SANG SETAN, Bagian 1



 
 
Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
 
Suatu ketika aku pernah bertanya kepada setan yang bijak,  
“Tuan setan, hal apa yang sepantasnya kita berikan kepada wanita yang sangat kita cintai?”  
“Dunia”. Jawab setan  
“Kalau tidak bisa?”  
“Korbankan nyawamu untuknya,”  
“Kalau dia tidak butuh?”  
“Keteguhan atas perasaanmu”.  
“Sudah kulakukan, tapi itu belum cukup meyakinkannya”.

Setan terdiam mendengar jawabku, kini ia menengadah ke langit - seperti sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu.  
Kemudian setelah beberapa saat lamanya ia-pun berkata;

“Tuan, aku telah hidup dalam berpuluh generasi manusia, dan aku tahu ada satu hal lagi yang sangat dihargai oleh para wanita sejati,”
“Apakah itu?” Tanyaku,
“Kisah yang bermakna”.


***

Sebuah pagi yang baru di tahun 1997,
Sebelum segala kemalasan akan aktifitas sekolahnya,
ABDILLAH menuliskannya kembali,
seperti yang kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi.
 

Dan hanya menuliskan, karena sekedar itu yang mampu ia lakukan. Tanpa ia tahu makna, tujuan, dan apa ini sebenarnya. Dari sebuah titik kecil, menjelma menjadi ribuan warna yang berputar dalam gerak lambat, kemudian membesar memenuhi udara dan sekali lagi berputar lebih cepat lalu mengerucut kian mengecil menghantam pusat kesadaran diotaknya. Menyergap pikiran dikepala hingga laksana menelan seutuhnya seluruh diri dari bocah itu.


Indahnya tak terperi, mencipta pusing serta kebingungan luarbiasa. Satu hal layaknya pusaran energi yang dalam waktu singkat mampu membangkitkan kagum yang aneh, juga perasaan gentar dan tak percaya dalam hati.
Membeku - mengeram dikepala sampai kenyataan benar-benar datang.

Akhir-akhir ini Abdillah baru menyadari,
Betapa sering dia ini mengunjunginya dalam tidur, belasan kali sebagaimana yang
telah terjadi sepanjang ratusan malam yang lewat.
Abdillah mengira, proyeksi warna itu seperti ingin mengatakan bahwa semua adalah pertanda, kelak, dia akan melihat dan merasakan sesuatu yang agung, sebuah asa cerah. Bahwa ia akan menemukan suatu kesejatian nun menakjubkan seperti itu di hari mendatang.

Atau mungkin,
hanya sekedar tanda perpisahan terhadap semua moment bahagia dari masa kanak-kanaknya.

'Mimpi Seribu Warna',
Demikianlah Abdillah menyebutnya. Sebuah mimpi asing berwujud gelombang spiral cahaya beribu-ribu warna yang telah datang belasan kali sejak ratusan malam yang lalu, dan itu, selalu saja mampu mengkandaskannya.


***

AR-RAHMA BINTI NASIR,
Adalah seorang gadis kecil paling terkasih - yang dengan senyuman madu ia membuka hari ceria yang dinantikan itu. Musim bunga nan terik, di tahun pertama dari masa-masa yang telah ditakdirkan, bertepatan dengan tahun ke-empatbelas ulang tahunnya.

Binti Nasir merupakan putri paling beruntung dari semua gadis di
DESA KECIL. Ini bukan hanya ditunjukkan oleh hiasan kecantikan di oval wajahnya, tapi lebih dari semua itu.... Ar-Rahma memiliki kehidupan sempurna, keinginan yang mewujud, mimpi-mimpi indah tentang masa depan, Ayah-Bunda penyayang dan saudara serta setiap orang yang senatiasa menatap dirinya dengan sinar kasih.

"Berbahagialah nak, lekas dewasa tambah cantik dan lebih pintar.... Semoga Allah merahmati sepanjang usiamu".
Ibunda memberikan kecupan kecil di dahi seraya menyerahkan satu bungkusan hadiah untuk sang buah hati. Sebuah T-shirt bergambar si burung pintar Tweety, karakter yang telah menjadi kesukaanya semenjak dahulu.

