"Kudengar kamu sedang bahagia?".
Soleha bertanya dalam tone yang lirih kepada Abdillah ketika malam itu ia datang bersua bersama Ibnu Sidik yang sejak tadi hanya duduk diam mengumbar senyum tengil sambil khusyu menikmati sigaret ditangan kanan. Dan ini bukan pertama kalinya Ibnu Sidik bertingkah demikian setiap ia mendapati Abdillah dan Soleha begitu dekat; terlibat dalam obrolan yang karib.
"Iya, bahagia. Tapi aku juga teramat takut, Soleha",
"Kenapa?"
"Entahlah,
aku masih tak yakin ini seperti yang kufikirkan... Dia itu tipe wanita
penguasa. Harga dirinya demikian tinggi. Aku takut sekarang ini dia
hanya sedang mengikuti ego-nya saja".
"Tanpa perasaan samasekali, seorang perempuan tidak akan mampu sejauh itu, Abdillah".
Celetuk Soleha tetapi dengan pandangan mata yang entah kemana,
"Yang kudengar, wanita adalah makhluk paling misterius dan sulit ditebak. Kalian sesama perempuan, tolong tegaskan apa yang ingin kamu katakan... Mungkin bisa membuatku lebih memahami dia,".
"Ini cukup jelas, semestinya kamu mampu mengartikannya sendiri,"
Mendapati jawaban Soleha yang terdengar ketus, Abdillah hanya nyengir sembari melirik Ibnu Sidik yang masih berakting seperti cerobong pabrik; diam tapi berasap.
"Bagaimana kalau menurutmu, Ibnu sidik? Dari tadi kau hanya cengar-cengir saja,".
"Iya. Kalau menurutku dia juga menyukaimu,".
Ucapan Ibnu sidik sedemikian ringan tanpa beban tetapi seketika membuat ruangan itu sunyi. Abdillah tiba-tiba tertunduk disergap kecamuk perasaan resah. Sedang disaat yang sama, Soleha masih saja melemparkan pandangannya yang entah kemana.
"Aku sering berdo'a; semoga perasaan ini juga miliknya... Tentu indah andai aku diberikan jalan serta kesempatan untuk dapat bersama dia menghadapi masa depan dan mewujudkan mimpi. Sayangnya, seringkali hal-hal jarang terjadi seperti yang kita bayangkan, kawan".
***
"Kesunyian...
Hari-hari
tak pernah berhenti sedetikpun membawaku mengarungi gelombang yang
sungguh tak bersahabat ini. Dan diantara angkuhnya waktu, ternyata
kekagumanku tiada menjadi surut, sebaliknya jiwaku malah tenggelam lebih
dalam lagi tanpa aku mampu menolong diriku sendiri.
Sedang
didalam mimpiku semalam dan hari ini dihadapanku, cahaya mata masih
tersenyum. Sekarang lebih manis dari semua madu yang pernah kukecap
sepanjang hidup.
Kesunyian...
Namun
mengertikah? sesekali bidadari ternyata berubah menjadi panjang mengerikan dan dengan angkuhnya ia menyeringai
didepan wajahku yang kagum. Lidahnya membelai-belai, giginya yang
berbaris putih tiba-tiba menjadi taring yang setajam pisau
pada ujung-ujungnya.
Aku yang memang tak pernah bisa jauh, menyerahkan diri ini sepenuhnya, membiarkan dia mencabikku dengan senyuman.
Tololnya,
meski jiwaku memberontak - sedikitpun raga ini tiada menjerit untuk menahan
nafas kesakitanku. Malah, kuberikan bagian-bagian tubuhku yang lain
untuk dia lukai.
Begitulah segalanya berlangsung, sampai kemudian ular berubah kembali menjadi bidadari, mendekapku..., dan akupun sembuh.
Kesunyian...
Engkau
telah tahu, seperti itulah kebahagiaan yang kuyakini.
Biarlah! Tak kupeduli meskipun pedang-pedang tajam berebutan merobeki
kulit, meski duri dan paku menengadah di bawah tapak-tapak kaki, meski
bergunung-gunung penderitaan runtuh menimpaku.
Tetap saja,
Aku bertahan mengagumi demi setitik bahagia dalam luasnya samudera kepedihan ini".
***
Seorang
bijak pernah berkata; manusia tidak harus mendapatkan semua yang diingini, dan bahkan kehidupan ini pun sejatinya hanya untuk menunda kekalahan; sekedar menunggu kandasnya berbagai keinginan. Sebab setiap usaha kita, betapapun kerasnya, pada akhirnya tetap akan gagal, entah itu oleh kesialan, takdir yang tak berpihak, atau pada suatu pencapaian semu yang akhirnya akan membawa kita untuk menyerah juga pada terbatasnya umur.
