setan, rupanya ada juga hal sepele yang tidak kamu mengerti. Yang kita lakukan ini bukan seperti yang para agamawan itu fikirkan. Mereka mengira, kita yang hanya manusia dan setan ini layak bertanding dengan Tuhan? Kita juga tidak hendak menyembah gambar-gambar ini bukan? Mereka yang berfikir demikian itulah yang berdosa. Padahal hati kita bersih! Tak pernah terfikir ingin mendurhakai Dia. Malah, melalui ini aku dengan mudah dapat memuji kebesaranNya... Bukankah setiap perbuatan dinilai dari intensinya?".
Setan tak menyahut, hanya dengan senyum tipis ia memperhatikan Abdillah...
"Hanya itukah? Hmm... Kukira kamu gelisah karena sudah tidak punya kata-kata romantik lagi,".
"Ckhhh... Aku bersyukur tuan... Barusan aku hanya ingin memahami lebih jauh pemikiranmu. Dan dari jawaban yang anda sampaikan, kurasa itu merupakan pertanda baik untuk hubungan pertalian kita kedepannya. Kalau tentang kata cinta, tuan jangan kuatir, soal syair dan puisi aku masih punya banyak. Dari Shakespeare, Dickens, Kahlil gibran ataupun Al-arabi, bahkan dari karya-karya mereka yang belum sempat dibukukan....".
Abdillah hanya tersenyum mendengar ceramah iklan dari setan.
***
Alhamdulillah ala kulli hal...
Dengan bantuan dari setan yang misterius, Abdillah mewujudkan
segala kekaguman, rasa rindu dan setiap gelisah kepada Ar-rahma bint Nasir
melalui tulisan-tulisan, syair serta gambaran cinta yang ia torehkan nyaris
setiap malam; berlembar-lembar hingga membentuk setumpuk kisah tentang harapan
yang bergelora.
Dan tidaklah rugi, nyatanya sang dewi memang menghargai hal ini. Tercermin dari kebaikan hati serta senyum-senyum indah yang ia berikan untuk Abdillah diwaktu-waktu kemudian.
Hari demi hari..... Malam demi malam....
Bahagia terajut dalam kebersamaan.
***
Dari awal hidupku,
belum pernah aku merasakan yang segila ini sebelumnya,
sampai aku bertemu engkau,
hingga aku berkesempatan menikmati senyummu yang menggetarkan...
sejak itu,
aku tak pernah punya keinginan lain
selain hanya ingin selalu melihatnya lagi.
~charles dickens
***
Bersama
berjalannya waktu, kesetiaan serta kesabaran tak terukur pada diri
Abdillah akhirnya mampu merubah dataran gersang menjadi bukit-bukit nan
hijau. Musim panas dan zaman ketandusan tergantikan oleh musim semi yang
kesegarannya akan abadi dalam ingatan. Di waktu ini, kebahagiaan
Abdillah mewujud sebagai bunga-bunga yang menghiasi sepanjang lembah di
selatan desa.
Inilah masa-masa yang penuh kerinduan,
Ketika
senyum dibalas senyum, salam dibalas salam dan syair serta puisi
dihargai dengan doa-do'a sejernih mutiara. Sementara canda dan tawa
seakan menjadi bingkai bagi kebersamaan yang hangat tersebut.
Sebab
dengan sayap-sayapnya yang bersinar, bidadari berkenan membawa Abdillah
terbang mengunjungi kebun-kebun bunga miliknya yang syahdu ditaman
syurga.
Dan meski tiada hati yang terbuka;
"Semua
yang ada disekelilingku, teman, lawan, keremangan digerbang masjid...
juga jalan besar ditengah desa yang setiap malam kulewati bersama Ibnu Sidik, telah mengerti sekaligus mempersaksikan bahwa telah terjadi cinta
diantara kami sekalipun rapuh. Sebuah ikatan semu yang sampai akhir
nanti mungkin tak akan pernah dia akui...".
***
Komentar
Posting Komentar