SANG SETAN, Bagian 2

“Dewi... Ini malam ke limapuluhsatu sejak aku memandangmu di selatan pada senja hari yang terik itu...

“Engkau datang bersama hembusan angin dan memaku ragaku dalam kagum yang menakjubkan. Cahaya laksana mutiara meredupkan sinar sang surya yang kalah tersipu oleh hadirmu. Aku berharap semua tak nyata, namun apa daya kini aku tak berdaya.
Sebab, telaga di bola matamu seperti cermin yang membiaskan setiap warna diseluruh padang, semua memudar malu, menyatu dalam gaun merah marun yang menyembunyikan anggun tubuhmu dibaliknya.
Mungkin merupakan suatu keniscayaan jika semua ini terjadi. Ketika alam-pun ikut menjadi bodoh! 
Seperti tololnya keadaanku sewaktu ikut larut mengagumimu.
 
Dewi,
bersama hembusan angin terik dari senja hari itu, ingatan tentangmu memompa jantungku lebih kuat dari biasanya sehingga kini sungguh tak bernada lagi.
Dan malam ini.... 
Jiwaku sungguh tak menentu dikala waktu menjebakku dalam udara yang penuh gambarmu”.
 
***
 
Hari tersadar oleh adzan subuh yang bergema bersahutan. Abdillah melipat kembali lembaran-lembaran kertas lusuh teracak di atas meja kecil dekat pembaringan dalam kamarnya yang berantakan dan penuh sarang laba-laba, catatan harian yang belum sempat ia rapikan karna semalam ia terlanjur lelap duluan.

Lembar-lembar seperti dokumen kuno yang dahulu hanya terisi oleh tulisan-tulisan tentang keceriaan berbagai kesukaan, harapan serta cita-citanya dihari depan - serta setumpuk rahasia dari serangkaian mimpi penuh warna yang telah mendatanginya belasan kali.

Kini.... Sebuah kegundahan besar telah menggantikan tulisan-tulisan provokatif tentang masa-masa indah hari kemarin itu, bahkan sebelum mimpi seribu warna benar-benar mampu ia terjemahkan.

***

Pagi kembali datang bersama kicau burung-burung pembuka hari, menebarkan janji-janji kebahagiaan keseluruh penjuru Desa Kecil. Sang fajar yang mulanya terlihat malu, sekarang telah tampil dalam wujud kesempurnaan, menerobos dengan gagah wibawa; benteng pepohonan di batas desa.

Abdillah melangkah keluar dari rumahnya yang sederhana, berpamitan dengan Bapak dan Emak yang juga akan segera pergi untuk menggarap ladang jagung mereka.
Si bocah sendiri, hanya dengan berbekal sebuah buku lusuh terlipat yang terselip disaku belakang, berjalan gontai bagai tanpa keyakinan untuk mengikuti sekolah rutin harian di lembaga resmi pemerintah, bergelut dengan biologi, ilmu ukur dan Aljabar yang menurutnya sangat memuakkan, karena terlampau sulit untuk bisa ia pahami.

***
 
Malam harinya, Abdillah, Ibnu Sidik dan banyak teman-teman sepermainannya yang lain _ terbiasa aktif mengikuti sekolah agama dalam sesi pelajaran spiritual mereka.
Masjid Cahaya adalah satu dari sekian banyak sekolah agama yang menjamur di Desa Kecil. Hanya saja, yang membuat sekolah ini berbeda dengan sekolah agama yang lain adalah; konon Masjid Cahaya merupakan masjid tertua yang sehingganya menjadi yang pertama sebagai titik tolak pencerahan dalam bidang dasar-dasar kerohanian di Desa Kecil.

"Masih ingatkah kapan tepatnya engkau merasa dirimu telah berubah?".
Ibnu Sidik berucap lirih pada Abdillah ketika mereka tengah melewati halaman masjid setelah pelajaran usai. Suaranya serasa dipaksakan.
Abdillah tak segera menyahut, ia hanya tiba-tiba berhenti dan sekilas ditatapnya Ibnu Sidik sebelum kemudian ia kembali berjalan. Ibnu Sidik sesaat membisu, menyalakan sejenak sebatang sigaret ditangan lalu bergegas kembali melangkah mengejar sahabatnya yang telah mulai menyibak gelap-kesuraman jalan menuju pulang.