Itu mungkin hanya satu petuah biasa nan usang yang nyatanya jarang sekali kita renungi.
Tapi bukankah memang demikian adanya dunia yang kita pijak? Dunia yang didalamnya ada begitu banyak fakta serta kebenaran yang sejatinya terletak tak cukup jauh, berbagai hal yang kita percaya akan berjalan seperti yang kita kehendaki, seringkali malah tak terjadi; berseberangan dengan segala yang kita harapkan. Padahal kita yakin; semestinya hal itu
mampu kita raih.
Lalu, sebagaimana kehinaan yang konon tercipta karena agungnya kemuliaan, bukankah bahagia terlahir oleh sebab hidupnya duka-sengsara?
Abdillah tak pernah menduga,
benih-benih ketakutan yang telah tumbuh dan meneror jiwanya sejak bertahun yang lalu itu, kini benar-benar mewujud dikala secercah harapan dalam hatinya sedang terasa nyata. Yakni ketika musim demi musim yang berubah, pada akhirnya merubah pula dengan paksa bukit-bukit
kebahagiaan yang telah hijau, menggantinya dengan dataran gersang tanpa belas
kasih.
Seperti ihwal yang kini coba Ia pahami tentang perasaannya terhadap Ar-rahma bint Nasir, saat kesialan itu tampil dalam setumpuk benteng perbedaan yang
menjulang dihadapan, begitu tinggi dan mustahil dapat dilalui... Sebuah benteng perbedaan berwajah kasta yang melahirkan dirinya sebagai manusia bodoh biasa tanpa pernah memberikan hak serta kesempatan untuk memenangkan hidup sekejap-pun;
Sebuah kelas.
***
Nyatanya, setelah malam anjangsana yang pertama tersebut, masih
sempat dua kali lagi Abdillah menemui Ar-rahma dirumahnya sebelum gadis itu
kembali ke Tanjung Banda demi meneruskan zaman masa pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Itu dipertengahan
Mei 2001, yang karena hebatnya ilmu _ perpisahan-pun harus berlaku.
Namun tak seperti yang dulu-dulu, kepergian Ar-rahma yang ini
sungguh meninggalkan bocah Abdillah dalam kekosongan pikiran hingga
menenggelamkannya dalam kubangan fantasi tak bertepi. Menciptakan hari-hari
penuh nestapa karena rindu membara yang terus ia seret bersama langkah demi
langkah yang tersaruk, menyusuri jalan panjang pengharapan besarnya terhadap
Ar-rahma bint Nasir yang terjal dan berdebu.
Sekali lagi, Ar-rahma mesti pergi mengejar cita-citanya ke
tempat yang jauh lebih sempurna dengan kali ini menjanjikan kepada Abdillah "suatu
pertemuan yang menyenangkan di bulan Juli mendatang" melalui sepucuk surat
yang ia titipkan pada Laila.
Sepucuk surat itulah; satu-satunya yang pernah ia berikan kepada
si bocah.
Sementara Abdillah sendiri, seperti biasa _ dengan tubuh dan
seragam lusuh serta sebuah buku kusut yang terselip disaku belakang, harus
kembali bergelut dengan Biologi dan Aljabar yang teramat sulit untuk bisa ia pahami;
seperti kegilaannya kepada Ar-rahma.
Sayangnya,
Dengan disaksikan oleh muramnya rembulan, kiranya pertemuan hanyalah mimpi dan khayal belaka. Sebab dari kepulangannya yang hanya dua atau tiga hari - dalam dua atau tiga bulan sekali, Ar-rahma bahkan tak pernah meluangkan dirinya untuk Masjid Cahaya yang sepi, apalagi hanya untuk seorang lelaki bodoh biasa seperti Abdillah.
Lalu setelah Ar-rahma pergi lagi, Abdillah baru menyadari bahwa disetiap kepulangannya, telah datang para pangeran, putera-putera bangsawan serta ahli agama yang mempersembahkan harta dan cinta kehadapan sang dara.
Abdillah mengerti sepenuhnya, mereka para putra dunia itu memang memiliki kesempatan sekaligus kemampuan yang jauh lebih besar untuk membahagiakan gadis pujaannya melebihi dari segala yang akan mampu dia berikan.
