SANG SETAN, Bagian 6


'K U N I N G',
Itulah panggilan sayang Al-imam kepada Ar-rahma setiap mereka bertemu saat malam di masjid Cahaya, yang selalu dikala mendengarnya Abdillah merasa terbakar _bukan hanya karena cemburu, tetapi lebih dari padanya, Abdillah berfikir itu warna yang tak cocok disematkan pada gadis pujaan hatinya. Kuning itu warna yang terlalu biasa, terlampau terang dan terkesan panas tak menyiratkan keteduhan bagi yang memandang. Setidaknya, demikianlah yang ia yakini. 
 

Ia ingin protes, tapi terhenti oleh kesadaran akan ketiadaan haknya tentang itu.

Namun, seperti halnya malam dan siang yang bergantian diselimuti oleh angin dingin serta panasnya awan, begitupun juga dengan pertalian antara Ar-rahma dan Al-imam yang lebih banyak terdengar sebagai desas-desus. Setelah berpuluh hari, banyak mata dan telinga yang masih mengiringi jalinan tersebut dengan ketidak percayaan sehingga dapat dengan mudah merekam aroma konflik dalam hubungan aneh mereka yang dipicu oleh permasalahan sepele. Seperti karena Al-imam yang terlalu menggebu, mungkin karena Ar-rahma yang belum sepenuhnya dewasa, dan entah mungkin karna hal kecil lainnya.

Memang, senyatanya cinta keduanya telah menjadi keterkejutan dan bahan pertanyaan bukan hanya bagi Abdillah, tapi juga dalam lingkup pertemanan serta bagi teman-teman dekat Ar-rahma sendiri.

Hingga beberapa lama, masih banyak yang tak percaya Ar-rahma telah menerima Al-imam dalam hatinya.

Bagi Abdillah sendiri, fakta tersebut masih seperti mimpi, dimana ia selalu saja membantah terhadap setiap bisikan keyakinan dari hatinya yang _padahal_ telah inkrah. Beruntungnya, dalam hal ini dia tidak sendiri. Salah seorang sahabat dekat Ar-rahma sejatinya juga menyadari hal yang sama...

***

"Tapi benar kan, mereka sebenarnya jadian??"

SOLEHA mengulum senyum tipis mendapati pertanyaan Abdillah yang lebih terdengar seperti suara harapan yang retak. Ia sebenarnya paham dengan Abdillah yang sesungguhnya menginginkan sebuah penyangkalan, sebab dia sangat tahu; selain dengan Ibnu Sidik, hanya dengan dirinya-lah bocah itu telah terbuka tentang seluruh kegilaannya terhadap Ar-rahma. 

Dan sebagai remaja sepermainan yang tumbuh dewasa bersama, ia lumayan memahami Abdillah; 
Tentang ketakutanya pada kenyataan...
Juga tentang bagaimana kepedihan begitu jelas telah menamparnya dengan keras...

Tersenyum getir, Soleha mengernyit sembari menggigit bibir.

"Awalnya aku juga tak menyangka mereka benar-benar telah jadian, sebab Ar-rahma tidak pernah berkata ya. Tetapi dari ekspresi berbinar di rona wajah dan dari sikap dirinya ketika aku menyinggung mengenai itu, akhirnya kuyakini bahwa ini memang sudah terjadi,". 

Jawaban Soleha terdengar dramatik sembari ia mengaitkan dua jari telunjuknya sebagai isyarat, mengiring suara lirih perlahan setelah detik-detik yang lambat berlalu _ gaya bicara gadis itu yang lembut penuh keanggunan begitu serasi dengan senyum manis serta paras ayu alami yang telah Tuhan hadiahkan untuk ia miliki. Yang sayangnya, walau disampaikan dengan intonasi yang datar, kalimat tersebut langsung disambut dengan senyum kecut oleh Abdillah. Menenggelamkan keduanya dalam bermenit-menit kebisuan tak terjelaskan, membuat ruang tamu dirumah Soleha yang hanya diterangi oleh lampu semprong temaram itupun segera hening dicekam oleh sang sunyi, sepi.....

"Tapi itu sudah lebih sebulan yang lalu Abdillah..." Ia menambahkan beberapa saat kemudian.

"Maksudmu??" Abdillah mendongak _ melongo ia tak berkedip ke wajah Soleha.