Dibalik remang malam itu, kini mereka berdua berjalan beriring menembus dingin udara menapaki jalanan didepan masjid Cahaya yang mengarah langsung ke jalan besar yang terletak ditengah desa. Sementara dibelakang, sayup terdengar keriuhan kecil dari siswa-siswa yang lain.

"Ibnu Sidik,.." 
Abdillah berucap seberat kelesuan dikedua kaki, meniup gumpalan-gumpalan asap dari sigaret sang teman yang menerpa wajahnya.
"Bagaimana kamu berfikir bahwa aku telah berubah?".
"Seperti itulah. Dulu kamu temanku yang paling banyak omong. Tapi berpuluh hari yang lewat aku melihatmu terdiam dalam kesendirian, tatapan hampa, tarikan nafas berat hingga senyum-senyum yang engkau lepaskan entah untuk siapa... Sebenarnya, ini suatu perubahan atau kalau bukan aku tak tahu apa namanya".
 
"Andai itu benar, sungguh kau ingin tahu sejak kapan?"
"Perlukah aku bertanya lagi?"
 
Abdillah terdengar menghela nafas panjang setelah Ibnu Sidik bertanya balik. Ia kini seolah sedang bersiap untuk melakukan sebuah tugas berat.
 
"Sepertimu juga teman, akupun lupa menghitung hari. Namun yang masih  jelas kuingat semua ini berawal sejak Ar-rahma binti Nasir dengan gaun merah marunnya mendatangi padang rumput tempat kita menggembala di Selatan".
" Oh, Dia?!"
Ibnu Sidik tiba-tiba seperti tersedak.
"Iya..... Waktu itu dia mencari adiknya".

"Abdillah, dia adalah gadis yang disayangi semua orang. Apa kamu bermasalah dengannya?".
Ibnu Sidik berhenti sejenak. Ditatapnya lekat wajah Abdillah yang menyala tersinar lampu kendaraan di kejauhan. Ia mengejar bersama cemas dan rasa penasaran yang dalam. Begitu lugu.

"Tak seburuk dugaanmu. Hanya saja... hari itu aku merasa seperti baru pertama kali melihat dia. Tiba-tiba ada perasaan aneh pada diriku sendiri."
"Aneh?? Maksudmu bagaimana?"
"Inilah yang tak mampu kujelaskan kepada engkau kawan.."
Abdillah menunduk, pandangannya menerjang kepulan debu tipis yang mengiringi langkah kaki mereka. 
"Sebab sedikitpun aku juga tak mengerti apa yang sedang ku alami..... Tapi sudahlah Ibnu Sidik, sebaiknya kita lupakan saja soalan ini. Jangan sampai kamu juga ikut menjadi bingung seperti aku."
 

Detik berlalu. Dua bocah yang sedang beranjak remaja tersebut kini sama terdiam. Yang terdengar kemudian hanya serak suara langkah-langkah kaki mereka yang sekarang telah menapaki jalan besar ditengah Desa Kecil. 
Inilah jalan utama; jalan panjang yang membelah Desa Kecil membujur dari Barat ke Timur.
Dan Ibnu Sidik megumpat keras, ketika sebuah truk melintas cepat dari arah berlawanan. Meninggalkan debu tebal yang segera menyergap keduanya.

***
 

Sebuah jembatan dengan dudukan bersisian di perempatan jalan dekat rumah Abdillah adalah satu tempat favorit yang sering digunakan oleh dua sahabat untuk bersama menikmati agungnya malam. Di udara, beberapa kalelawar berkelebatan di atas kepala dengan suara ringkik dan kepak sayapnya yang khas seperti menyambut kedatangan mereka.