Seterusnya, ditutup dengan sebuah do'a pendek,
Sang bunda menyudahi acara yang tanpa pesta tersebut. Hanya dengan sebuah syukuran biasa dan sederhana.
Satu ciri khusus dari keluarga Nasir yang amat kaya.


*** 
 
Hari-hari melelahkan bersama musim yang tak menentu. Sang surya merangkak dengan segala keangkuhan melewati singgasananya yang tertinggi. Tajam menatap buas, hingga tak sejengkalpun daratan yang luput dari sinarnya yang membakar.

Sebuah absolutisme alam yang bagai melambangkan satu sistem power dengan egoisme tak terbatas; ketika dibeberapa tempat, hamburan debu pekat terlihat mengamuk menutupi pemandangan _ sewaktu sekawanan angin mengusik melewati mereka.
Dan inilah potret tersendiri dari Desa Kecil yang lebih mirip sebuah ironi kehidupan. Dikala angin, debu serta panas ini seperti tak peduli bahwa mereka sedang berpesta dimusim bunga yang bukan miliknya,
Maret dihari ke-22 yang semestinya masih segar.


*** 
 
Sementara itu di Selatan, terik matahari juga belum terkalahkan, hanya bedanya, ditempat ini roda kehidupan masih berputar seperti adanya.

Dalam lanskap hamparan hijau padang rumput di atas tanah persawahan yang terbengkalai, puluhan hewan ternak tampak khusyuk_ bebas memilih hidangan yang mereka inginkan. Sedang diantara hewan-hewan yang sibuk itu, beberapa penggembala yang sebagian masih kanak-kanak dan sebagian lagi tengah beranjak remaja terlihat bercanda dan tertawa lepas, berlari-lari kecil, berkejaran, bermain perang, duduk di atas punggung ternak yang sedang merumput, hingga ada yang asyik berendam dalam kubangan rawa-rawa yang banyak terdapat disana.

Kecuali seorang saja.

Tak seberapa jauh di bawah sebuah pohon liar yang tumbuh sendirian, seorang bocah bersandar dengan tatapan kosong bersama sorot matanya jauh melewati aneka keriuhan dari gembala dan teman-temannya.
Sebuah tatapan tanpa arti yang kemudian terhempas pada hamparan ladang-ladang jagung yang pucat menghijau dikejauhan.

Badannya yang kurus,
Seperti melukiskan sebuah penderitaan hidup yang terus-menerus.



"Hei Abdillah, ayo turun merumput dan kita nikmati kegembiraan seperti kemarin !"
Sebuah suara sengau dari belakang tiba-tiba menyadarkan si bocah Abdillah dari kebisuan. Ia menoleh, dan tersenyum setengah memaksa setelah tahu siapa yang datang.

Dialah
IBNU SIDIK,
Seorang remaja berusia tiga tahun diatas Abdillah yang sejauh ini merupakan karib paling jujur dan sangat ia percaya,

"Duduklah dulu teman,.... dan ayo bicara padaku tentang apa saja".
Kata Abdillah dengan nada merajuk, menyambut sahabatnya tersebut.
"Tidak, menurutku kamulah yang harus bicara... "
Ibnu Sidik menukas, duduk disisi lalu ikut menerawang sejenak, sebelum ia kembali berucap;
"Berbagilah... atau tinggalkan saja masalahmu. Kamu pernah bilang, kita ini adalah karib yang telah sama-sama percaya, selama ini kita bisa saling mengerti sebagaimana satu dengan yang lain. Tapi sekarang, aku tak tahu lagi, bagaimana hari-hari belakangan ini merubahmu dan membawa pergi kerianganmu,".

Abdillah terhenyak dan menoleh sekali lagi mendapati rangkaian kalimat yang begitu dalam tersebut. Ia tak menyangka sama sekali kalimat-kalimat itu keluar dari lisan seorang teman yang selama ini ia anggap sedemikian polosnya. Ditatapnya Ibnu Sidik yang segera membalas lebih tajam.

"Teman, kau mungkin keliru. Perubahan apa?!" 
Sergah Abdillah sambil kembali membuang pandangan kepada ladang-ladang jagung nun jauh. Tanpa ekspresi dan rona sekilaspun.