Dan Abdillah yang lemah, pada ujungnya lebih memilih untuk menerima keadaan dan kenyataan ini sekuatnya dengan terus mempertahankan perasaan cinta, kerinduan dan tarikan-tarikan nafas terakhir untuk Ar-rahma bint Nasir.
Memang beginilah dunia yang kita pijak, tempat dimana harta jauh lebih berkuasa dan dihargai mengalahkan beningnya airmata serta arti suci sebuah cinta sejati. Hingga mungkin tak berlebihan jika oscar wilde dengan sombongnya pernah mengatakan bahwa 'wanita menggambarkan kemenangan materi atas akal budi, persis seperti pria yang mewakili kemenangan akal budi atas materi'.
Tak ada yang salah. Barangkali inilah yang mesti terjadi;
Bahwa kehidupan ternyata memang tidak berjalan seperti yang Abdillah harapkan.
***
Didalam hatinya yang paling dalam, sesungguhnya Abdillah teramat takut untuk mengagumi, tetapi juga takut andai Ar-rahma pergi meninggalkannya. Segalanya terasa semakin berat saat musim berganti lagi dan berbagai peristiwa laknat diberlakukan, dimulai dari perubahan drastis sikap Ar-rahma yang mulai menjauhi, duka nestapa jatuh dari langit seperti hujan, bertubi-tubi menimpa tanpa mampu ia lawan.
Sampai pada klimaksnya, karena sebuah takdir kesialan yang tak mampu ditolak oleh Abdillah, Ar-rahma bint Nasir berdiri dipuncak kemurkaan dengan kebencian tak terbayangkan; melemparkan si bocah dengan satu sayapnya. Selanjutnya dengan cahaya api, bidadari itu membakar habis seluruh bukit yang telah hijau. Kebun-kebun, taman bunga, juga sungai-sungainya yang dahulu mengalir jernih dengan gemericiknya nan sentosa, kini gersang menganga bagai lembah neraka. Dan angin lembut yang telah bertahun-tahun menghidupi itu, kini
telah berubah menjadi badai api paling ganas yang dalam waktu singkat menghabisi segala hal yang
pernah Abdillah banggakan.
Lalu bersama kemarahannya yang masih membara, Binti Nasir pergi meninggalkan Abdillah dalam sergapan udara beku penuh abu, membiarkan bocah malang itu terkapar sekarat dan hanya mampu meratap berselimut gelap.
"Ruhku bergetar dikelilingi tangan-tangan kematian. Aku merasa tiada lagi yang tersisa biarpun hanya untuk berkata ; saya sangat menghormati Anda".
***
"Jangan ganggu aku lagi".
Entak Ar-rahma sembari menepiskan tangan Abdillah yang berusaha meraih pundaknya. Langkahnya sedemikian cepat seperti mengekpresikan rasa kesetanan, meski tetap saja itu tak secepat langkah-langkah kaki Abdillah yang terus mengikuti. Sementara di udara, angin malam terasa panas, jelas sekali terpanggang oleh hawa kemarahan.
"Ar-rahma, kenapa kau ini?! Katakan salahku...".
"Banyak sekali!" Jawab si gadis dengan nada suara begitu sinis.
"Puluhan fakta semu tentang dirimu yang selama ini membutakan perasaanku".
Ia menambahkan seraya berbalik dan menatap Abdillah dengan sorot mata berkilat. Tubuhnya yang sebenarnya ramping, kini telah berdiri tegak dan seolah berubah menjadi kokoh menjulang laksana sebatang pohon raksasa dihadapan Abdillah yang tiba-tiba kerdil - menggigil.
"Jadi apa yang selama ini terjadi...?". Suara Abdillah terdengar bergetar.
"Terserah. Itu hakmu untuk mengartikannya apa saja. Tapi sekarang yang ingin kukatakan padamu, jangan ganggu aku lagi!".
Habis sudah hasrat
Abdillah untuk berkata dikala setiap gerak bibir Ar-rahma telah menjelma
menjadi jarum-jarum yang menghujam jantungnya. Lalu yang tersisa hanya hening -
sepi menyeruak, mengiring sosok Ar-rahma yang kembali berbalik dan segera
beranjak menjauh tanpa menoleh selintaspun, meninggalkan Abdillah yang masih
beku membisu dihantam kenyataan yang menghancurkan.
***
Dan tengah
malam telah bergeser lagi cukup jauh.
Dengan berpayung sunyi Abdillah masih terkapar sendiri di jembatan dekat rumahnya - menunggu pagi dengan batin menangis disergap perasaan muntab meratapi
hampa kesuraman dihamparan langit yang tak berbintang. Bukan pada
Ar-rahma, tetapi ia marah lebih kepada nasib buruk dan kesialan
hidupnya.