"Kau tahu dimana dia sekarang?"
Pertanyaan Ibnu Sidik yang tiba-tiba membuat Abdillah terhenyak.
 
"Dia siapa?"
 
"Binti Nasir. Hampir setengah bulan ini aku tidak melihatnya mengikuti sekolah agama,".
 
"Yang kudengar, sekarang dia sekolah di Tanjung Banda. Sebagai ibukota provinsi, kabarnya disana ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju". Jawab Abdillah sembari merebahkan diri telentang di atas tempat duduk jembatan.
"Tak percuma. Dia pintar dan bapaknya kaya raya. Dia pasti akan menjadi orang yang beruntung".

Abdillah tak menanggapi ucapan Ibnu Sidik barusan. Matanya hanya menatap jauh berusaha menembus kelamnya malam, melewati ribuan kerlip kecil yang tersebar di semesta langit.

"Abdillah, tadi kamu berkata bahwa kamu juga tiada mengerti dengan yang terjadi. Jika kalian memang tidak sedang saling bermusuhan, lalu menurutmu apa hubungan antara Ar-rahma dengan keadaannmu sekarang?"
"Lupakanlah soalan itu kawan. Ceritakan saja tentang kegembiraanmu seharian tadi. Juga.... tentang hobi kebiasaan barumu ini.. Semakin hari, kulihat kau semakin mirip dengan cerobong asap berjalan...."

Abdillah mencoba tersenyum, meski urat-urat syaraf diotaknya yang ruwet sesungguhnya tengah mencerna ucapan sang teman. Terus mencari jawab atas sebuah pertanyaan yang dia yakin tanpa satupun penjelasan logis, Sembari ekor matanya lekat melirik sigaret ditangan Ibnu Sidik yang hanya menanggapi dengan tawa lebar namun tanpa suara...

Sementara itu, jalan besar ditengah desa telah sedemikian sunyi. Tak ada seorangpun yang terlihat melintas. Dari rumah-rumah penduduk-pun, sedikit sekali lampu-lampu minyak yang masih menyala, redup.

***

Malam telah sampai pada pekatnya yang tertinggi. 

Sekitar lima menit setelah kepulangan Ibnu Sidik, Abdillah bangkit dari rebah dan berjalan malas kerumahnya, meninggalkan jembatan diperempatan jalan yang mungkin telah bosan karena telah bertahun-tahun ini menjadi pelabuhan bagi kedua bocah untuk mengadu dan menikmati malam.

Namun, ketika baru saja hendak memasuki muka halaman, langkah Abdillah seketika terhenti seiring kedua kaki yang tiba-tiba kaku membeku.

Genggamannya kuat meremas diringi gerak bibir yang gemeretak terkatup rapat. Sedangkan mata yang telah sayu kini dipaksa lagi membelalak oleh keterkejutan serta rasa gentar. 

Membuat letih, ngantuk dan kegundahan hatinya sirna tiba-tiba.

"Astaga..."

Abdillah mendesis dengan suara yang tertahan ditenggorokan. Cukup lama matanya tak berkedip bagai takut kehilangan sedetikpun dari moment tersebut. Sebab meski remang - suram mencekam, masih mampu dengan jelas ia lihat sesosok bayangan seputih perak yang berjalan berjingkat-jingkat hingga kemudian berhenti tepat di depan pintu rumah; seperti hendak menghadang langkah.

 

Keringat dingin mulai membasah. 

Setelah beberapa detik lamanya, Abdillah menguatkan diri, memusatkan keberanian demi menyadarkan matinya syaraf dikedua kaki dan perlahan mulai melangkah mendekat.

Sampai keanehan kembali muncul, seperti yang pernah terjadi. 

Semakin ia dekat, bayangan putih perak yang cenderung kelabu tersebut malah kian memudar, lalu buyar... memadu dengan warna suram disekitar halaman.

Dan itu benar-benar sirna sewaktu Abdillah kini telah berdiri tegak didepan pintu.


***
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANG SETAN, Bagian 7

SANG SETAN, Bagian 8