"Baru kemarin kami berbicara lagi. Dan Ar-rahma tiba-tiba bercerita tentang segala kegelisahan dalam hubungan mereka yang baru berjalan beberapa bulan ini. Menurutnya, Dia merasa ada yang tak wajar dengan perasaannya kepada Al-imam. Ia malah bertanya padaku; Kenapa ia bisa jatuh cinta kepada lelaki itu? Bagaimana bisa mereka sampai jadian... Lebih jauh dia berkata; apa mungkin dirinya telah diguna-guna?".

"Hmm... Lebih sebulan yang lalu... Aku jadi sadar, rupanya kita sudah cukup lama tidak berbicara tentang dia ya... namun, bagian tentang guna-guna itu yang menurutku paling absurd. Aku jadi ingat, Ibnu sidik juga pernah menyinggung soal ini. Al-imam sangat terbuka dengannya, dia bilang Al-imam pernah berkata akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Ar-rahma".

Kali ini, ekspresi wajah Abdillah berubah aneh. Ia tampak mendekap bibirnya yang seperti hendak berontak; mendesak untuk memamerkan senyuman manis yang paling bengis. sementara Soleha yang sempat melirik dengan ujung mata malah segera membuang muka pada kegelapan dihalaman.

"Apakah kamu sedang senang? kamu berbahagia diatas penderitaan orang lain ya...? Itu sungguh tak baik Abdillah"

"Ya memang... Tapi aku bukan hanya sedang mentertawakan Al-imam. Justru lebih mentertawakan nasibku sendiri. Inilah yang kubilang absurd, menggelikan sekaligus konyol. Al-iman telah berusaha. Dia berhasil meskipun kemudian jatuh. Sementara aku...? Aku telah begitu sering bersimpuh dan menangis semalaman hanya untuk merayu bahkan terkadang sampai memaksa Tuhan agar Dia membukakan hati Ar-rahma untukku".

Abdillah meneruskan...

"Ar-rahma berfikir Al-imam telah melakukan hal tak wajar terhadap perasaannya. Lalu menurutmu apakah yang kulakukan selama ini wajar Soleha; ratusan malam aku bersujud dengan dada sesak hanya agar Tuhan sudi membuat dirinya peduli padaku??... Dan tetap, tak ada yang kudapat".

"Memangnya dia tahu kau menyukainya?"

"Ya!, dia seharusnya tahu dari caraku memandangnya,".

Soleha kembali mengulum bibir, menghirup nafas dari udara yang sepertinya kini telah bercampur dengan perihnya kebahagiaan Abdillah... Dan entah mengapa, mendengar kalimat-kalimat Abdillah yang lebih mirip lolongan binatang sekarat tersebut, ia jadi tak lagi tertarik untuk bersuara, hanya diam membisu, memainkan jari jemarinya di atas pangkuan_ sambil sesekali memandang sayu kepada Abdillah penuh rasa iba.

Sementara itu, waktu yang terus melaju membawa sang malam semakin merayap ke pukul sembilan. Abdillah segera menyadari bahwa ini adalah waktunya untuk pergi. Beranjak ia mengulurkan tangan untuk bersalaman kepada Soleha. Sembari nyengir ia menatap tak kedip pada bola-bola mata sang gadis yang bening berkilat.

"Maaf kemalaman, dan terimakasih lagi untuk malam ini Soleha. Ohya.. Seperti biasa epilognya masih sama, aku main begini ngga merepotkanmu kan??"

Soleha tak menyahut, disertai gelengan kecil dia hanya membalas dengan senyum manis dari bibir tebal yang selalu basah itu. Dan ini telah cukup bagi Abdillah; senyum sahabat peringan langkah-langkahnya dalam perjalanan pulang menyusuri jalur sunyi di Desa Kecil yang gelap berdebu. 

Anehnya, sepanjang jalan wajah Soleha kini tiba-tiba begitu mendominasi fikirannya. Dari penampilannya yang tenang, berbalut dengan tatapan mata pemalu serta gerak bibir yang berkilat bagai jernihnya air, ...silih bergantian dengan berita baik yang ia wartakan. Abdillah sebenarnya merasa bersalah juga terlalu melibatkan gadis itu dalam kekalutan hatinya karena Ar-rahma. Namun sulit dipungkiri, menjadikan Soleha sebagai setiap tumpahan kecamuk perasaannya, benar-benar telah memberikan kelegaan dan seperti meringankan dirinya dari teror ratusan malam yang mengerikan, hingga sungguh tak berlebihan jika dikatakan bahwa Soleha layaknya Ibnu sidik dalam versi perempuannya. 