Tak
seberapa jauh, setan tetap setia menemani meski sampai detik ini ia
belum berani bicara kepada Abdillah _sepatahpun_ sejak kejadian
memuakkan beberapa jam yang lalu.
Setan seperti paham,
Disaat sekarang, Abdullah tak butuh ceramah. Dia hanya perlu ditemani, itu saja.
"...Inikah akhirnya ...?"
Si bocah mengerang lirih, hal mana membuat setan seperti mendapatkan
kesempatannya, ia segera mendekat dan berbisik lembut ketelinga
Abdillah.
"Kkkkkhhh.....
Belum tuan. Ini belum separuhnya. Anda harus lebih tangguh lagi.
Didepan sana masih banyak duri dan kebahagiaan yang menanti, kuatkan lagi dirimu dan jangan menyerah".
Katanya penuh optimisme.
"Tapi
rasanya sekarang aku memang telah habis. Sebab saat tadi dia menepisku,
sepertinya dia tidak hanya marah, tapi juga sangat jijik kepadaku. Padahal aku menyentuhnya cuma ingin dia berhenti dan kami bicara
sebentar saja..., Apa salahku setan, mengapa dia ternyata tega berbuat sekejam
itu...".
"Tidak
ada yang salah tuan. Hanya perasaan Ar-rahma saja yang sedang berubah.
Seperti yang pernah kukatakan, Hatinya masih labil. Ada banyak
kepentingan yang sedang bermain disana, dalam hatinya".
"Ooo... kurasa kemelaratan ini telah mengantarkanku sampai ditepi jurang...".
"Tidak tuan, sumpah! aku berani mengatakan bahwa kisahmu dengannya belum tamat". Setan kini berjalan berjingkat lebih mendekat.
"Ternyata benar, cinta bukanlah sumber bahagia,"
"Itu memang benar. Namun ketiadaannya akan menimbulkan prahara yang jauh lebih besar, Kkkkhhhhhh......!!!".
Raungan setan terdengar melengking, dengan cepat menukas ucapan
Abdillah dan membuat si bocah yang telentang, berpaling sesaat padanya, sebelum
ia berguling lagi dengan tatapan nanar menembus suramnya langit malam. Jauh ke angkasa
raya.
"Sebatas sifatnya, cinta sering diartikan hanya sebagai suatu kesenangan, dan itulah yang
selalu melenakan bagi yang mengalami. Tetapi sebenarnya, sebagai sebuah
bangunan, dalam cinta juga terdapat bahagia dan nestapa, harapan serta perasaan kandas. Hal-hal ini jarang sekali disadari padahal juga
merupakan bagiannya".
"Setan.... Katakanlah manalagi yang lebih berat dari ini,"
"Ckkh!
Aku memahami betapa besar kesedihanmu. Bahkan akupun turut
merasakannya. Akan tetapi tuan harus mengerti, saat ini Ar-rahma juga sedang
menjalani takdirnya sendiri, seperti Anda,".
"Takdir...? Benarkah ini sebuah takdir...?"
"Tuan
percayalah, sesungguhnya tuan telah mendapatkan ruang yang baik
dihatinya. Aku tahu dari senyum-senyum yang ia lepaskan setiap kali ia
menikmati karya-karyamu. Dia pernah mengagumi tuan dalam
terbatasnya perasaan dia. Merindukanmu juga meski hanya sesekali. Hanya
saja, perasaan itu memang masih samar; pasang dan surut seperti air
ditepi laut".
"Ooohh
setan, jika semua yang kamu katakan itu sebuah kebenaran, tentunya
sekarang aku tidak akan merasakan perih yang menyesakkan ini....".
"Ckkkhhh!!!
Semua yang kuucapkan itu sebuah kebenaran, bersama waktu kita akan
membuktikannya. Tetapi tuan, mohon ijinkan kini aku bersaran..."
"Katakanlah"
"Tuan harus faham, sesungguhnya hati dibuat memang untuk dipatahkan, lalu disatukan lagi dengan kebesaran jiwa. Ia belum sempurna jika belum merasakan sakit karena cinta. Dan seorang lelaki yang memiliki cinta yang mudah, kupastikan ia tidak pernah memiliki kehidupan yang menarik. Sering kukatakan, jalanmu dengannya masih akan panjang. Ada tahun-tahun bahagia serta zaman kepedihan yang telah terbentang untuk dijalani. Kejadian saat ini sedang mengajarimu untuk menghadapi saat-saat itu. Aku-pun mengerti Ini
teramat buruk, tapi semua sudah terjadi.... Maka inilah kenyataan yang mesti
dihadapi. Menurutku, sebaiknya sekarang anda berhentilah dulu dan kembali pada
dirimu sendiri...".
