SANG SETAN, Bagian 2
“Dewi... Ini malam ke limapuluhsatu sejak aku memandangmu di selatan pada senja hari yang terik itu... “Engkau datang bersama hembusan angin dan memaku ragaku dalam kagum yang menakjubkan. Cahaya laksana mutiara meredupkan sinar sang surya yang kalah tersipu oleh hadirmu. Aku berharap semua tak nyata, namun apa daya kini aku tak berdaya. Sebab, telaga di bola matamu seperti cermin yang membiaskan setiap warna diseluruh padang, semua memudar malu, menyatu dalam gaun merah marun yang menyembunyikan anggun tubuhmu dibaliknya. Mungkin merupakan suatu keniscayaan jika semua ini terjadi. Ketika alam-pun ikut menjadi bodoh! Seperti tololnya keadaanku sewaktu ikut larut mengagumimu. Dewi, bersama hembusan angin terik dari senja hari itu, ingatan tentangmu memompa jantungku lebih kuat dari biasanya sehingga kini sungguh tak bernada lagi. Dan malam ini.... Jiwaku sungguh tak menentu dikala waktu menjebakku dalam udara yang penuh gambarmu”. *** Hari tersad...