Di lain sisi bagi Soleha sendiri, meski dalam keseharian gadis itu merupakan pribadi yang santun dan hanya bicara seperlunya, bersama Abdillah, Ia mampu terbuka bahkan tentang berbagai perasaannya yang paling dalam, tentang hidup, tentang masa depan, termasuk juga tentang ruang hatinya yang sejauh ini masih memilih sendiri; menolak setiap lelaki yang datang demi menawarkan hubungan.

***

Syahdan, 
Seiring dengan waktu yang cepat melesat, sungguh tak banyak yang berubah di Desa Kecil. Serupa halnya dengan keteguhan Abdillah yang tak pernah goyah meski terus diuji dengan pertemuan serta perpisahan yang datang silih berganti nyaris tanpa makna. Sehingganya, kekaguman tak masuk akal yang terus ia semai itu akhirnya mewujud dalam sebuah kutukan yang sepertinya telah sedemikian kuat melekat pada diri sang bocah; yakni penyembahan kepada cinta yang pedih. 

Ironisnya,
Dibandingkan pertemuan yang hanya seperti mimpi, perpisahan dan pengabaian yang sebenarnya tampak lebih nyata malah terlihat semu dimata Abdillah, dan tetap saja; semenit menatap Ar-rahma baginya terasa lebih istimewa dibanding segudang kenikmatan yang sering digambarkan para agamawan tentang istana surga. 
 
Sebuah kebodohan Abdillah yang paling fatal,
 
Ia merasa sudah sangat bahagia bila berkesempatan dapat bersama Ar-rahma _walau sesaat_ meski hanya berisi pembicaraan tanpa arti apapun. Dengan tak lelah membanggakan moment-moment semu tersebut kepada dirinya sendiri dibawah bayang-bayang pengharapan besarnya terhadap sang puteri pemilik hati.
 
Padahal, pilihan pada keadaan demikianlah yang sesungguhnya malah semakin menyuburkan absurdisme bukit-bukit kekagumannya pada Ar-rahma binti Nasir, menjadikan perasaan itu sebagai sebuah gunung kecintaan maha tinggi.
 
Dan inilah siksaan yang sebenar-benarnya bagi Abdillah.
Takhluk dibawah ambisi perasaannya sendiri akibat kutukan cinta selangit yang tanpa ia sadari telah membawanya merangkak begitu hina dibalik kilau pesona figur diri sang dara. Hingga menyeretnya dengan paksa sampai disuatu hari yang telah ditakdirkan...
 
Tiga tahun kemudian, Ramadhan ke - 21, Desember 2000.

***

Bedug maghrib masih sekitar duapuluh menit lagi, tapi suasana di masjid Cahaya tampak lain dari biasanya. Seluruh siswa sekolah agama dari yang terbesar hingga yang paling kecil _terkecuali Ibnu sidik_ telah lengkap berkumpul saling berkerumun sejak satu jam sebelumnya. Hari itu, dimasjid Cahaya diadakan acara buka puasa bersama dengan dikoordinir langsung oleh Pak guru Al-Fauzan, yang terlihat ikut sibuk membantu beberapa santri putri menyiapkan beraneka macam menu masakan ke serambi masjid. 

Sementara itu di area depan dekat gerbang masjid, sekelompok remaja santri juga terlihat asyik bercengkrama dengan berbagai gurauan mereka. Yang mana, diantara kelompok remaja tersebut tampak pula sosok sang dara jelita; Ar-Rahma binti Nasir dalam balutan t-shirt biru panjang berpadu dengan jilbab senada berwarna biru muda nan anggun, yang kala itu ia sedang pulang dalam libur panjang menyambut Lebaran.

Sebagaimana yang lain, Ar-rahma juga turut menceriakan suasana petang itu dengan cerita-cerita dari suara-khas, ber-iring senyum dan tawanya yang lepas. Dibusanai oleh kecantikan oase; pembingkai binar bola mata yang bergerak indah, ia seketika menjadi titik sentral dari keceriaan dipetang itu.