"Maksudmu bagaimana setan..."
"Bayangkanlah, mungkin Ar-rahma sebenarnya sedang menjalankan peran-Nya demi menempa jiwamu. Renungkan kenapa dia yang melakukan itu. Bagaimana jika memang hanya dia yang mampu melakukannya? Apakah karena anda sedemikian kuat? Mari belajar mengerti bahwa isi
hati..., keinginan-keinginan dan kehendak Ar-rahma... itu semua diluar
kuasa kita. Faktanya, Anda tak akan mampu menentukan bagaimana hatinya
harus memilih dan memutuskan, kita tak bisa memaksanya untuk berbuat ini
atau menyetujui itu seperti yang kita inginkan...".
"Lalu apa...?"
"Untuk sementara mundurlah selangkah. Ckkkhh...!! Sayangilah diri
dan pedulikan kebahagiaanmu, juga orang-orang yang menyayangi anda. Hasrat-keinginan dan kehendakmu
itulah yang dalam kuasamu. Itu dapat dikendalikan jika
tuan sungguh-sungguh mau. Lihatlah Ar-rahma sebagaimana adanya, dengan segala
kelebihan dan juga kekurangannya, fahamilah betapa ia sangat baik..
tetapi juga bisa sebegitu kejamnya. Ar-rahma memang cantik, ia juga pintar.
ini seperti kombinasi yang sempurna sekali, tapi tetap saja dia itu
manusia biasa yang tak sempurna. Ego anda sajalah yang membuatnya tampak
demikian. Percayalah, andai anda mampu mengendalikan diri dari
keinginan-keinginanmu terhadapnya, maka seindah apapun yang terjadi
nanti; rasa bahagianya tidak akan berbeda dan setiap yang buruk tak akan
mampu menyakitimu hingga separah ini...".
Kalimat-kalimat
setan merasuk begitu dalam, hal mana membuat Abdillah seketika
terbungkam. Mentertawai diri sendiri dibalik suram malam dan kelamnya
hati...
"Iya...
itu terdengar indah dan mudah untuk didengar, tapi mana mungkin mampu
kulakukan. Bagiku Ar-rahma menghidupi raga... Melepaskan dia mungkin akan
menghancurkan aku sepenuhnya".
"Kkkhhh..!
Aku tidak memintamu menghapus Ar-rahma. Percayalah, melakukan itu juga
akan menyakitinya. Hatinya telah memberimu tempat. Namun ego-nya kini
sedang berwujud api, tak penting lagi untuk melawan. Kita akan kembali
berjuang dari kesempatan yang lain tuan,".
Abdillah menarik nafas berat seraya kembali berpaling kepada setan sesaat...
"Setan, lalu dalam ruang manakah dia menempatkan aku?".
"Ckhhh....!!!,
entahlah... Mungkin semacam ruang tersendiri yang istimewa. Tempat itu
teramat dalam dihatinya, aku tak mampu selami. Sekarang pulanglah, ini
hampir subuh. Aku janji aku akan berbuat lebih keras lagi meniupkan
hasrat dihatinya kepada tuan. Dan akan kubuat dia menyesali perlakuan
kejamnya barusan".
***
Bagaimanapun juga,
Hingga beberapa malam setelah malam pemusnahan tersebut Abdillah terkapar dalam
ketiadaan diri yang sudah tidak dapat ia rasakan lagi eksistensinya. Mungkin seperti
itulah… Mati layaknya para durjana dengan dosa-dosa tak berampun. Bagi si
bocah, ini benar-benar semacam hukuman maha pahit untuk seorang yang serapuh
dirinya.
Jiwa yang melayang menyeret makian, protes serta putusasa ke
angkasa Tuhan yang sepertinya tidak akan peduli karna kebrengsekannya selama
ini. Dan hati yang tercabik itu akhirnya hanya bisa bungkam disergap bertumpuk
duka paling hitam, tak tahu mesti bagaimana lagi.
Sebab semua telah berubah…
Sekarang, dunia ibarat jurang neraka yang Abdillah teramat takut
sekaligus muak untuk menapakinya, neraka yang menghabisi setiap harapan hingga hanya
menyisakan satu hal saja yang memenuhi syaraf-syaraf otak dikepala; kebencian
luarbiasa kepada hidup.
Komentar
Posting Komentar