"Kita telah berbagi sebagian besar dari cerita hidup kita",
Ibnu Sidik melanjutkan.
"Hari ini adalah hari baru kudapati engkau bersembunyi dari keriangan yang dahulu juga milikmu. Kemarin, aku telah melihatmu tersenyum kepada angin... lalu kudengar hela nafasmu yang seberat batu karang. Bicaralah!, Ada apa sebenarnya??".

Ibnu Sidik merebahkan tubuhnya di rerumputan saat jemari Abdullah mencengkeram pundaknya diiringi desah tertahan. Selanjutnya, hening menyeruak hingga bermenit-menit...

"Ibnu Sidik, mungkin engkau benar. Aku tak akan mengelak lagi. Tapi bagaimana aku mesti menjelaskan. Sebab kini, akupun sedang bingung dengan yang kualami. Saat kita sedang berbaringan disini sekarang-pun, aku juga sebenarnya sedang mencari jawab dari segala kegelisahan seperti yang engkau katakan..... Aku bertanya kepada padang rumput, angin yang berhembus ini, pada ladang jagung yang sepertinya akan gagal panen itu, bahkan kepada semua yang dihadapanku. Tapi semuanya hanya menjawab bisu".

Abdillah berhenti sesaat, meremas lebih kuat dan membuat Ibnu Sidik kembali terduduk.

"Semua ini, terasa seperti keinginan-keinginan yang terus memaksa menyeret langkahku untuk menapaki jalan yang tak kukenal arah dan tujuannya. Entah kemana akan membawaku pergi, aku tak mengerti sama sekali."
Jawaban Abdillah terdengar pekat ditelinga Ibnu Sidik, membuatnya tak berhasrat lagi untuk berkata-kata. Saat ini, tatapannya malah ikut terbang jauh ke ladang-ladang jagung mengekori sorot mata Abdillah yang hampa.

Di langit, sang penguasa hari makin jauh tergelincir dari pusatnya. Seiring hembusan angin padang yang datang bergelombang menggoyang pohon liar yang tumbuh sendirian tersebut, dimana dua sahabat masih duduk berdamping dalam keheningan yang sama coba mereka sibak.
Begitu syahdu, seperti tak peduli,
Bahwa senja telah bersua.

***

Selepas mahgrib, Abdillah mengabaikan lagi jam pelajaran sekolah agama di
MASJID CAHAYA dan malah memasuki kamarnya yang pengap, sumpek dengan penerangan seadanya yang bersumber dari lampu minyak dari ruang tamu. Tubuhnya yang tampak lusuh kemudian berbaring menenggelamkan diri kedalam sunyi yang tak terjelaskan.

Memang demikian yang bocah itu inginkan, sejak perpuluh malam yang lalu.
Kecuali sedang menuliskan segala isi fikiran, Abdillah _belakangan ini_ lebih memilih bersatu dengan gelap-kesuraman kamar tanpa lampu penerang. Dan terus begitu, hingga Isya' telah berlalu.
Di saat ini, isi otaknya masih sama, berbicara tentang kegundahan yang ternyata juga telah mengusik risau dihati Ibnu Sidik.

Mendesak... menggumpal.....

"Okkh!"
Abdillah mendelik dengan nafas yang seakan tercekik ditenggorokan. Semua kegelisahan dalam benak lenyap seketika saat sesosok bayangan gelap tahu-tahu telah terbentuk di sudut kesuraman kamar dan seolah bangkit perlahan, bergerak mendatang ke dirinya. 

 

Yang paling gila, Entah bagaimana mulanya sehingga muncul kesadaran ini, tiba-tiba ia seperti memiliki perasaan, bahwa bayangan tersebut sebenarnya telah lama mengamati dirinya sejak tadi.

 

Seketika, ada kekosongan dikepala dalam beberapa detik, seiring bentuk misterius itu yang semakin dekat, berjalan seperti mengendap. 

Anehnya, kian dekat, siluet tersebut bukannya semakin jelas,  tetapi malah makin hilang memudar membentuk bayangan tipis, hingga akhirnya ia benar-benar sirna, pudar menyatu dengan warna suram dalam keremangan kamar.

 

Abdillah yang terbaring lemas, hanya bisa pasrah terpejam, meski dalam hati ia terus memaksa segenap gejolak bathinnya untuk diam.




***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 2

SANG SETAN, Bagian 8