Namun, segalanya segera berubah bersama perubahan pada rona wajah si jelita yang tiba-tiba, disaat ia memandang ke jalanan _ dimana Abdillah yang selalu terlambat dengan gayannya yang apatis, melangkah gontai ke arah mereka.

Dalam beberapa detik tatapan teduh Ar-rahma tertaut pada si bocah yang segera menyadari keberadaan Ar-rahma disana. Abdillah seketika menjadi gugup dan balas memandang dengan senyum semampunya, sebelum akhirnya ia turut melebur dalam keasyikan kelompok tersebut.

Dan seperti yang dulu-dulu, setiap kali berada dekat dengan gadis pujaannya itu, penyakit-penyakit gila Abdillah kembali kambuh. Gugup, gemetar, debaran membuncah, serta tunduk takhluk berbaur dengan keringat dingin dan hawa sukacita yang mengalir terus, menyergap nyawa dalam tubuhnya yang kurus.

Akan tetapi jauh dibalik semuanya, Abdillah merasa jiwa - raganya bagai diterbangkan ke taman terindah, diantara langit biru dan bintang-gemintang kebahagiaan. Sungguh ini sesuatu yang teramat bermakna; layaknya tetes-tetes air terakhir setelah berpuluh-bulan dahaga cintanya terhadap Ar-rahma binti Nasir.
Sebab dipetang itu, nyatanya bergunung bahagia yang runtuh kepundaknya telah membuat si bocah Abdillah bertekuk lutut dibawah senyum dan perhatian Ar-rahma yang penuh sinar kasih mempesona.

Untuk kesekian kali - diantara obrolan dan guyonan-guyonan kecil - Ar-rahma masih sesekali memandang Abdillah penuh arti, dan tetap begitu seterusnya, saling beradu pandang dalam selimut dingin udara sore yang canggung... Abdillah berusaha terus balas memandang namun tetap saja kalah disaat sepasang mata bola yang sebening telaga itu menerjangnya. Seperti ada satu kekuatan tak terbatas ikut bersinar mengiringi sorot cahaya mata bintang Ar-rahma _ yang setajam pedang ! menghujam - mencabik-cabik hati Abdillah hingga hancur meski tak berdarah.

Bocah Abdillah sungguh tak percaya,
bahwa saat itu ruh-nya masih bersemayam dalam raga, karna setelah scene di gerbang masjid tersebut, berbagai hal yang selama ini menurutnya mustahil ternyata terus berlangsung terjadi sampai malam, 
Semacam kedekatan dan keakraban yang aneh,... Kaku!
Seperti saling mencuri pandang saat berbuka,
Seperti saat duduk berdua dan bercengkrama,
Atau ketika mereka sempat bernyanyi bersama diserambi masjid...
Hit me baby one more time!

Ditutup oleh kebaikan hati Pak guru Al-fauzan yang sudi mengakhiri musim surga Abdillah dihari itu dengan mengabadikan indah paras sang dewi bersamanya dalam sebentuk photo lanscape berbingkai; "malam di gerbang masjid".
 

Tak ada yang menawarkan diri, 
Tak ada yang berkata bahwa ini adalah hadiah untuk kerelaan Abdillah memuja Ar-rahma selama tiga tahun dengan imbalan duka.
Tak pula diakui bahwa yang terjadi adalah pernyataan dari cinta yang sedang tumbuh. 
Tidak ada!... Selain gunjingan manis disekeliling telinga yang mengikuti dihari-hari kemudian. Layaknya ada sebuah kuasa lain yang turut mengatur terjadinya moment-moment indah tersebut. Semacam campur tangan Tuhan, Dan sungguh tak berlebihan jika dikatakan demikian.
Sebab semua terjadi begitu saja dan alami... mengalir bagai jalannya air.

Satu hal yang pasti, 
Bagi Abdillah kini salju telah jatuh. Salju penyejuk hati yang laksana setetes embun dalam tiga tahun kegersangan hatinya. Dan sejak hari itu _ditandai oleh igauan semalaman_ dalam batinnya Abdillah telah menempatkan Ar-rahma bint Nasir sebagai seorang dewiratu layaknya sang...
'PUTRI BIRU'.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8